Perspektif.co.id - Amerika Serikat (AS) mendesak warga negaranya segera meninggalkan Iran di tengah gelombang demonstrasi yang kian memanas. Peringatan itu muncul saat situasi keamanan disebut memburuk cepat, ditandai gangguan internet, pengetatan aparat, hingga risiko penangkapan di jalanan.
Dalam pernyataan yang dikutip media Armenia, Kedutaan Virtual AS menyebut unjuk rasa “bereskalasi dan bisa berubah menjadi kekerasan” serta memicu “penangkapan dan cedera.” Mereka juga menyinggung adanya peningkatan langkah keamanan, penutupan jalan, gangguan transportasi publik, serta pemblokiran internet. Dalam pernyataan itu ditegaskan, “Leave Iran now. Have a plan for departing Iran that does not rely on U.S. government help.”
AS juga membeberkan jalur keluar yang masih memungkinkan, khususnya lewat darat. Disebutkan perlintasan Armenia di Agarak/Norduz masih terbuka, serta opsi menuju Türkiye/Turki. Peringatan itu turut menekankan kebutuhan menyiapkan komunikasi alternatif dan persediaan kebutuhan dasar jika warga tak bisa segera pergi.
Sementara itu, Australia mengeluarkan seruan yang bahkan lebih tegas. Melalui laman resmi Smartraveller yang diperbarui 12 Januari 2026, pemerintah Australia menulis: “Leave Iran now. Commercial options to depart are still available but becoming more limited.” Australia juga memperingatkan penutupan wilayah udara dan pembatalan penerbangan bisa terjadi mendadak sehingga “making it impossible to leave later.”
Smartraveller menyebut situasi keamanan Iran “extremely volatile,” menyinggung blackout telekomunikasi termasuk internet, serta protes nasional yang “violent” dan dapat meningkat sewaktu-waktu. Australia mengimbau warganya menghindari kerumunan dan demonstrasi, dan menekankan risiko penahanan tinggi bagi warga asing termasuk pemegang kewarganegaraan ganda.
Di Eropa, Swedia juga memperketat peringatan perjalanan. Situs informasi krisis resmi Swedia (Krisinformation) menyatakan Kementerian Luar Negeri Swedia pada 12 Januari memutuskan memperkeras travel advisory: menyarankan tidak melakukan perjalanan ke Iran dan “mendesak warga Swedia di Iran untuk meninggalkan negara itu” karena situasi keamanan.
Sejumlah negara lain ikut mengeluarkan seruan serupa. Polandia, misalnya, lewat Kementerian Luar Negeri menyatakan “calls on Polish citizens to leave Iran immediately and advises against all travel to this country.” Ukraina juga meminta warganya keluar dari Iran melalui beberapa titik yang dianggap memungkinkan, termasuk rute perbatasan darat dan bandara internasional di Teheran.
Gelombang protes sendiri dilaporkan bermula pada 28 Desember dari krisis ekonomi, melemahnya mata uang, dan tekanan inflasi, lalu meluas menjadi kemarahan politik yang menyeret isu kepemimpinan nasional. Reuters mencatat protes menyebar melampaui tuntutan ekonomi dan memicu respons keras aparat.
Angka korban dan penangkapan yang beredar pun bervariasi, tergantung sumber. Reuters mengutip kelompok-kelompok HAM yang melaporkan puluhan korban tewas dan lebih dari seribu orang ditangkap pada awal Januari, sementara laporan media Inggris menyebut kelompok HAM berbasis di AS (HRANA) memperkirakan korban tewas sudah menembus 500 orang dan jumlah penangkapan melampaui 10.600 orang.
Di sisi lain, tekanan geopolitik ikut memanas. Sejumlah laporan menyebut Gedung Putih menegaskan Presiden AS Donald Trump “unafraid to use military force” bila diperlukan, meski tetap menyatakan diplomasi sebagai jalur utama. Di saat bersamaan, Iran juga memperingatkan akan membalas bila diserang, dan menganggap ada upaya campur tangan asing terhadap urusan domestik Teheran.