13 January 2026, 23:57

10 Jurusan Kuliah yang Dulu Dianggap “Pasti Cuan”, Kini Tak Lagi Otomatis Jamin Gaji Tinggi

Jurusan yang dulu identik dengan karier mapan—mulai dari bisnis, teknik, sampai ilmu komputer—dilaporkan mengalami penurunan nilai ekonomi lebih cepat

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Zainur Akbar
2,555
10 Jurusan Kuliah yang Dulu Dianggap “Pasti Cuan”, Kini Tak Lagi Otomatis Jamin Gaji Tinggi
Foto: Ilustrasi mahasiswa. (Dokumentasi Freepik)

JAKARTA, Perspektif.co.id - Kemajuan kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan perubahan cepat kebutuhan keterampilan membuat “resep lama” untuk meraih gaji tinggi makin tidak saklek. Jurusan yang dulu identik dengan karier mapan—mulai dari bisnis, teknik, sampai ilmu komputer—dilaporkan mengalami penurunan nilai ekonomi lebih cepat dibanding satu dekade lalu, seiring ilmu dan skill yang dipelajari di kampus lebih cepat kedaluwarsa di pasar kerja. 

Fenomena ini kerap disebut degree fatigue, ketika gelar akademik tetap penting, tetapi daya jualnya tidak lagi otomatis menempel sepanjang karier tanpa pembaruan kompetensi. Dalam riset David J. Deming dan Kadeem Noray tentang perubahan skill kerja dan karier STEM, peneliti menyoroti bahwa imbal hasil awal dari gelar-gelar terapan bisa terkikis tajam seiring perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang bergerak lebih cepat. Bahkan, riset tersebut mencatat pengembalian ekonomi awal dari gelar STEM terapan dapat turun lebih dari 50% dalam 10 tahun pertama masa kerja, beriringan dengan makin cepatnya skill di pekerjaan teknis berubah. 

Dampak “ketidakpastian premium gelar” itu juga terasa di level pendidikan elite. Sejumlah laporan tentang pasar kerja MBA di AS menyoroti makin ketatnya perebutan posisi bergaji tinggi, termasuk di sekolah bisnis papan atas. Salah satu laporan menyebut, tiga bulan setelah kelulusan, sekitar 23% lulusan MBA Harvard Business School angkatan 2024 masih menganggur—angka yang naik dibanding tahun-tahun sebelumnya, di tengah turunnya rekrutmen dari sebagian perusahaan konsultan dan teknologi. 

Sementara itu, di sisi lain spektrum, jurusan-jurusan humaniora juga mengalami tekanan minat sejak lama. Data di Harvard menunjukkan proporsi mahasiswa humaniora menurun dalam tren jangka panjang, mencerminkan pergeseran preferensi ke program yang dianggap lebih “langsung kerja”. 

Perubahan selera kampus itu berjalan seiring dengan pergeseran cara perusahaan menilai kandidat. Laporan Harvard Business School tentang degree reset menyoroti kecenderungan pemberi kerja mengurangi syarat gelar “generik” dan lebih menekankan keterampilan yang bisa dibuktikan, terutama yang terkait kemampuan digital dan kebutuhan spesifik pekerjaan. 

Dalam konteks itu, sejumlah daftar “jurusan yang nilai pasarnya menurun” ramai beredar, salah satunya dirangkum India Today dengan merujuk temuan dan pembacaan pasar kerja terbaru. Berikut 10 jurusan yang disebut mengalami penurunan nilai ekonomi jangka panjang, beserta alasan umumnya: 

  1. Administrasi Bisnis (termasuk MBA): pasar kerja makin padat, preferensi rekrutmen berubah, dan “nama gelar” tak lagi cukup tanpa skill relevan. 
  2. Ilmu Komputer: gaji awal bisa tinggi, tetapi skill cepat usang jika tidak rutin upskilling
  3. Teknik Mesin: terdampak otomatisasi dan relokasi/produksi global, membuat sebagian peran makin tertekan. 
  4. Akuntansi: semakin banyak fungsi yang disederhanakan oleh perangkat lunak dan otomasi berbasis data/AI. 
  5. Biokimia: peluang industri dapat lebih sempit dibanding ekspektasi, sering terkonsentrasi pada jalur akademik/riset spesifik. 
  6. Psikologi (S1): jalur karier sering menuntut studi lanjut untuk akses profesi dan kenaikan pendapatan. 
  7. Bahasa Inggris & Humaniora: peminat turun dan nilai pasar kerja dianggap kurang “langsung”, kecuali dipadukan dengan skill terapan. 
  8. Sosiologi & Ilmu Sosial: dinilai kurang selaras dengan kebutuhan industri tertentu jika tanpa kompetensi tambahan yang terukur. 
  9. Sejarah: premi upah pertengahan karier cenderung lebih rendah dibanding bidang yang sangat teknis.
  10. Filsafat: kemampuan berpikir kritis tinggi, tetapi sering sulit “dipasarkan” langsung tanpa portofolio/skill pendamping. 

Meski daftar tersebut menyorot jurusan yang “turun pamor”, intinya bukan berarti jurusannya tiba-tiba tidak berguna, melainkan nilai ekonominya makin bergantung pada strategi upskilling, pengalaman, dan kombinasi kompetensi lintas bidang. Dalam laporan yang sama, ditekankan bahwa gelar tidak benar-benar “mati”, tetapi definisi nilainya berubah. “The college degree isn’t dead, but its definition of value is changing,” tulis laporan tersebut. 

Berita Terkait