TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Microsoft kembali menjadi sorotan global setelah analis teknologi Ben Thompson menyatakan bahwa masa depan bisnis konsol Xbox berada pada titik paling rapuh sejak pertama kali diluncurkan dua dekade lalu. Pernyataan itu muncul di tengah perubahan besar di internal perusahaan, termasuk pensiunnya Phil Spencer dan penunjukan Asha Sharma—eksekutif AI tanpa latar belakang industri game—sebagai pemimpin baru divisi Xbox.
Dalam analisisnya, Thompson menilai keputusan Microsoft mempertahankan lini hardware Xbox selama ini justru menahan potensi perusahaan untuk bergerak lebih agresif di ranah cloud dan layanan digital. Ia menegaskan bahwa momentum perubahan ini seharusnya terjadi jauh lebih awal, terutama setelah performa penjualan Xbox Series X|S yang tertinggal dari kompetitor dan tidak mampu menyamai capaian generasi sebelumnya.
“Microsoft seharusnya keluar dari bisnis konsol satu dekade lalu,” ujar Thompson, menyoroti bahwa keputusan mempertahankan hardware justru membuat perusahaan kehilangan fokus strategis.
Data penjualan yang dikutip CNBC menunjukkan bahwa Xbox Series X|S hanya mencapai sekitar 30 juta unit secara global—angka yang bahkan tidak mencapai setengah dari total penjualan Xbox One sepanjang masa. Kondisi ini terjadi ketika pasar konsol secara keseluruhan mengalami kontraksi, sementara model bisnis berbasis layanan dan cloud gaming terus tumbuh.
Penunjukan Asha Sharma sebagai pengganti Phil Spencer juga memicu spekulasi bahwa Microsoft sedang menyiapkan pergeseran besar. Sharma sebelumnya dikenal sebagai eksekutif yang memimpin berbagai inisiatif AI dan produktivitas, bukan industri game. Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa Microsoft mungkin akan mengalihkan fokus dari hardware ke ekosistem software dan layanan lintas platform.
“Pengangkatan Sharma menunjukkan prioritas baru Microsoft—bukan lagi konsol, tetapi masa depan yang ditenagai AI dan cloud,” tulis Thompson dalam analisanya.
Di tengah perubahan ini, komunitas gamer dan industri game global menunggu langkah resmi Microsoft. Sejumlah analis menilai bahwa perusahaan bisa saja mengakhiri produksi hardware Xbox secara bertahap dan mengalihkan seluruh sumber daya ke layanan seperti Game Pass dan cloud gaming, yang kini menjadi pilar utama strategi perusahaan.
Sementara itu, artikel terkait berjudul “2026.09: This Was an Xbox” yang muncul dalam konteks diskusi ini semakin memperkuat spekulasi bahwa era konsol fisik Microsoft mungkin benar-benar mendekati akhir. Jika prediksi itu terbukti, industri game akan menghadapi salah satu pergeseran terbesar dalam sejarah modernnya.