JAKARTA, Perspektif.co.id - Peneliti sekaligus ahli forensik digital Rismon Sianipar kini menyatakan bahwa ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka adalah dokumen asli. Pernyataan ini menjadi sorotan karena sebelumnya Rismon sempat menuding ijazah keduanya palsu melalui sejumlah kajian yang dipublikasikan dalam dua bukunya.
Pengakuan tersebut disampaikan Rismon setelah melakukan penelitian lanjutan selama beberapa bulan terakhir. Ia menyebutkan bahwa hasil kajian terbaru yang dilakukannya justru mengarah pada kesimpulan berbeda dari tudingan sebelumnya.
“Iya, asli. Karena apa? Dengan kajian saya, makanya saya bilang, ‘truth hurts’. Kebenaran itu menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi yang saya rasakan kalau saya tidak mengungkapkannya dan lebih jujur,” kata Rismon usai bertemu Wakil Presiden Gibran di Istana Wakil Presiden di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Polemik mengenai keaslian ijazah Jokowi dan Gibran sebelumnya mencuat setelah Rismon menerbitkan dua buku berjudul Jokowi's White Paper dan Gibran End Game. Dalam karya tersebut, ia sempat mempersoalkan keabsahan dokumen pendidikan kedua tokoh tersebut.
Namun, setelah melakukan penelitian lanjutan selama sekitar tiga bulan terakhir, Rismon mengaku menemukan sejumlah bukti yang menunjukkan keaslian dokumen tersebut. Salah satu temuan penting adalah keberadaan tanda keamanan pada ijazah.
Ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa fitur autentik yang dapat diverifikasi melalui analisis forensik digital terhadap dokumen tersebut. “Saya sampaikan ada tiga hal utama, emboss ada di pojok kiri bawah, watermark ada, dan fitur itu konsisten dengan apa yang di-upload dengan Dian Sandi Utama. Jangan bilang tidak ada, sedih saya,” ujarnya.
Rismon mengungkapkan bahwa kajian terbaru tersebut juga melibatkan pendekatan teknis yang lebih rinci dibanding penelitian sebelumnya. Ia menyebut analisis dilakukan dengan mempertimbangkan variabel geometri pencahayaan, intensitas cahaya, hingga karakteristik lensa kamera yang digunakan dalam pengambilan gambar dokumen ijazah.
Melalui metode rekonstruksi tersebut, ia mengaku menemukan jejak stempel dan elemen keamanan dokumen yang sebelumnya tidak terlihat jelas dalam foto yang beredar di publik.
Rismon juga menyatakan telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Gibran atas polemik yang sempat muncul akibat penelitiannya terdahulu. Dalam pertemuan tersebut, ia juga menyampaikan rencana untuk menulis buku baru yang akan menjadi koreksi atas kajian sebelumnya.
Ia mengatakan buku tersebut akan menjadi antitesis dari dua karya sebelumnya yang sempat memicu perdebatan publik. Rismon menargetkan proses penulisan buku itu akan memakan waktu sekitar enam bulan sebelum akhirnya diterbitkan.
“Saya memang katakan kepada Mas Wapres, saya akan tuliskan koreksi saya terhadap penelitian saya yang tidak lengkap: Jokowi's White Paper dan Gibran End Game. Dan saya minta izin saya tuntaskan di kampung saya di Balige. Saya akan mempublikasikannya,” kata Rismon.
Selain bertemu dengan Gibran, Rismon juga diketahui telah lebih dahulu meminta maaf kepada Jokowi atas polemik yang berkembang. Jokowi disebut telah menerima permintaan maaf tersebut.
Meski demikian, Jokowi menyatakan persoalan terkait kemungkinan langkah hukum terhadap Rismon diserahkan kepada kuasa hukum dan aparat kepolisian.