01 March 2026, 15:34

Khamenei Tewas, Reza Pahlavi Serukan Rakyat Iran Turun ke Jalan: ‘Republik Islam Berakhir!’

Putra mahkota dari shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, angkat bicara menyusul kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,573
Khamenei Tewas, Reza Pahlavi Serukan Rakyat Iran Turun ke Jalan: ‘Republik Islam Berakhir!’
Reza Pahlavi (Foto: REUTERS/Abdul Saboor)

Perspektif.co.id - Putra mahkota dari shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, angkat bicara menyusul kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Dari pengasingannya di Los Angeles, Amerika Serikat, Pahlavi menyampaikan pernyataan keras yang menilai kematian Khamenei sebagai titik balik besar dalam sejarah politik Iran dan menyerukan rakyat bersiap menghadapi perubahan.

Mengutip laporan New York Post dan pernyataan yang diunggah melalui akun resmi X miliknya pada Minggu (1/3/2026), Pahlavi merespons laporan bahwa Khamenei tewas setelah serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dalam unggahannya, ia menggunakan analogi tajam terhadap sosok yang selama ini memimpin Republik Islam tersebut.

“Zahhak yang haus darah di zaman kita, pembunuh puluhan ribu putra dan putri Iran yang paling berani, telah dihapus dari halaman sejarah. Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah,” tulis Pahlavi.

Menurutnya, setiap upaya rezim untuk menunjuk pengganti Khamenei dipastikan tidak akan memperoleh legitimasi di mata rakyat. Ia menilai figur mana pun yang diangkat untuk melanjutkan kepemimpinan akan tetap terasosiasi dengan struktur kekuasaan yang selama ini, dalam pandangannya, terlibat dalam berbagai pelanggaran.

Pahlavi juga menyampaikan pesan langsung kepada unsur militer, aparat keamanan, dan kepolisian di dalam negeri Iran. Ia meminta mereka tidak lagi memberikan dukungan kepada rezim yang ada dan justru berdiri bersama rakyat demi menjamin proses transisi yang stabil menuju masa depan yang disebutnya lebih bebas dan sejahtera.

Dalam pernyataan lanjutannya, Pahlavi bahkan menyebut kematian Khamenei sebagai momen yang layak dipandang sebagai “perayaan nasional besar” bagi Iran. Ia mengajak warga untuk bersiap mengambil peran aktif dalam perubahan politik yang diyakininya akan segera terjadi.

“Waktu untuk kehadiran besar-besaran dan tegas di jalanan sudah sangat dekat. Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mengamankan kemenangan akhir, dan kita akan merayakan kemerdekaan Iran di seluruh tanah air kita yang diciptakan oleh Ahura. Hidup Iran!” tulisnya.

Sebagai latar belakang, Khamenei memegang tampuk kepemimpinan tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini yang wafat setelah memimpin Revolusi Islam satu dekade sebelumnya. Meski Khomeini dikenal sebagai arsitek ideologis revolusi yang mengakhiri monarki Pahlavi, Khamenei berperan besar dalam membentuk struktur militer dan paramiliter Iran yang memperkuat posisi negara itu di tengah tekanan eksternal.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei pernah menjabat sebagai presiden Iran pada era perang panjang melawan Irak pada 1980-an. Konflik berdarah tersebut, ditambah dukungan sejumlah negara Barat kepada pemimpin Irak saat itu, Saddam Hussein, memperdalam kecurigaan dan sikap keras Khamenei terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat.

Dalam perjalanan kariernya, Khamenei juga dikenal aktif mengajar yurisprudensi dan interpretasi teologi di ruang-ruang publik. Aktivitas itu memperluas pengaruhnya, terutama di kalangan mahasiswa yang saat itu mulai kecewa terhadap monarki. Monarki Iran sendiri sempat kembali menguat setelah kudeta tahun 1953 yang melibatkan badan intelijen Inggris dan Amerika Serikat untuk menggulingkan Perdana Menteri terpilih, Mohammad Mosaddegh, usai kebijakannya menasionalisasi industri minyak.

Sebagai aktivis politik pada era shah, Khamenei berulang kali ditangkap oleh polisi rahasia SAVAK dan sempat diasingkan ke wilayah terpencil Iranshahr di tenggara Iran. Namun ia kembali ke panggung politik dan turut terlibat dalam gelombang protes 1978 yang berujung pada runtuhnya pemerintahan dinasti Pahlavi.

Berita Terkait