TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Krisis memori yang memukul industri smartphone global kini memasuki babak paling brutal. TrendForce melaporkan pada 14 Mei bahwa harga kontrak mobile DRAM di Q2 2026 melonjak hingga 83%, dengan LPDDR4X naik 70–75% dan LPDDR5X menembus angka 78–83% secara kuartal ke kuartal — kenaikan beruntun yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah industri semikonduktor konsumen.
Pemicu utamanya bukan siklus permintaan biasa. Server AI terus menyedot kapasitas produksi wafer dari segmen smartphone, memaksa merek-merek besar merevisi target produksi 2026 ke bawah, bahkan berpotensi gagal memenuhi volume pembelian yang telah disepakati dalam Long-Term Agreement (LTA) dengan pemasok. Samsung dan Micron tercatat sebagai yang pertama mengeluarkan kuota harga resmi, sementara SK hynix dan CXMT masih dalam tahap negosiasi akhir yang dijadwalkan rampung akhir Mei ini.
Harga kontrak LPDDR5 yang sebelumnya berada di kisaran $10 per gigabyte — setara sekitar Rp163.000/GB — kini berpotensi menembus $20 per GB atau sekitar Rp326.000/GB pada akhir Q2, bahkan sejumlah produsen dilaporkan telah menandatangani perjanjian pasokan jangka panjang di harga hingga $21/GB, mengacu pada data SemiAnalysis yang dikutip Phandroid.
Dampak langsungnya menerpa seluruh lini produk konsumen. TrendForce memproyeksikan produksi smartphone global 2026 turun 10% secara tahunan menjadi sekitar 1,135 miliar unit, dengan skenario pesimistis yang bisa memperlebar penurunan hingga 15% atau lebih. Konfigurasi memori 8GB+256GB yang umum di kelas menengah tercatat harganya sudah naik hampir 200% dibandingkan Q1 2025.
Gartner memproyeksikan harga PC naik 17% dan smartphone naik 13% hingga akhir 2026 dibandingkan level 2025, sementara analis senior Gartner Ranjit Atwal menyebut kontraksi pengiriman perangkat ini sebagai yang paling tajam dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Merek-merek Android kelas menengah-bawah berada di garis terdepan tekanan ini. TrendForce menyatakan merek-merek Android yang mengandalkan segmen mid-to-low-end terpaksa menaikkan harga peluncuran model baru 2026 sekaligus memodifikasi siklus hidup produk lama untuk menekan kerugian. Xiaomi bahkan sebelumnya telah memperingatkan publik bahwa tekanan biaya memori akan mendorong kenaikan harga jual produknya.
TrendForce menekankan bahwa ke depan, merek smartphone harus mengoptimalkan kebutuhan memori di level perangkat lunak dan arsitektur sistem demi mempertahankan ketahanan operasional di tengah himpitan biaya yang terus mendaki dan permintaan pasar akhir yang justru melunak.
Tanpa sinyal kapasitas produksi baru yang signifikan sebelum 2027–2028, era smartphone murah dengan spesifikasi RAM besar kemungkinan besar sudah berakhir untuk sementara waktu.