NASIONAL, Perspektif.co.id — Krisis pasokan energi kembali menghantam Indonesia setelah stok batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton, fasilitas pembangkit terbesar di Asia Tenggara, dilaporkan menipis drastis hingga hanya cukup untuk beroperasi dalam hitungan hari. Situasi ini muncul ketika permintaan listrik nasional meningkat dan kontrak pasokan dari sejumlah pemasok utama belum terpenuhi sepenuhnya.
Dalam laporan terbaru, PLN mengungkap telah mengamankan kontrak 84 juta ton batu bara dari delapan pemasok besar. Namun dua pembangkit besar di Jawa Tengah hanya memiliki cadangan untuk sekitar 10 hari operasi, memicu kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan listrik di wilayah padat industri.
Sumber internal Paiton Energy menyebut pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi penyebab utama berkurangnya volume pasokan yang seharusnya diterima tahun ini.
“Kontrak yang tersedia baru sekitar 6,7 juta ton dari kebutuhan 9 juta ton,” ujar Chief Financial Officer Paiton Energy, dikutip dari laporan industri.
Kondisi ini diperparah oleh lambatnya respons pemerintah dalam menerbitkan konfirmasi tertulis terkait kuota produksi batu bara. Asosiasi pembangkit listrik swasta menyatakan bahwa pemasok menahan pengiriman karena belum menerima dokumen resmi yang menjadi dasar legal distribusi.
“Pemasok masih menunggu kepastian tertulis dari pemerintah sebelum mengirim tambahan pasokan,” ungkap perwakilan asosiasi tersebut.
Di sisi lain, PLN Energy Primary Indonesia (PLN EPI) tengah mendorong peningkatan penggunaan biomassa sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara. Paiton, yang memiliki kapasitas 4,71 GW, ditargetkan meningkatkan konsumsi biomassa hingga 259.581 ton pada 2024—naik hampir 60% dibanding tahun sebelumnya—meski langkah ini belum cukup untuk menutup defisit pasokan batu bara dalam jangka pendek.
Ketidakpastian pasokan energi ini muncul di tengah meningkatnya tekanan global terhadap Indonesia untuk mempercepat transisi energi. Komunitas internasional dan kelompok lingkungan menilai ketergantungan pada batu bara membuat sistem energi nasional rentan terhadap fluktuasi pasar dan risiko iklim.
“Krisis ini menunjukkan betapa rapuhnya ketergantungan pada batu bara,” kata seorang analis energi Asia dalam laporan terpisah.
Hingga kini, pemerintah belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah mitigasi jangka pendek untuk memastikan pasokan batu bara ke Paiton dan pembangkit besar lainnya tetap stabil. Namun pelaku industri memperingatkan bahwa keterlambatan lebih lanjut dapat memicu risiko pemadaman di beberapa wilayah strategis.