TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — CEO Microsoft Satya Nadella dilaporkan memberikan mandat tanpa batas anggaran kepada Asha Sharma, bos baru Microsoft Gaming, untuk menyelamatkan merek Xbox yang tengah dilanda krisis kepercayaan dan anjloknya penjualan perangkat keras. Kabar ini mencuat dari bocoran pertemuan internal Xbox Town Hall yang digelar pada 5 Maret 2026, di mana VP Xbox Games Marketing Aaron Greenberg mengunggah foto Nadella mengenakan hoodie Xbox bersama Sharma — momen yang kemudian memantik spekulasi luas di kalangan komunitas gamer global.
Bocoran tersebut pertama kali disebarkan oleh leaker gaming terkemuka asal Spanyol, eXtas1s, melalui sebuah video YouTube tak lama setelah pertemuan berlangsung. Menurutnya, Nadella secara tertutup meyakinkan karyawan bahwa Sharma mendapat dukungan penuh dan sebuah “cek kosong” untuk menghidupkan kembali brand Xbox, berapa pun biayanya.
Namun Microsoft langsung angkat bicara untuk meluruskan klaim tersebut. Perusahaan menegaskan bahwa kutipan soal “cek kosong” tidak pernah diucapkan oleh Nadella, dan pernyataan yang beredar di media sosial itu tidak berdasar. Kendati demikian, Microsoft menekankan bahwa mereka menaruh kepercayaan penuh pada tim Xbox saat ini.
Penunjukan Sharma sendiri terjadi di tengah badai internal yang mengguncang divisi gaming Microsoft. Laporan keuangan terbaru Microsoft mengungkap penurunan pendapatan gaming sebesar 9% secara tahunan, disertai anjloknya penjualan hardware Xbox hingga 32% — sebuah sinyal krisis yang memaksa pergantian kepemimpinan besar-besaran. Phil Spencer, yang telah mengabdi selama 38 tahun dan bergabung dengan divisi Xbox sejak 2001, resmi pensiun pada 23 Februari 2026. Bersamaan dengan itu, Sarah Bond, mantan Presiden Xbox yang disebut-sebut sebagai penerus Spencer, juga memilih hengkang dari Microsoft.
Sharma merupakan pilihan yang mengejutkan, sebab ia tidak memiliki pengalaman sebelumnya memimpin industri game dan rekam jejak terbatas sebagai gamer — sebuah fakta yang memicu skeptisisme di lingkaran industri gaming. Namun ia membawa keahlian dalam mengelola platform teknologi berskala besar, kepercayaan langsung dari Nadella, dan keyakinan kuat terhadap potensi AI dalam mentransformasi setiap lini bisnis.
Dalam memo perdananya kepada karyawan, Sharma menegaskan komitmennya terhadap kualitas konten di atas segalanya.
“Seiring monetisasi dan AI berkembang dan memengaruhi masa depan ini, kami tidak akan mengejar efisiensi jangka pendek atau membanjiri ekosistem kami dengan sampah AI yang tidak berjiwa,” tulisnya. “Game adalah dan akan selalu menjadi seni, yang diciptakan oleh manusia, dan dibuat dengan teknologi paling inovatif yang kami sediakan.”
Sharma juga menyuarakan ambisi untuk memulihkan identitas asli Xbox yang selama ini dianggap telah pudar
“Saya ingin kembali pada semangat pemberontak yang membangun Xbox sejak awal. Itu mengharuskan kita untuk tanpa henti mempertanyakan segalanya, meninjau ulang proses, melindungi apa yang berhasil, dan cukup berani untuk mengubah apa yang tidak,” kata Sharma.
Di sisi hardware, gebrakan pertama Sharma langsung mencuri perhatian industri. Microsoft mengkonfirmasi tengah mengerjakan konsol generasi berikutnya dengan nama sandi Project Helix — sebuah perangkat yang dirancang untuk memainkan game Xbox sekaligus game PC, menandai pergeseran strategi hardware yang signifikan dari pendekatan sebelumnya. Detail teknis lengkap dan pengungkapan resmi dijadwalkan berlangsung saat Game Developers Conference (GDC) dibuka di San Francisco pekan depan.
Sharma menyebut perangkat tersebut sebagai bagian dari “komitmen untuk kembalinya Xbox” dan menjanjikan bahwa konsol itu akan “memimpin dalam performa.” Sementara Nadella dalam satu kesempatan menyatakan: “Kami membangun konsol karena kami ingin membangun PC yang lebih baik, yang kemudian bisa tampil optimal untuk gaming.”
Meski antusiasme mulai tumbuh, skeptisisme dari dalam industri belum sepenuhnya mereda. Analis Dr. Serkan Toto, CEO dan pendiri Kantan Games, memberikan penilaian keras: “Ini mungkin upaya terakhir Microsoft untuk membuat bisnis hardware mereka berhasil,” dan memperingatkan bahwa “tidak ada seorang pun di industri ini yang percaya akan ada Xbox berikutnya jika mesin berikutnya ini gagal.”
Senada dengan itu, ko-kreator Xbox Seamus Blackley secara terbuka menyatakan keraguan bahwa divisi ini masih memiliki masa depan, dengan klaim bahwa divisi gaming Microsoft sedang dalam proses dimatikan secara perlahan. Analis veteran Michael Pachter juga menyuarakan pandangan serupa, menilai langkah-langkah yang diambil belum cukup meyakinkan untuk membalik arus.
Nadella sendiri menyatakan keyakinannya pada duet kepemimpinan baru ini. “Bersama, Asha dan Matt memiliki kombinasi yang tepat antara kepemimpinan produk konsumen dan kedalaman gaming untuk mendorong inovasi platform dan pipeline konten kami ke depan,” tulisnya dalam memo resmi Microsoft.
Kini, dengan Project Helix sebagai kartu truf dan mandat penuh dari pimpinan tertinggi Microsoft, Sharma menghadapi ujian terbesar dalam karier eksekutifnya — menentukan apakah Xbox akan kembali relevan di tengah dominasi PlayStation dan Nintendo, atau justru menjadi babak penutup dari salah satu merek gaming paling ikonik dalam sejarah.