INTERNASIONAL, Perspektif.co.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengancam akan menunda kunjungan kenegaraannya ke Beijing yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April 2026, jika pemerintah China tidak bersedia ambil bagian dalam koalisi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz yang lumpuh akibat konflik militer Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Pernyataan mengejutkan itu disampaikan Trump kepada Financial Times dalam sebuah wawancara eksklusif pada Minggu (15/3/2026), di tengah lonjakan harga minyak global yang terus memperburuk perekonomian domestik AS.
Trump menegaskan bahwa China, sebagai salah satu konsumen energi terbesar dunia, memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan aliran minyak melalui jalur strategis tersebut kembali normal. Selat Hormuz merupakan pintu gerbang maritim yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, dan sejak pecahnya perang Iran, kawasan itu nyaris tidak dapat dilalui kapal tanker secara aman. Ketegangan baru ini kini mengguncang stabilitas hubungan dua ekonomi terbesar di dunia yang sebelumnya tengah berjalan menuju rekonsiliasi diplomatik.
“Kami ingin tahu lebih dulu sebelum perjalanan itu terjadi apakah China akan membantu. Kami mungkin akan menundanya,” kata Trump dalam wawancara dengan Financial Times.
Dalam keterangan yang disampaikan kepada wartawan di atas pesawat Air Force One saat kembali ke Washington dari Florida, Trump mengaku AS sudah menghubungi sekitar tujuh negara untuk diminta dukungan militer di kawasan Hormuz, meskipun ia enggan menyebutkan nama-nama negara tersebut secara spesifik. Trump menyinggung posisi China dengan nada menantang, menyebutnya sebagai “studi kasus yang menarik” karena negara itu sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Washington sebelumnya telah berulang kali menuntut Beijing bergabung dalam upaya pengamanan selat, namun sejauh ini belum ada satu pun negara yang secara resmi menjawab seruan tersebut. Langkah itu menjadi bagian dari kalkulasi geopolitik Trump yang memanfaatkan kepentingan energi China sebagai kartu tekan di meja negosiasi diplomatik. Ancaman penundaan KTT ini muncul hanya lima bulan setelah Trump dan Xi Jinping bertemu di Busan, Korea Selatan, di mana kedua pihak sepakat untuk menghentikan perang tarif yang sempat mendorong bea masuk ke level tiga digit.
“Ini adalah studi kasus yang menarik. Jadi saya berkata, ‘Maukah kamu bergabung?’ Dan kita akan lihat. Mungkin ya, mungkin tidak,” ujar Trump kepada wartawan di atas Air Force One, dikutip AP.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent berupaya memperlunak pernyataan Trump sehari setelahnya, dengan menegaskan bahwa penundaan KTT — jika benar terjadi — bukan merupakan bentuk tekanan terhadap Beijing terkait Selat Hormuz, melainkan murni pertimbangan logistik karena Trump ingin tetap berada di Washington untuk mengkoordinasikan operasi militer di Iran. Pernyataan itu disampaikan Bessent dari Paris, tempat ia baru saja merampungkan pertemuan dua hari dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng guna mempersiapkan agenda perdagangan dan tarif menjelang KTT.
Bessent mengklaim kedua pihak menghasilkan kemajuan yang baik dan berjanji akan mengeluarkan pernyataan bersama soal stabilitas hubungan bilateral dalam beberapa hari ke depan. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt turut membenarkan bahwa penundaan pertemuan itu “sangat mungkin” terjadi, semakin memperjelas bahwa rencana kunjungan pertama Trump ke Beijing sejak 2017 itu kini benar-benar berada di ujung tanduk. Situasi ini menggarisbawahi betapa dalamnya dampak serangan AS-Israel terhadap Iran dalam merebut perhatian dan energi diplomatik Washington hanya dalam waktu dua pekan.
“Jika pertemuan itu karena satu alasan harus dijadwalkan ulang, maka itu bukan karena presiden menuntut China menjaga Selat Hormuz. Itu akan dijadwalkan ulang karena alasan logistik,” tegas Bessent dalam wawancara dengan CNBC di Paris.
Di sisi Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menghindari respons langsung atas permintaan Trump soal keterlibatan militer di Hormuz, dan alih-alih menyerukan penghentian segera seluruh aksi militer di kawasan tersebut. Sebelumnya, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington juga menyampaikan posisi ambigu, menyebut keamanan Selat Hormuz sebagai kepentingan bersama komunitas internasional tanpa berkomitmen pada tindakan konkret. Klaim Trump bahwa China menyedot 90 persen kebutuhan minyaknya melalui Hormuz pun dibantah sejumlah analis, di mana CNBC dan Al Jazeera menyebut angka sebenarnya berkisar antara 40 hingga 50 persen, sementara lembaga riset Nomura memperkirakan aliran minyak melalui selat itu hanya setara 6,6 persen dari total konsumsi energi China.
Di tengah tekanan itu, China bahkan baru saja menurunkan target pertumbuhan ekonominya untuk 2026 menjadi 4,5 hingga 5 persen — level terendah sejak 1991 — yang membuat gangguan berkepanjangan di Hormuz berpotensi memukul Beijing lebih keras dari yang selama ini diakui secara terbuka.
“China sekali lagi menyerukan semua pihak untuk segera menghentikan aksi militer, menghindari eskalasi ketegangan lebih lanjut, dan mencegah ketidakstabilan kawasan berdampak lebih besar pada pembangunan ekonomi global,” kata Lin Jian, dikutip AP.