TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Valve melakukan sesuatu yang jarang terjadi di panggung industri game: secara terbuka meminta bantuan peserta Game Developers Conference (GDC) 2026 untuk membantu menemukan pasokan RAM. Permintaan itu disampaikan oleh perwakilan Valve, Kaci Aitchison Boyle dan Tom Giardino, dalam sesi presentasi resmi perusahaan di GDC, San Francisco, pertengahan Maret 2026. Jurnalis teknologi Hayden Dingman yang hadir langsung di acara tersebut mengutip pernyataan perwakilan Valve kepada para pengembang dan produsen perangkat keras di ruangan itu.
“Jika kamu punya akses ke stok RAM dalam jumlah besar, kami sedang mencarinya dan ingin membelinya,” ujar perwakilan Valve di hadapan peserta GDC 2026.
Pernyataan itu—meski disampaikan dengan nada setengah bercanda—mencerminkan betapa seriusnya tekanan yang dihadapi Valve dalam memproduksi tiga lini perangkat keras terbarunya: Steam Machine, Steam Frame, dan Steam Deck OLED. Seperti dilaporkan GamesRadar dan PC Guide, Valve bulan Februari lalu telah mengakui bahwa keterbatasan pasokan dan lonjakan harga komponen memori memaksa perusahaan untuk meninjau ulang jadwal peluncuran dan penetapan harga produk-produknya. Dalam pernyataan resminya saat itu, Valve menyebut: “Ketersediaan yang terbatas dan harga yang terus meningkat dari komponen-komponen kritis ini berarti kami harus meninjau kembali jadwal pengiriman dan penetapan harga kami.”
Meski demikian, dalam presentasi GDC yang sama, Valve menegaskan bahwa Steam Machine masih ditargetkan meluncur pada 2026. Perusahaan turut memperkenalkan panduan sertifikasi Steam Machine Verified, yang mewajibkan game berjalan pada resolusi native 1080p dengan frame rate stabil 30 fps agar memperoleh label tersebut. Setiap game yang sudah berstatus Steam Deck Verified secara otomatis akan mendapatkan sertifikasi Steam Machine, meski hardware terbaru ini diklaim enam kali lebih bertenaga dari Steam Deck.
Krisis yang melanda Valve merupakan imbas langsung dari kelangkaan DRAM global yang makin mengkhawatirkan. Seperti dilaporkan Tom’s Hardware dan Windows Central, pabrikan memori terbesar dunia—Samsung, Micron, dan SK Hynix—telah mengalihkan kapasitas produksi DRAM mereka secara masif ke segmen akselerator kecerdasan buatan (AI) dan pusat data, menyusut pasokan untuk kebutuhan konsumen. Samsung dilaporkan telah menaikkan harga DRAM lebih dari 100% dan berencana melakukan kenaikan lanjutan sepanjang 2026. Analis Cirini, Jukan, memperingatkan bahwa harga memori bahkan berpotensi melampaui proyeksi yang sudah ada akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang turut mengguncang rantai pasokan semikonduktor global.
Situasi tersebut telah memaksa IDC merevisi drastis proyeksi pasarnya. Berdasarkan laporan terbaru IDC Worldwide Quarterly Personal Computing Device Tracker yang dikutip MacTech.com dan InfotechLead, lembaga riset teknologi internasional itu memangkas perkiraan pengiriman PC global 2026 menjadi minus 11,3 persen—penurunan paling curam dalam lebih dari satu dekade dan jauh lebih buruk dari proyeksi minus 2,4 persen yang dikeluarkan IDC pada November 2025. Dalam angka absolut, ini berarti penjualan PC global akan merosot sekitar 32,17 juta unit, dari 284,7 juta unit di 2025 menjadi 252,53 juta unit tahun ini.
“Era PC dan tablet berharga terjangkau sudah berakhir untuk saat ini, seiring naiknya harga jual rata-rata dan biaya komponen yang menggeser keseimbangan pasar,” kata Jitesh Ubrani, Research Manager IDC’s Worldwide Mobile Device Trackers, sebagaimana dikutip MacTech.com.
IDC menilai kelangkaan memori akan berlanjut hingga 2027, dengan normalisasi harga baru diharapkan terjadi tidak lebih cepat dari 2028. Sementara itu, firma riset Gartner bahkan menciptakan istilah baru, “memflation”, untuk menggambarkan inflasi harga DRAM sebesar 80 persen dan NAND sebesar 202 persen yang diproyeksikan terjadi sepanjang 2026, berdasarkan laporan analis dikutip iqondigital.com. Bagi konsumen, harga DDR5 RAM yang digunakan Steam Machine dilaporkan NotebookCheck telah melonjak hingga empat kali lipat sejak akhir 2025, membayangi kelayakan harga produk Valve di pasar konsumen.
Dengan kenyataan tersebut, langkah Valve meminta bantuan publik di GDC bukan sekadar candaan—melainkan sinyal nyata bahwa bahkan perusahaan teknologi kelas dunia pun tak luput dari jeratan krisis komponen yang tengah melanda ekosistem perangkat keras global.