EKONOMI, Perspektif.co.id — Lonjakan harga Bitcoin kembali memicu alarm di kalangan analis Wall Street setelah JPMorgan menilai pergerakan pasar kripto saat ini menunjukkan pola yang sangat mirip dengan fase sebelum kejatuhan brutal pada 2022. Kekhawatiran itu muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik, lonjakan harga minyak, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Analis JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou, menilai reli Bitcoin yang sempat menguat tajam dalam beberapa pekan terakhir justru memperlihatkan struktur pasar yang rapuh. Ia menyoroti bagaimana reli serupa pernah terjadi pada awal 2022 sebelum Bitcoin anjlok lebih dari 60% akibat tekanan makro dan perang Rusia–Ukraina.
“Kondisi pasar saat ini mengingatkan kami pada pola yang sama menjelang koreksi besar 2022,” ujar Panigirtzoglou, memperingatkan bahwa investor sebaiknya tidak mengabaikan risiko likuiditas yang semakin ketat.
Sumber Reuters melaporkan bahwa kenaikan harga minyak akibat pembatasan Iran di Selat Hormuz berpotensi memicu inflasi baru, yang pada akhirnya dapat memaksa Federal Reserve menunda pemangkasan suku bunga. Situasi ini menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin, yang selama ini sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas global.
Di sisi lain, arus masuk ke ETF Bitcoin spot masih menunjukkan minat institusional yang kuat, dengan total inflow menembus lebih dari USD 1,1 miliar sejak konflik terbaru di Timur Tengah pecah. Jika dikonversi, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp17,4 triliun (kurs asumsi Rp15.800 per USD). Namun, sebagian analis menilai aliran dana itu belum cukup menjadi indikator kekuatan pasar jangka panjang.
BitMEX co-founder Arthur Hayes bahkan menyebut reli Bitcoin saat ini sebagai potensi “dead cat bounce”, atau pantulan sementara sebelum penurunan lebih dalam.
“Ini bukan reli yang sehat. Ini hanya reaksi pasar terhadap ketidakpastian geopolitik,” kata Hayes, menegaskan bahwa volatilitas ekstrem masih akan mendominasi pergerakan kripto dalam waktu dekat.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh data historis yang menunjukkan bahwa Bitcoin kerap mengalami reli singkat sebelum memasuki fase koreksi besar ketika tekanan makro meningkat. Pola itu terlihat jelas pada 2018, 2022, dan kini kembali menjadi sorotan setelah indikator momentum jangka pendek menunjukkan pelemahan.
Dengan kombinasi faktor geopolitik, inflasi energi, dan kebijakan moneter yang belum pasti, pasar kripto kini berada dalam fase yang sangat rentan. Para analis memperingatkan bahwa investor harus bersiap menghadapi skenario volatilitas ekstrem, terutama jika reli Bitcoin kembali kehilangan tenaga seperti yang terjadi empat tahun lalu.