Perspektif.co.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali melanjutkan pelemahan pada perdagangan Senin, 17 November 2025, setelah sepanjang pekan lalu bergerak volatile dan ditutup terkoreksi tipis. Pada penutupan Jumat (14/11), IHSG berada di level 8.370,4, turun 0,02 persen, meski sepanjang sesi sempat bergerak di zona hijau.
Tekanan jual meningkat menjelang penutupan, terutama dari saham-saham sektor perindustrian yang mengalami koreksi terdalam. Sebaliknya, sektor infrastruktur menjadi penopang dengan mencatatkan penguatan tertinggi. Di waktu yang sama, nilai tukar rupiah justru menguat stabil di sekitar Rp16.707 per dolar AS.
Secara teknikal, berbagai indikator mulai memperlihatkan sinyal pelemahan jangka pendek. Histogram MACD masih berada di area positif namun momentum kenaikannya melambat, membuka peluang terjadinya death cross. Sementara itu, Stochastic RSI berada di area overbought, menandakan pasar berpotensi mengalami koreksi lanjutan. Volume jual juga masih mendominasi dan garis A/D mengindikasikan terjadinya distribusi. IHSG pun ditutup di bawah MA5.
Dengan kondisi tersebut, analis memperkirakan IHSG berpotensi melemah ke area 8.300–8.325 pada awal pekan mendatang. Meski demikian, dalam jangka menengah-panjang IHSG dinilai masih berada dalam tren bullish selama mampu bertahan di atas support mayor.
Pekan ini IHSG tercatat melemah 0,29 persen, sejalan dengan mayoritas indeks di bursa Asia yang tertekan sentimen negatif dari Wall Street. Selain itu, pasar global turut merespons data ekonomi China yang menunjukkan perlambatan signifikan.
Data China Oktober vs September (Untuk Perbandingan yang Lebih Jelas)
Industrial Production (IP):
- Oktober 2025: tumbuh 4,9% YoY
September 2025: tumbuh 6,5% YoY
Penurunan 1,6 poin persentase, sekaligus level terendah sejak Agustus 2024.
Retail Sales:
- Oktober 2025: naik 2,9% YoY
September 2025: naik 3,0% YoY
Turun tipis 0,1 poin, mengindikasikan konsumsi belum pulih kuat.
Pelemahan kinerja ekonomi China ini terjadi di tengah melemahnya aktivitas manufaktur, pertambangan, serta dampak libur panjang Hari Nasional Oktober.
Di dalam negeri, fokus investor pekan depan akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang digelar Rabu, 19 November 2025. Pasar menanti sinyal kebijakan suku bunga di tengah stabilnya inflasi dan menguatnya rupiah. Selain itu, data pertumbuhan kredit dan M2 Money Supply yang akan dirilis Jumat (21/11) juga diprediksi menjadi penentu arah pasar berikutnya.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang layak dicermati investor untuk trading hari Senin (17/11), antara lain:
- ANTM
- MAPI
- MAIN
- SMDR
- DOID
Dengan meningkatnya ketidakpastian global dan domestik, investor disarankan tetap berhati-hati dan memanfaatkan momentum koreksi untuk mencermati saham-saham berfundamental kuat yang mengalami penurunan terbatas.***