09 March 2026, 14:51

Saham Micron Terjun Bebas 6,74% Senilai Rp207 Triliun Diperdagangkan, Krisis Selat Hormuz Hancurkan Chip Global

Krisis Selat Hormuz hantam saham Micron hingga 6,74%. Samsung & SK Hynix ikut terseret. Semua mata tertuju ke earnings 18 Maret 2026.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
351
Saham Micron Terjun Bebas 6,74% Senilai Rp207 Triliun Diperdagangkan, Krisis Selat Hormuz Hancurkan Chip Global
Saham Micron terjun 6,74% dipicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran, menyeret Philadelphia Semiconductor Index ke penurunan terbesar 2026. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Saham Micron Technology (NASDAQ: MU) mengalami salah satu hari terburuknya dalam beberapa bulan terakhir, ambles 6,74 persen dalam satu sesi pada Jumat, 6 Maret 2026.  Lebih dari 12,83 miliar dolar AS—setara Rp 207,8 triliun—saham perusahaan berpindah tangan hanya dalam satu hari, menjadikannya saham keempat paling aktif diperdagangkan di Wall Street —sebuah sinyal bahwa kepanikan investor sudah berada di level yang tidak bisa diabaikan.

Pangkal kerusakan ini bukan datang dari dalam industri chip itu sendiri, melainkan dari sebuah celah sempit di ujung Teluk Persia. Selat Hormuz telah berada dalam kondisi de facto tertutup menyusul eskalasi militer dramatis yang dipicu oleh serangan udara koordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas militer, situs nuklir, dan kepemimpinan Iran pada 28 Februari 2026—yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury—yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Pada 2 Maret 2026, seorang pejabat senior IRGC secara resmi mengonfirmasi bahwa selat tersebut ditutup, sekaligus mengancam setiap kapal yang berani melintasinya.

Nasdaq tergelincir lebih dari 2 persen sementara harga minyak mentah Brent menembus 84 dolar AS per barel—sekitar Rp 1,36 juta—memicu kekhawatiran inflasi yang secara historis menjadi musuh utama saham-saham teknologi bervaluasi tinggi. Bagi Korea Selatan yang mengimpor mayoritas kebutuhan energinya, dampak langsung terasa di lantai bursa. Saham Samsung Electronics tertekan 3,37 persen sementara SK Hynix melemah 1,81 persen —dua raksasa memori yang menjadi tulang punggung rantai pasok chip global bersama Micron.

Indeks Philadelphia Semiconductor Index ambruk 4,58 persen—penurunan terbesar di antara semua indeks sektoral hari itu. Semua 30 konstituen indeks tersebut mencatatkan koreksi, dengan Micron Technology sebagai komponen yang paling parah dengan koreksi 8 persen secara intraday sebelum menutup sesi, sementara Intel, KLA, Applied Materials, dan Lam Research masing-masing tertekan sekitar 6 persen.

Jeffrey O’Connor, kepala struktur pasar ekuitas AS di Liquidnet, memperingatkan bahwa dampak konflik yang berkepanjangan berpotensi menekan pasar lebih lama dari perkiraan investor.

“Beban dari potensi konflik yang berkepanjangan bisa menekan pasar selama berminggu-minggu,” ujarnya, menegaskan bahwa meski secara historis pasar ekuitas AS mampu melewati guncangan geopolitik, penutupan Selat Hormuz adalah hal yang sama sekali tidak bisa dianggap remeh.

Gaurab Chakrabarti, salah satu pendiri sekaligus CEO perusahaan kimia manufaktur AS Solugen, memublikasikan analisis menohok di platform X yang langsung memicu perdebatan luas di kalangan investor dan analis industri global.

“Selat Hormuz telah tertutup delapan hari. Semua orang berpikir ini soal minyak. Ini sebenarnya soal apa yang menjadi produk turunan dari minyak itu,” tulisnya, merujuk pada dampak berantai terhadap produksi sulfur, semikonduktor, dan rantai pasok pupuk pertanian dunia yang semuanya terikat pada aliran energi dari kawasan itu.

Krisis ini juga secara langsung menyentuh Taiwan—jantung produksi semikonduktor dunia. Qatar memasok sekitar 30 persen kebutuhan gas alam cair Taiwan, sebagian besar diangkut melalui Selat Hormuz. TSMC, yang memproduksi sekitar 90 persen semikonduktor paling canggih di dunia, mengonsumsi hampir 9 persen dari total pasokan listrik Taiwan —sebuah ketergantungan energi yang kini menjadi titik kerentanan strategis baru yang tidak bisa diabaikan para investor global.

Merespons kekacauan ini, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa ia telah mengarahkan U.S. International Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan asuransi risiko politik bagi seluruh perdagangan maritim yang melintas Teluk dengan premi yang terjangkau, dan bahwa Angkatan Laut AS siap memulai operasi konvoi bagi tanker-tanker yang hendak melintas Selat Hormuz sesegera mungkin bila diperlukan. Meski pengumuman itu sempat memangkas sebagian kerugian di sesi siang, sentimen pasar tidak pulih sepenuhnya hingga penutupan.

Ironisnya, di tengah badai geopolitik ini, fundamental bisnis Micron sendiri justru tengah berada di salah satu titik terkuat sepanjang sejarahnya. Pada 3 Maret 2026—hanya tiga hari sebelum aksi jual besar-besaran—perusahaan yang bermarkas di Boise, Idaho ini mengumumkan pengiriman sampel pelanggan untuk modul SOCAMM2 LPDRAM berkapasitas 256GB, produk memori berdaya rendah berkapasitas tertinggi yang pernah ada untuk pusat data AI, menggunakan die LPDDR5X monolitik 32Gb pertama di industri.

Goldman Sachs, yang belakangan mempertahankan target harga Micron di angka 360 dolar AS—setara Rp 5,83 juta per lembar saham—memperkirakan investor akan terus menyoroti tingkat kekurangan pasokan di segmen DRAM dan NAND serta durasi pertumbuhan harga di kedua pasar tersebut, dengan proyeksi upside yang kuat terhadap estimasi konsensus Street. Firma riset IDC bahkan memperingatkan bahwa pasar smartphone global menghadapi penurunan year-on-year terbesar sepanjang sejarah pada 2026, dengan volume diproyeksikan anjlok 13 persen ke titik terendah dalam satu dekade—sebagian dipicu oleh krisis rantai pasok memori akibat produsen seperti Micron mengalihkan kapasitas produksi ke pelanggan pusat data bermargin lebih tinggi.

Dengan laporan keuangan kuartal kedua fiskal 2026 Micron yang dijadwalkan pada 18 Maret, pasar akan mencermati dengan seksama adopsi SOCAMM2 dan respons industri secara keseluruhan untuk mengukur kemampuan perusahaan mempertahankan momentum di tengah turbulensi geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sementara itu, Bloomberg melaporkan bahwa manajer investasi dari Aberdeen Investments hingga Invesco dan Fidelity International justru mulai menambah eksposur ke saham-saham chip besar pasca kejatuhan ini, berargumen bahwa aksi jual yang terjadi lebih mencerminkan kepanikan sesaat ketimbang deteriorasi kondisi bisnis yang sesungguhnya. Di antara kebisingan krisis, mereka melihat peluang.​​​​​​​​​​​​​​​​

Berita Terkait