12 December 2025, 21:02

‘Flu Super’ Hantam Inggris, Menkes Peringatkan NHS di Ambang Krisis Jelang Natal

Inggris tengah dilanda gelombang “flu super” yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya, memicu kekhawatiran serius terhadap kemampuan layanan kesehatan.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
2,553
‘Flu Super’ Hantam Inggris, Menkes Peringatkan NHS di Ambang Krisis Jelang Natal
Ilustrasi (Foto: thinkstock)

Perspektif.co.id - Inggris tengah dilanda gelombang “flu super” yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya, memicu kekhawatiran serius terhadap kemampuan layanan kesehatan publik National Health Service (NHS) menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Menteri Kesehatan Inggris Wes Streeting memperingatkan, sistem kesehatan yang didanai negara itu kini berada dalam kondisi sangat genting dan meminta para dokter residen membatalkan rencana mogok kerja lima hari.

Streeting menegaskan, lonjakan kasus flu yang begitu cepat membuat NHS menghadapi tekanan setara masa pandemi. “Layanan Kesehatan Nasional kini berada dalam situasi yang sangat genting dengan kasus flu yang terus meningkat,” ujarnya, seraya menyebut tantangan yang dihadapi NHS saat ini “tidak seperti yang pernah dilihat sejak pandemi”.

Data resmi NHS yang dirilis Kamis (11/12) menunjukkan, jumlah pasien flu yang dirawat di rumah sakit mencapai level tertinggi tahun ini. Dalam sepekan, kasus flu melonjak 55 persen dan rata-rata mencapai sekitar 2.660 pasien per hari yang membutuhkan perawatan inap.

Direktur Medis Nasional NHS, Meghana Pandit, menyebut kombinasi lonjakan pasien dan ancaman mogok dokter residen membuat situasi mendekati skenario terburuk. “Dengan permintaan layanan yang mencapai rekor tertinggi dan aksi mogok para dokter residen yang akan segera terjadi, gelombang flu super yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuat NHS menghadapi skenario terburuk untuk periode akhir tahun,” kata Pandit.

Streeting memperingatkan, angka pasien flu berpotensi kembali melonjak hingga tiga kali lipat sebelum puncak musim flu. Ia menyebut kondisi di banyak rumah sakit sudah berada pada titik yang “tidak dapat diterima”, dengan antrean panjang pasien dan tekanan berat terhadap tenaga medis. Karena itu, ia secara terbuka meminta para dokter residen untuk meninjau ulang rencana aksi industrial.

“Itulah mengapa saya secara langsung meminta para dokter residen untuk menerima tawaran pemerintah,” tulis Streeting dalam artikelnya di harian The Times, seraya mengimbau agar aksi mogok yang dijadwalkan menjelang Natal dapat dibatalkan demi kepentingan pasien.

Kinerja dan kapasitas NHS kembali menjadi isu politik utama di Inggris. Pemerintahan Partai Buruh di bawah Perdana Menteri Keir Starmer berada dalam sorotan tajam untuk menurunkan waktu tunggu pasien dan menstabilkan layanan kesehatan publik setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan anggaran dan kekurangan tenaga medis.

Rencana mogok terbaru yang dijadwalkan pekan depan akan menjadi pemogokan ke-14 oleh tenaga medis sejak Maret 2023. Aksi serupa sebelumnya telah berulang kali dilakukan oleh dokter residen (junior doctors) dan konsultan rumah sakit, yang memprotes tingkat gaji dan minimnya kesempatan pelatihan.

Dokter residen, yang berada satu tingkat di bawah konsultan, menilai beban kerja dan risiko yang mereka tanggung tidak sebanding dengan kompensasi yang diterima, sementara jalur karier dan pelatihan spesialis dinilai terlalu sempit. Streeting mengakui sebagian tuntutan terkait pelatihan dan telah menyetujui permintaan serikat dokter.

Ia memastikan, dokter yang menempuh pendidikan dan pelatihan di Inggris akan mendapat prioritas untuk mengisi posisi pelatihan dibandingkan kandidat dari luar negeri. Pemerintah juga berkomitmen meningkatkan jumlah slot pelatihan agar lebih banyak dokter muda mendapatkan akses pengembangan karier.

Namun, Streeting menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengubah kebijakan terkait gaji, yang menjadi tuntutan utama serikat dokter. Menurutnya, ruang fiskal pemerintah sangat terbatas setelah penyesuaian gaji signifikan di sektor kesehatan dalam beberapa tahun terakhir.

“Pemerintah tidak dapat dan tidak akan mengubah hal terkait gaji, terutama setelah kenaikan gaji sebesar 28,9 persen selama tiga tahun terakhir dan kenaikan gaji tertinggi di seluruh sektor publik dalam dua tahun terakhir,” tegas Streeting.

Di tengah lonjakan kasus flu dan ancaman mogok, pemerintah Inggris dituntut menemukan titik temu dengan tenaga kesehatan. Tanpa kompromi, NHS berisiko menghadapi tekanan berlapis: gelombang “flu super” yang belum mencapai puncaknya, sekaligus berkurangnya tenaga dokter di garis depan saat musim dingin dan masa libur Natal yang justru menjadi periode tersibuk dalam kalender layanan kesehatan.

Berita Terkait