10 May 2026, 13:24

Uni Eropa Mulai Waspada! Panel Surya China Disebut Bisa Lumpuhkan Listrik Eropa

Kebijakan yang diputuskan pada 4 Mei 2026 itu memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran Uni Eropa terhadap ketergantungan tinggi pada teknologi ramah lingkungan

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
8
Uni Eropa Mulai Waspada! Panel Surya China Disebut Bisa Lumpuhkan Listrik Eropa
Ilustrasi panel surya (via DW)

JAKARTA, Perspektif.co.id  – Komisi Eropa mulai mengambil langkah tegas terhadap teknologi panel surya asal China setelah muncul kekhawatiran serius terkait ancaman keamanan terhadap jaringan listrik di kawasan Eropa. Brussel kini membatasi penggunaan dana Uni Eropa untuk membeli teknologi surya tertentu buatan China karena dinilai berpotensi menimbulkan gangguan besar hingga pemadaman listrik massal.

Kebijakan yang diputuskan pada 4 Mei 2026 itu memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran Uni Eropa terhadap ketergantungan tinggi pada teknologi ramah lingkungan asal China, terutama pada sektor infrastruktur energi strategis.

Fokus utama pembatasan tersebut tertuju pada inverter surya atau perangkat pembalik daya yang selama ini menjadi bagian penting dalam sistem panel surya modern.

Perangkat inverter memiliki fungsi mengubah energi matahari menjadi listrik yang bisa digunakan dalam jaringan kelistrikan. Namun, perangkat tersebut juga terhubung dengan internet dan dapat dikendalikan dari jarak jauh untuk pembaruan perangkat lunak maupun pemeliharaan sistem.

Kondisi inilah yang memunculkan kekhawatiran serius di kalangan pakar keamanan siber Eropa.

Sekretaris Jenderal European Solar Manufacturing Council, Christoph Podewils, mengatakan hampir seluruh produsen inverter memiliki sistem pemutus darurat yang bisa dikendalikan dari jarak jauh.

“Semua perusahaan pembuat inverter memiliki semacam tombol emergency stop atau pemutus darurat,” kata Podewils.

Fitur tersebut pada dasarnya digunakan untuk alasan keamanan dan stabilisasi jaringan listrik. Namun para ahli menilai teknologi itu juga bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mengganggu sistem energi apabila jatuh ke tangan yang salah.

Pakar keamanan siber Swantje Westphal memperingatkan bahwa skenario terburuk dari kerentanan tersebut dapat menyebabkan pemadaman listrik berskala besar di Eropa.

“Skenario terburuknya adalah pemadaman listrik besar di seluruh Eropa,” ujar Westphal.

Menurut data Organisasi Riset Loom yang berbasis di Jenewa, sekitar 61 persen inverter yang diimpor ke Eropa sepanjang 2024 berasal dari China. Dua perusahaan asal China yakni Huawei dan Sungrow bahkan disebut mendominasi pasar inverter global dan Eropa.

Perusahaan-perusahaan tersebut diketahui telah memasok perangkat untuk lebih dari 220 gigawatt kapasitas pembangkit listrik tenaga surya yang terpasang di Eropa.

Podewils mengatakan pengendalian sekitar 10 gigawatt kapasitas listrik saja sudah cukup untuk menciptakan gangguan besar pada sistem jaringan listrik Eropa.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah laporan Reuters pada 2025 mengungkap otoritas energi Amerika Serikat menemukan perangkat komunikasi mencurigakan di sejumlah inverter buatan China.

“Ancaman ini nyata. Ini bukan hipotesis yang dibuat-buat,” kata Westphal.

Meski belum ditemukan kasus penggunaan inverter China untuk melumpuhkan jaringan listrik di Eropa, Uni Eropa mulai memperketat pengawasan terhadap impor teknologi energi dari Negeri Tirai Bambu.

Data Loom menyebut China saat ini memasok sekitar 98 persen panel surya dan 88 persen baterai lithium-ion yang digunakan di kawasan Eropa. Ketergantungan besar tersebut dinilai menciptakan kerentanan serius terhadap keamanan energi jangka panjang.

Sebagai respons, Uni Eropa mulai mengarahkan lebih banyak pendanaan pada teknologi hijau buatan Eropa melalui kebijakan baru yang diumumkan Komisi Eropa.

Selain itu, revisi aturan keamanan siber juga disiapkan guna memberikan kewenangan lebih besar kepada Brussel untuk membatasi keterlibatan perusahaan China pada sektor infrastruktur kritis seperti energi dan komunikasi.

Dalam kebijakan terbaru, dana Uni Eropa yang dikelola langsung Komisi Eropa maupun lembaga seperti Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan tidak lagi boleh digunakan membeli inverter surya buatan China.

Namun demikian, aturan tersebut tidak berlaku bagi pembelian langsung yang dilakukan masing-masing negara anggota Uni Eropa. Inverter China yang telah terpasang di berbagai negara Eropa juga masih diperbolehkan tetap beroperasi.

“Ini langkah ke arah yang benar, tapi kami belum melarang inverter buatan China dari pasar kami,” ujar Westphal.

Saat ini sekitar 80 persen sistem panel surya baru di Eropa masih menggunakan inverter buatan China. Meski demikian, Podewils optimistis produsen Eropa mampu memenuhi kebutuhan pasar apabila pembatasan diperluas.

Menurut Komisi Eropa, inverter buatan Eropa memang sekitar dua persen lebih mahal dibanding produk China. Namun biaya tambahan itu dianggap sepadan demi menjaga keamanan infrastruktur energi di masa depan.

“Ini seperti biaya asuransi,” kata Podewils.

Berita Terkait