14 December 2025, 16:15

Semeru “Batuk” 83 Kali Sejak Dini Hari, Status Masih Siaga dan Warga Diminta Jauhi Besuk Kobokan

Aktivitas Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan intensitas tinggi.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,829
Semeru “Batuk” 83 Kali Sejak Dini Hari, Status Masih Siaga dan Warga Diminta Jauhi Besuk Kobokan
Gunung Semeru yang saat ini berada dalam status level III atau siaga itu mengalami 83 kali gempa letusan. (Dok. PVMBG)

Lumajang,Perspektif.co.id - Aktivitas Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan intensitas tinggi. Sepanjang pengamatan sejak Minggu (14/12) dini hari hingga siang, kegempaan didominasi gempa letusan dengan total 83 kejadian, membuat status gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu tetap bertahan pada Level III (Siaga). 

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, melaporkan pada periode pukul 06.00-12.00 WIB saja terekam 40 kali gempa letusan/erupsi, dengan amplitudo 10-22 mm dan durasi 66-173 detik. “Pada periode pengamatan enam jam terakhir pada Minggu pukul 06.00-12.00 WIB tercatat 40 kali gempa letusan/erupsi,” kata Mukdas dalam laporan tertulis. 

Di luar gempa letusan, dalam periode yang sama Semeru juga tercatat mengalami tiga kali gempa embusan (amplitudo 4-8 mm) serta dua kali gempa tektonik jauh (amplitudo 15 mm). Dari sisi visual, kondisi puncak gunung tidak terpantau jelas lantaran tertutup kabut. “Gunung Semeru tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah utara dan timur laut,” ujarnya. 

Sementara itu, pada periode pengamatan sebelumnya (00.00-06.00 WIB), seismograf mencatat 43 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-23 mm. Selain itu, terekam pula empat kali gempa guguran (amplitudo 2-8 mm) dan delapan kali gempa embusan (amplitudo 3-8 mm). Jika digabung, catatan 00.00-12.00 WIB menunjukkan total 83 gempa letusan dalam setengah hari pertama pengamatan. 

Dengan status Level III (Siaga) yang masih berlaku, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali menegaskan zona bahaya yang wajib dipatuhi masyarakat. PVMBG meminta warga tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Di luar radius itu, warga juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan) di sepanjang Besuk Kobokan karena berisiko terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. 

PVMBG juga melarang aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Semeru mengingat potensi bahaya lontaran batu pijar. Selain itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungai dari Besuk Kobokan. 

Catatan pemantauan ini menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca dan kondisi visual yang tertutup kabut bukan berarti aktivitas mereda. Otoritas vulkanologi mengimbau masyarakat terus mengikuti informasi resmi dan mematuhi rekomendasi keselamatan, mengingat karakter Semeru yang dapat memicu bahaya ikutan seperti APG dan lahar, terutama di jalur-jalur aliran sungai dari arah puncak.

Berita Terkait