20 January 2026, 22:31

BMKG Wanti-wanti Hujan Ekstrem Pekan Ini: Jawa–Sumatra Selatan Siaga hingga 26 Januari

(BMKG) mengingatkan potensi peningkatan cuaca ekstrem di wilayah selatan Indonesia dalam sepekan ke depan, terutama Sumatra bagian selatan dan Pulau Jawa.

Reporter: Anggi Ranf
Editor: Deden M Rojani
1,289
BMKG Wanti-wanti Hujan Ekstrem Pekan Ini: Jawa–Sumatra Selatan Siaga hingga 26 Januari
Ilustrasi: Cuaca ekstrem di Pulau Jawa dan Sumatra. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

JAKARTA, Perspektif.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi peningkatan cuaca ekstrem di wilayah selatan Indonesia dalam sepekan ke depan, terutama Sumatra bagian selatan dan Pulau Jawa. Peringatan itu tertuang dalam Prospek Cuaca Mingguan periode 20–26 Januari 2026, yang menyoroti kombinasi gangguan atmosfer dari skala global hingga lokal yang masih “aktif” memengaruhi cuaca di Tanah Air. 

BMKG mencatat, dalam beberapa hari terakhir intensitas hujan meningkat signifikan di sejumlah provinsi, seperti Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan, bahkan mencapai kategori ekstrem di beberapa lokasi. Dalam catatan BMKG, hujan lebat hingga ekstrem sempat terukur antara lain di DKI Jakarta 213,4 mm/hari, Sulawesi Selatan 101,2 mm/hari, Jawa Barat 86,7 mm/hari, Kota Tangerang 85,4 mm/hari, Lampung 83,0 mm/hari, DI Yogyakarta 78,4 mm/hari, Jawa Timur 67,5 mm/hari, dan NTB 66,5 mm/hari. Menurut BMKG, cuaca ekstrem itu dipicu gabungan beberapa faktor, utamanya faktor regional berupa sirkulasi siklonik serta penguatan monsun dingin Asia. 

BMKG menjelaskan, sirkulasi siklonik yang sebelumnya terpantau di selatan Nusa Tenggara Barat sempat berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S dan memperkuat daerah konvergensi skala luas di selatan Indonesia, meliputi Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Meski Bibit 96S disebut telah melemah dan dinyatakan punah, dinamika atmosfer kembali menunjukkan pembentukan Bibit Siklon Tropis 97S di wilayah Laut Timor, yang dinilai dapat kembali memperkuat pola konvergensi dan meningkatkan peluang hujan lebat hingga sangat lebat, khususnya di NTB dan NTT. 

Di luar pengaruh sistem siklonik, BMKG menyebut atmosfer juga dipengaruhi monsun Asia yang membawa suplai massa udara lembap dari Laut Cina Selatan, bergerak melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa, disertai penguatan angin baratan di wilayah selatan Indonesia. Aliran massa udara lembap ini, menurut BMKG, berkontribusi besar terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah terdampak. 

Dari sisi dinamika atmosfer sepekan ke depan, BMKG memaparkan sejumlah “mesin cuaca” yang masih bekerja bersamaan. Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah, dengan Southern Oscillation Index (SOI) cenderung positif—kondisi yang dinilai berpeluang menambah pasokan uap air untuk pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Pada skala intramusiman, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif melintasi NTB, NTT, Laut Flores, Laut Timor, serta Samudra Hindia selatan NTT, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di area tersebut. BMKG juga menyebut gelombang ekuator masih aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah.

BMKG menambahkan, kombinasi MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra, pesisir barat Bengkulu hingga pesisir barat Lampung, serta perairan selatan NTB sampai selatan NTT. Rangkaian faktor itu dinilai ikut menyumbang peningkatan aktivitas konvektif dan peluang hujan di kawasan tersebut. 

Di saat yang sama, BMKG memantau Siklon Tropis Nokaen yang berada di Laut Filipina (utara Maluku Utara). Sistem ini diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1.000 hPa, bergerak ke timur laut, serta berpengaruh terhadap pembentukan pola angin terutama di wilayah utara Indonesia bagian timur. Selain itu, Bibit 97S diprakirakan persisten dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara 1.000 hPa, memengaruhi pola angin termasuk daerah konfluensi dan konvergensi yang memanjang dari Pulau Timor, Laut Timor, Laut Arafura, hingga sekitar pusat bibit siklon tersebut. “Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut,” tulis BMKG. 

Faktor lain yang disorot BMKG adalah potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia. BMKG menyebut sinyal itu terindikasi dari perbedaan tekanan udara Gushi yang tinggi, disertai peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan, yang mempercepat masuknya monsun Asia dan memudahkan alirannya melintasi ekuator melalui Selat Karimata (nilai CENS dinilai signifikan). “Hal ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan, dan Pulau Jawa,” tulis BMKG. Dalam literatur BMKG yang pernah dikutip Antara, CENS merujuk pada Cross-Equatorial Northerly Surge—penguatan angin permukaan dari utara yang dapat memanjang hingga melewati ekuator dan berdampak pada peningkatan cuaca signifikan. 

Untuk periode 20–22 Januari 2026, BMKG menyatakan cuaca Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat, namun ada wilayah yang perlu siaga. Pada level “Siaga” (hujan lebat–sangat lebat) BMKG mencantumkan Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Pada level “Awas” (hujan sangat lebat–hujan ekstrem) BMKG menempatkan Nusa Tenggara Timur. Sementara potensi angin kencang disebut dapat terjadi di Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Memasuki 23–26 Januari 2026, BMKG memperkirakan kondisi umumnya masih hujan ringan hingga hujan lebat, dengan kewaspadaan peningkatan hujan intensitas sedang antara lain di Sumatera Selatan, Bengkulu, DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. 

BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan karena cuaca bisa berubah cepat serta berisiko memicu bencana hidrometeorologi. BMKG juga meminta masyarakat lebih hati-hati menyusun aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, termasuk kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata. Untuk informasi lebih rinci, BMKG mengarahkan pemantauan prakiraan dan peringatan dini melalui situs resmi, aplikasi InfoBMKG, serta kanal media sosial, dan menyebut adanya layanan Digital Weather for Traffic (DWT) untuk informasi cuaca sepanjang rute perjalanan. 

Berita Terkait