26 November 2025, 09:02

IHSG Merah Lagi, Asing Serempak Jual tapi Tetap Borong Sejumlah Saham Unggulan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di teritori negatif pada sesi I perdagangan Selasa (25/11/2025).

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
3,408
IHSG Merah Lagi, Asing Serempak Jual tapi Tetap Borong Sejumlah Saham Unggulan
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia

JAKARTA, Perspektif.co.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di teritori negatif pada sesi I perdagangan Selasa (25/11/2025). Tekanan jual yang masif, terutama dari investor asing, membuat indeks domestik terkoreksi meski masih ada ratusan saham yang mampu menguat.

IHSG menutup sesi pertama dengan penurunan 0,75% atau melemah 64,43 poin ke posisi 8.505,82. Di tengah tekanan tersebut, tercatat 285 saham justru menguat, sementara 352 saham tergelincir dan 170 lainnya tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp16,73 triliun dengan total 33,19 miliar saham diperdagangkan dalam 1,54 juta kali transaksi sepanjang sesi I.

Mengacu data transaksi, hampir seluruh indeks sektoral berada di zona merah. Hanya sektor kesehatan yang menjadi pengecualian dengan kenaikan sekitar 2,17%. Dua kelompok saham yang paling tertekan adalah sektor utilitas dan properti yang masing-masing terkoreksi dalam, yakni sekitar 2,65% dan 2,55%. Kondisi ini mencerminkan sikap pelaku pasar yang cenderung mengurangi eksposur pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan sentimen makro.

Tekanan juga terlihat jelas dari pergerakan dana asing. Sepanjang sesi intraday, investor asing membukukan jual bersih (net sell) sekitar Rp1,8 triliun di seluruh pasar. Secara rinci, nilai penjualan (foreign sell) tercatat sekitar Rp5 triliun, sedangkan pembelian (foreign buy) mencapai Rp3,2 triliun. Laporan perdagangan mencatat, 

“Sepanjang sesi pertama, investor asing masih berada di posisi jual bersih dengan nilai mendekati Rp2 triliun, menandakan tekanan berkelanjutan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.”

Meski demikian, tidak semua saham dilepas asing. Sejumlah emiten justru menjadi sasaran akumulasi. Sepuluh saham dengan nilai net buy asing terbesar pada sesi I yakni:

  • PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) – sekitar Rp98,3 miliar
  • PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) – sekitar Rp94,7 miliar
  • PT MD Entertainment Tbk / MD Pictures (FILM) – sekitar Rp66,7 miliar
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI) – sekitar Rp52,1 miliar
  • PT Petrosea Tbk (PTRO) – sekitar Rp42,8 miliar
  • PT Darma Henwa Tbk (DEWA) – sekitar Rp36,1 miliar
  • PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) – sekitar Rp19,1 miliar
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) – sekitar Rp16,7 miliar
  • PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) – sekitar Rp16,0 miliar
  • PT Mitra Pemuda Tbk (RATU) – sekitar Rp15,4 miliar

Emiten-emiten tersebut menjadi pengecualian di tengah tren net sell asing, menandakan masih adanya minat pada saham-saham konsumer, kesehatan, energi, dan sejumlah emiten berbasis komoditas maupun konstruksi.

Di sisi lain, tekanan jual asing terbesar menghantam saham-saham perbankan dan konglomerasi besar. Sepuluh saham dengan nilai net sell asing terbesar pada sesi I adalah:

  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) – sekitar Rp539,7 miliar
  • PT Barito Pacific Tbk (BRPT) – sekitar Rp162,1 miliar
  • PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) – sekitar Rp97,6 miliar
  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) – sekitar Rp66,1 miliar
  • PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) – sekitar Rp52,8 miliar
  • PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) – sekitar Rp38,9 miliar
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) – sekitar Rp26,5 miliar
  • PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) – sekitar Rp25,5 miliar
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – sekitar Rp25,3 miliar
  • PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) – sekitar Rp22,1 miliar

Seorang pelaku pasar menjelaskan bahwa derasnya arus jual asing pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat indeks sulit berbalik arah.

 “Selama asing masih agresif melakukan net sell di big caps perbankan dan konglomerasi, tekanan ke IHSG akan tetap terasa meski ada rotasi ke beberapa saham second liner,” ujarnya.

Dengan komposisi tersebut, pergerakan IHSG pada sesi berikutnya diperkirakan masih akan sangat ditentukan oleh arah aktivitas investor asing dan sentimen global yang mempengaruhi minat risiko pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia.

Berita Terkait