01 March 2026, 14:34

ABI Nyatakan Duka atas Kesyahidan Ayatollah Ali Khamenei, Sebut Serangan AS–Israel Preseden Berbahaya

Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (ABI) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
601
ABI Nyatakan Duka atas Kesyahidan Ayatollah Ali Khamenei, Sebut Serangan AS–Israel Preseden Berbahaya
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (Foto: Handout via AFP)

Perspektif.co.id - Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (ABI) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang dikabarkan gugur dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada 11 Ramadan 1447 H atau bertepatan dengan 1 Maret 2026. ABI menilai peristiwa tersebut bukan hanya kehilangan bagi Iran, tetapi juga pukulan besar bagi umat Islam dan kelompok-kelompok yang selama ini dianggap konsisten menolak hegemoni global.

Dalam pernyataan sikap resmi yang dirilis Sabtu (1/3/2026), ABI menegaskan posisi Khamenei yang dipandang melampaui figur kepala pemerintahan. “Kesyahidan Imam Ali Khamenei merupakan kehilangan besar bagi umat Islam dan seluruh kekuatan yang konsisten menentang hegemoni global,” tulis ABI dalam pernyataan tertulisnya.

ABI menggambarkan Khamenei sebagai simbol keteguhan prinsip, konsistensi ideologi, serta keberanian menghadapi dominasi kekuatan besar, terutama Amerika Serikat dan Israel. Kepemimpinan Khamenei disebut mewakili garis perlawanan yang menekankan kemandirian, kehormatan, dan martabat bangsa, di tengah dinamika geopolitik yang kian panas dan berpotensi menimbulkan efek lanjutan pada stabilitas kawasan.

Lebih jauh, ABI menilai serangan terhadap pemimpin sebuah negara berdaulat—yang juga menjadi rujukan keagamaan bagi jutaan umat—sebagai tindakan politik yang mencederai kedaulatan negara serta bertentangan dengan norma dasar kemanusiaan. ABI bahkan menilai serangan tersebut berisiko menjadi contoh buruk dalam tatanan global. “Serangan terhadap pemimpin negara berdaulat menjadi preseden berbahaya yang menggerus fondasi hukum internasional dan memperlihatkan praktik imperialisme modern dalam bentuk nyata,” tulis ABI.

ABI juga menekankan narasi historis dalam tradisi Islam bahwa darah para syuhada tidak pernah memadamkan perjuangan. Sebaliknya, kesyahidan diyakini justru menguatkan tekad dan komitmen untuk melawan penjajahan, sekaligus membela kelompok-kelompok yang disebut tertindas.

Merespons perkembangan tersebut, ABI menyampaikan empat poin sikap resmi. Pertama, ABI menyatakan penghormatan tertinggi kepada Khamenei dan menyebutnya sebagai “syahid umat”, dengan penilaian bahwa ia telah menjalankan amanah kepemimpinan secara konsisten dan berani. Kedua, ABI menegaskan kembali sikap anti-penjajahan, termasuk penolakan atas dominasi maupun intervensi asing terhadap bangsa mana pun.

Ketiga, ABI menyerukan konsolidasi solidaritas umat Islam, khususnya pengikut Ahlulbait di Indonesia, dengan memperkuat persatuan serta meningkatkan literasi politik di tengah dinamika global yang dinilai semakin kompleks. Keempat, ABI mengajak penyelenggaraan majelis doa dan tilawah Al-Qur’an selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan sekaligus penguatan spiritual.

Berita Terkait