10 January 2026, 20:22

Waspada “Super Flu”, Bali Perketat Pengawasan Sampai Puskesmas dan Pintu Masuk

Pemerintah Provinsi Bali mulai memperketat pengawasan kesehatan menyusul ancaman virus Influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan populer disebut “super flu”

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,594
Waspada “Super Flu”, Bali Perketat Pengawasan Sampai Puskesmas dan Pintu Masuk
Ilustrasi. Bali perketat pengawasan, antisipasi virus 'Super Flu'. (iStockphoto/Lord Baileys)

Perspektif.co.id - Pemerintah Provinsi Bali mulai memperketat pengawasan kesehatan menyusul ancaman virus Influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan populer disebut “super flu”. Hingga saat ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali menyatakan belum menemukan kasus positif di Pulau Dewata. Meski begitu, kewaspadaan ditingkatkan hingga level terbawah pelayanan kesehatan, yakni Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menegaskan langkah antisipasi dilakukan sebagai upaya deteksi dini agar respons penanganan bisa berjalan cepat bila muncul indikasi peningkatan kasus influenza yang tidak wajar.

“Kondisi di Bali saat ini sebenarnya masih aman, namun kami tetap waspada. Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan monitoring hingga ke tingkat Puskesmas,” ujar Raka Susanti, Jumat (9/1) waktu setempat.

Menurutnya, pemantauan dilakukan melalui Early Alert Response System atau Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Melalui sistem itu, Dinkes akan memantau pola penyakit yang masuk kategori influenza-like illness. Bila SKDR menangkap lonjakan kasus yang dinilai tidak wajar, petugas kesehatan akan langsung turun ke lapangan untuk memastikan kondisi di wilayah terdampak.

Raka menjelaskan, prosedur yang disiapkan mencakup verifikasi laporan dan penyelidikan epidemiologi, kunjungan langsung ke lokasi, hingga konfirmasi kasus melalui pengujian laboratorium secara lebih intensif. Pola tersebut disiapkan agar laporan yang terdeteksi sistem tidak berhenti pada data semata, melainkan segera ditindaklanjuti melalui pemeriksaan di lapangan.

Di sisi lain, Dinkes Bali juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru panik. Raka menekankan, tidak semua gejala flu dapat langsung disimpulkan sebagai “super flu”. Apalagi, saat ini berada dalam masa transisi musim, sementara mobilitas masyarakat—termasuk pergerakan wisatawan—juga sedang tinggi sehingga keluhan flu yang muncul bisa saja merupakan flu musiman biasa.

Sebagai destinasi wisata internasional, Bali dinilai memiliki risiko transmisi yang lebih tinggi dibanding wilayah lain karena menjadi titik pertemuan wisatawan dari berbagai negara. Peningkatan arus kedatangan itu dapat menjadi salah satu jalur potensial penyebaran virus saluran pernapasan, terlebih influenza diketahui dapat menular cepat melalui percikan udara (airborne droplets).

“Sebagai langkah pencegahan, kami bekerja sama dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) di pintu-pintu masuk Bali. Pemeriksaan suhu tubuh kembali diperketat karena salah satu gejala utamanya adalah demam tinggi,” kata Raka.

Belajar dari pengalaman pandemi COVID-19, ia memastikan kesiapan fasilitas kesehatan di Bali juga telah diperkuat, baik dari sisi peralatan maupun tenaga medis. “Rumah sakit di Bali sudah siap. Kami memiliki 120 Puskesmas dan RSUD di seluruh kabupaten, ditambah lagi dengan dukungan rumah sakit swasta yang sangat aksesibel,” ujarnya.

Berita Terkait