25 April 2026, 11:37

Blok Baru Dunia? 4 Negara Muslim Siapkan Aliansi Militer Tiru NATO untuk Hadapi Ancaman Israel

Gagasan pembentukan aliansi keamanan baru di dunia Islam mencuat setelah empat negara, yakni Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
30
Blok Baru Dunia? 4 Negara Muslim Siapkan Aliansi Militer Tiru NATO untuk Hadapi Ancaman Israel
Menteri luar negeri Pakistan Arab Saudi, Mesir, dan Turki, menggelar pertemuan di Antalya. / Doc: istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id - Gagasan pembentukan aliansi keamanan baru di dunia Islam mencuat setelah empat negara, yakni Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi, disebut tengah memperkuat koordinasi pertahanan guna merespons meningkatnya ancaman regional dari Israel. Inisiatif ini bahkan dinilai berpotensi berkembang menjadi aliansi militer yang menyerupai NATO.

Sinyal penguatan kerja sama tersebut terlihat dari latihan militer gabungan yang digelar Mesir dan Pakistan di kawasan Asia Selatan. Latihan yang berlangsung selama dua pekan itu dinilai bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari upaya menyatukan kekuatan tempur khusus dari empat negara tersebut.

Sejumlah analis menilai intensitas komunikasi dan koordinasi antarnegara tersebut meningkat dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah serangan udara Israel ke Doha, Qatar, pada September 2025. Peristiwa itu dianggap menjadi titik balik yang memicu kekhawatiran serius negara-negara kawasan terhadap eskalasi ancaman keamanan.

"Segera setelah serangan itu, negara-negara Arab, terutama di wilayah Teluk, menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel," ujar analis politik independen Mesir, Islam Mansi.

Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah dinamika konflik di kawasan, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada Februari lalu, yang menunjukkan eskalasi penggunaan kekuatan militer dalam mencapai tujuan geopolitik.

Selain itu, isu pencaplokan wilayah Tepi Barat, rencana pembangunan kembali permukiman di Gaza, hingga serangan ke Lebanon dan Suriah turut memicu kekhawatiran negara-negara Teluk terkait potensi ekspansi teritorial Israel.

Seiring kondisi tersebut, sejumlah negara mulai mempertimbangkan ulang strategi keamanan mereka. Bahkan, telah muncul sejumlah kerja sama bilateral di bidang pertahanan, seperti pakta pertahanan antara Arab Saudi dan Pakistan serta kemitraan militer antara Uni Emirat Arab dan India.

Analis politik Saudi, Omar Saif, menilai aliansi empat negara ini memiliki kekuatan strategis yang signifikan jika benar-benar terwujud.

"Aliansi yang sama dapat mengerem ambisi regional Israel," ujarnya.

Menurutnya, kombinasi kekuatan militer, posisi geopolitik, serta kapasitas ekonomi dari keempat negara tersebut dapat menciptakan keseimbangan baru di kawasan. Secara kolektif, empat negara ini memiliki populasi sekitar 500 juta jiwa dan produk domestik bruto mencapai US$3,87 triliun.

Pertemuan tingkat tinggi juga terus dilakukan untuk memperkuat koordinasi. Menteri luar negeri dari empat negara tersebut diketahui bertemu dalam Forum Diplomasi Antalya pada 17 April, guna membahas kemungkinan pembentukan kerangka keamanan regional pascakonflik.

Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, menyatakan bahwa negaranya bersama mitra lain tengah merancang pengaturan keamanan baru yang lebih mandiri di kawasan.

"Aliansi seperti itu akan menciptakan keseimbangan kekuatan yang sangat dibutuhkan kawasan ini," kata Mansi menambahkan.

Meski demikian, rencana pembentukan aliansi ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah persoalan komitmen antarnegara, mengingat hubungan bilateral yang sempat tegang di masa lalu, seperti antara Turki dan Mesir maupun Turki dan Arab Saudi.

Selain itu, keterkaitan beberapa negara dengan Amerika Serikat juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Arab Saudi dan Mesir, misalnya, memiliki hubungan strategis yang erat dengan Washington.

Di sisi lain, analis politik Turki, Firas Ridvan Oglu, menilai potensi aliansi ini justru dapat sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat.

"Bagaimanapun, Washington ingin menghindari meletusnya perang regional lainnya," ujarnya.

Berita Terkait