05 November 2025, 16:51

dr. Tirta Ingatkan Masyarakat: Kenali Kebutuhan Tubuh Sebelum Ikuti Tren Pola Makan

dr. Tirta menegaskan pentingnya memahami kebutuhan tubuh sebelum mengikuti tren diet agar terhindar dari risiko kesehatan jangka panjang.

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Ihsan Nurdin
3,064
dr. Tirta Ingatkan Masyarakat: Kenali Kebutuhan Tubuh Sebelum Ikuti Tren Pola Makan
dr. Tirta Mandira Hudhi menekankan pentingnya memahami kebutuhan tubuh sebelum mengikuti tren diet

Perspektif.co.id - Dokter sekaligus pengusaha, Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta, mengingatkan masyarakat agar tidak serta-merta mengikuti tren pola makan yang beredar di media sosial tanpa memahami kebutuhan tubuh masing-masing. Menurutnya, pola makan ideal tidak bisa disamakan antara satu orang dengan yang lain karena setiap individu memiliki aktivitas dan kondisi fisik yang berbeda.

“Pola makan itu ditentukan oleh aktivitas fisik harian kalian. Jadi selalu kenali diri kalian sendiri,” ujar dr. Tirta dalam sebuah video yang dikutip di Jakarta, Senin (28/7/2025).

Ia menegaskan bahwa semakin tinggi aktivitas seseorang, maka semakin besar pula kebutuhan kalorinya. Karena itu, pola makan harus disesuaikan dengan tingkat aktivitas, usia, serta kondisi kesehatan masing-masing.

Lebih lanjut, dr. Tirta menjelaskan bahwa tidak semua orang wajib sarapan. Beberapa orang memilih untuk tidak makan pagi karena tengah menjalani program diet tertentu, seperti intermittent fasting. Namun, ia mengingatkan bahwa keputusan untuk melewati sarapan harus disesuaikan dengan kondisi tubuh.

“Kalau seseorang sedang program mengecilkan lingkar perut atau menjalani intermittent fasting, boleh saja tidak sarapan. Tapi jangan asal meniru orang lain tanpa tahu kondisi tubuh sendiri,” jelasnya.

Meski begitu, ia menekankan bahwa makan siang merupakan waktu penting yang tidak boleh dilewatkan. Menurutnya, tubuh mengalami penurunan energi pada siang hari, sehingga diperlukan asupan gizi untuk menjaga kestabilan kondisi fisik.

“Makan siang itu wajib, karena di waktu siang semua kondisi fisik menurun. Bahkan bagi yang berusia di atas 35 tahun, disarankan untuk tidur siang sekitar satu jam demi menjaga kesehatan jantung,” kata alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Magister Manajemen Bisnis Institut Teknologi Bandung itu.

Selain itu, dr. Tirta mengingatkan bahaya kebiasaan makan terlalu malam. Menurutnya, metabolisme tubuh melambat pada malam hari karena organ tubuh fokus melakukan perbaikan sel. Kondisi tersebut membuat makanan lebih sulit dicerna dan berisiko menimbulkan resistensi insulin.

“Semakin malam kita makan, aktivitas pencernaan semakin lambat. Energi tubuh saat malam digunakan untuk memperbaiki sel, bukan mencerna makanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebiasaan makan larut malam dapat memicu penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga stroke. Penyakit-penyakit tersebut, kata dia, biasanya berkembang akibat pola hidup yang tidak sehat selama bertahun-tahun.

dr. Tirta juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan pola makan dengan kondisi medis tertentu. Misalnya, bagi penderita penyakit lambung seperti GERD, disarankan makan dalam porsi kecil setiap tiga hingga empat jam.

“Kalau punya GERD, makannya harus sering tapi sedikit,” tambahnya.

Ia menutup dengan pesan agar masyarakat tidak meniru gaya hidup orang lain secara mentah. Menurutnya, mengenali diri sendiri adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan dan mengatur pola makan yang seimbang.

“Teman saya ada yang enggak sarapan, belum tentu kalian bisa. Kalau kalian pekerja berat dan enggak sarapan, bisa-bisa malah masuk rumah sakit,” tuturnya.

Berita Terkait