10 February 2026, 14:13

CT Blak-blakan Soal Dedolarisasi Global, Dolar AS Melemah dan Emas Jadi Rebutan Investor Dunia

Pendiri CT Corp Chairul Tanjung menilai fenomena dedolarisasi kini semakin nyata dan berlangsung secara luas di tingkat global.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,138
CT Blak-blakan Soal Dedolarisasi Global, Dolar AS Melemah dan Emas Jadi Rebutan Investor Dunia
Pendiri CT Corp Chairul Tanjung (CT) mengungkapkan fenomena dedolarisasi tengah berlangsung di tingkat global. (CNBC Indonesia/Tri Susilo).

Perspektif.co.id - Pendiri CT Corp Chairul Tanjung menilai fenomena dedolarisasi kini semakin nyata dan berlangsung secara luas di tingkat global. Ia menyebut melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir tidak bisa dilepaskan dari arah kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump yang dinilai sengaja mendorong pelemahan mata uang negaranya sendiri.

Menurut Chairul Tanjung, strategi tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperbaiki daya saing ekonomi Amerika Serikat, terutama ketika pertumbuhan perdagangan Negeri Paman Sam tertinggal dibandingkan China. Kebijakan tersebut, kata dia, secara langsung maupun tidak langsung memicu perubahan besar dalam peta keuangan global.

“Ini yang dilakukan Trump dan sudah terjadi dedolarisasi. Cadangan devisa di beberapa negara cenderung turun,” ujar Chairul Tanjung dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2).

CT menjelaskan, kebijakan dedolarisasi yang berlangsung saat ini tidak berdiri sendiri. Langkah tersebut dibarengi dengan kebijakan perang tarif dagang atau trade war yang kembali mengemuka sebagai respons atas ketertinggalan perdagangan Amerika Serikat dari China. Kombinasi kebijakan itu membuat posisi dolar AS yang selama puluhan tahun menjadi mata uang dominan global mulai mengalami tekanan serius.

Data Refinitiv menunjukkan, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,85 persen dan ditutup di level 96,217 pada perdagangan Selasa (27/1) lalu. Pelemahan tersebut menjadi koreksi harian terdalam sejak April 2025, sekaligus membawa indeks dolar ke posisi terendah dalam hampir empat tahun terakhir atau sejak Februari 2022.

CT menilai, melemahnya dolar AS yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai atau safe haven telah mengubah perilaku investor dan pemegang aset global. Ketika kepercayaan terhadap dolar mulai terganggu, pelaku pasar cenderung mengalihkan dananya ke instrumen lain yang dinilai lebih aman dan stabil, seperti emas, perak, maupun mata uang alternatif.

Perubahan arah aliran dana global itu tercermin dari lonjakan harga logam mulia dalam beberapa waktu terakhir. Menurut CT, kenaikan harga emas dan perak bukan semata-mata didorong faktor teknis pasar, melainkan cerminan meningkatnya kehati-hatian investor global di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi dan dinamika geopolitik dunia.

“Ini juga jawaban kenapa emas dan perak naik. Dolar dulu menjadi tempat menyimpan kekayaan, sekarang muncul kekhawatiran terhadap perkembangan dolar ke depan. Itu yang menjelaskan mengapa emas naik signifikan,” jelasnya.

CT menambahkan, kondisi tersebut menandakan terjadinya pergeseran paradigma dalam sistem keuangan global. Jika sebelumnya dolar AS menjadi tumpuan utama cadangan devisa dan instrumen penyimpanan nilai, kini banyak negara dan pelaku pasar mulai melakukan diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu mata uang.

Fenomena dedolarisasi yang semakin kuat, menurut CT, perlu dicermati secara serius oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di tengah ketidakpastian global, perubahan struktur cadangan devisa dan strategi pengelolaan aset menjadi isu krusial yang akan memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dalam jangka menengah hingga panjang.

Berita Terkait