TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Pertempuran supremasi Artificial Intelligence (AI) di China kembali memanas pada pertengahan Februari 2026, menciptakan gelombang kejut baru yang tidak hanya mengguncang pasar domestik tetapi juga membuat raksasa teknologi Barat waspada. Setelah sempat "menghilang" dari sorotan publik, DeepSeek kembali melakukan manuver senyap namun mematikan dengan memperbarui kemampuan modelnya secara signifikan pada 11 Februari lalu, tepat di tengah hiruk-pikuk perayaan Tahun Baru Imlek.
Pembaruan ini meningkatkan kapasitas context window DeepSeek dari 128.000 token menjadi 1 juta token secara instan, memungkinkan pemrosesan data dalam jumlah masif—setara dengan ratusan novel tebal—dalam satu kali interaksi. Langkah ini dianggap sebagai serangan langsung terhadap model closed-source berbayar dari Amerika Serikat, sekaligus mematahkan prediksi bahwa sanksi ekspor chip canggih akan melumpuhkan inovasi teknologi China.
"Model open-source ini akan menghemat 90 persen biaya operasional dan menciptakan 'momen Kimi 2.5' yang baru. Ini sangat mendalam dan mengubah peta permainan secara fundamental,"
ujar Chamath Palihapitiya, seorang analis teknologi terkemuka, menanggapi efisiensi brutal yang ditawarkan oleh pengembang asal China tersebut.
Di sisi lain, persaingan tidak hanya terjadi pada aspek teknis, melainkan telah bermetamorfosis menjadi perang subsidi besar-besaran. Alibaba Cloud, melalui model andalannya Qwen, dilaporkan menggelontorkan dana hingga 3 miliar Yuan (sekitar Rp6,7 triliun) dalam bentuk "angpao digital" dan insentif komputasi untuk menarik jutaan pengguna baru ke ekosistem mereka. Strategi "bakar uang" ini juga diikuti oleh Tencent dengan model Hunyuan dan Baidu dengan Ernie Bot, yang kini bertransformasi menjadi superapp berbasis agentic AI.
Moonshot AI, startup "kuda hitam" lainnya, turut memanaskan situasi dengan peluncuran Kimi K2.5. Model ini diklaim telah melampaui kemampuan Gemini 3 Pro milik Google dalam pengujian coding dan pemahaman video, serta mampu mengalahkan performa GPT-5.2 dalam tugas-tugas reasoning yang kompleks. Fenomena ini menegaskan bahwa kesenjangan teknologi antara China dan Silicon Valley bukan lagi soal tahun, melainkan hanya hitungan bulan.
"Kompetisi model AI yang dulunya sengit kini telah beralih dari lari cepat (sprint) menjadi lari ketahanan (marathon), dengan fokus utama pada skenario dunia nyata, ekosistem industri, dan penciptaan nilai aplikasi," tegas Robin Li, CEO Baidu, dalam memo internal perusahaan yang menyoroti pergeseran fokus dari sekadar pamer parameter menuju utilitas praktis.
Situasi ini memicu kekhawatiran baru di Washington terkait keamanan siber dan dominasi infrastruktur. Laporan terbaru menyoroti bahwa demokratisasi intelligence melalui model open-weight seperti DeepSeek dan Qwen memungkinkan aktor global untuk mengakses kemampuan reasoning tingkat tinggi tanpa perlu infrastruktur cloud mahal, yang berpotensi mendisrupsi tatanan ekonomi digital global yang selama ini dikuasai oleh segelintir korporasi Barat.