13 May 2026, 12:50

Siswa SMAN 1 Pontianak Bongkar Alasan Berani Lawan Penilaian: “Kami Sangat Yakin Jawabannya Sama

Salah satu peserta dari SMAN 1 Pontianak, Almira, mengatakan timnya sejak awal memang menanamkan keterbukaan dan keberanian dalam proses latihan.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
308
Siswa SMAN 1 Pontianak Bongkar Alasan Berani Lawan Penilaian: “Kami Sangat Yakin Jawabannya Sama
Siswi SMAN 1 Pontianak peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI, Josepha Alexandra atau Ocha (tengah), berterima kasih atas dukungan yang diberikan masyarakat.

PONTIANAK, Perspektif.co.id - Keberanian peserta SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan juri dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia akhirnya terungkap. Para siswa menyebut kekompakan dan chemistry yang dibangun selama latihan menjadi faktor utama yang membuat mereka percaya diri mempertanyakan keputusan dewan juri saat perlombaan berlangsung.

Salah satu peserta dari SMAN 1 Pontianak, Almira, mengatakan timnya sejak awal memang menanamkan keterbukaan dan keberanian dalam proses latihan. Menurutnya, chemistry antaranggota tidak hanya dibangun untuk memenangkan lomba, tetapi juga agar mereka mampu saling mengoreksi ketika menemukan kekeliruan.

“Dari awal kita kan sudah menanamkan untuk chemistry, seperti yang sudah teman saya katakan tadi. Jadi ketika kita membangun chemistry ini juga kita saling terbuka, kemudian kita ini membangun rasa berani ketika kita punya salah? Kemudian ada yang perlu di evaluasi,” kata Almira saat ditemui di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026).

Ia menjelaskan keberanian memprotes juri muncul karena timnya merasa jawaban yang mereka berikan memiliki substansi yang sama dengan jawaban tim lain yang justru memperoleh poin penuh.

“Nah, ketika host itu melemparkan soal kepada grup A dan juga grup B, grup B menjawab dengan jawaban yang sama. Sangat sama sekali, secara substansi juga sama. Kemudian diberikan nilai 10 poin oleh juri,” ujarnya.

Menurut Almira, timnya benar-benar terkejut ketika jawaban serupa mendapat perlakuan berbeda dari juri. Ia menyebut kesamaan jawaban tersebut bahkan hampir identik secara kalimat.

“Maka di situ kami juga kaget, jujur kita kaget sekali karena memang tidak hanya secara substansi tapi secara kalimat yang dilontarkan Ocha sebagai tim C dan juga dengan tim B itu memiliki kesamaan yang persis. Makanya kami di situ pede sekali untuk bisa protes kepada dewan juri,” lanjutnya.

Peserta lainnya, Zein, mengatakan chemistry di dalam tim sengaja dibangun agar suasana kompetisi tidak hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi juga menciptakan pengalaman dan memori bersama selama proses latihan.

“Sebenarnya kami tuh fokusnya bukan belajar doang ya. Jadi kami juga membangun tim ini dengan chemistry dengan tujuan untuk, jadi untuk lomba kita ini nggak semena-mena untuk menang doang gitu. Jadi kita juga ada memori yang kita bangun,” kata Zein.

Ia menjelaskan evaluasi rutin selalu dilakukan setiap selesai latihan. Dalam evaluasi tersebut, seluruh anggota tim diminta terbuka dan tidak membawa perasaan pribadi agar kekompakan tetap terjaga.

“Kalau evaluasi setiap penghujung antara kami latihan itu selalu ada, terutama dari pembimbing kami di sini. Kemudian dari antar teman juga, karena kami di sini dari awal bertemu, pertemuan pertama kami menekankan harus terbuka. Jadi nggak usah bawa perasaan gitu,” ujarnya.

Sementara itu, siswi peserta bernama Josepha Alexandra atau Ocha turut menyampaikan terima kasih atas dukungan luas masyarakat setelah video protes mereka viral di media sosial.

“Dari saya dan tim berterima kasih kepada masyarakat atas dukungan dan aspirasi positifnya kepada kami. Semoga hal ini dapat menjadi semangat dan motivasi kami untuk berkembang dan maju lagi ke depannya,” kata Ocha.

Polemik LCC Empat Pilar MPR RI sebelumnya ramai diperbincangkan publik setelah video penilaian juri viral di media sosial. Dalam lomba tersebut, Grup C dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus lima saat menjawab pertanyaan mengenai proses pemilihan anggota BPK.

Namun, jawaban serupa dari Grup B SMAN 1 Sambas justru diberi nilai 10 oleh juri yang sama, yakni Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita. Saat diprotes, juri menyatakan jawaban Grup C tidak menyebut Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara jelas.

Berita Terkait