Perspektif.co.id - Pengasuh pondok tahfiz sekaligus penceramah, Guru Haji Saiful Anshari, mengungkap pandangannya mengenai rahasia Lailatul Qadar dalam tausyiah yang disampaikan di Masjid Assa'adah, Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dalam ceramah usai Shalat Subuh pada Selasa, ia menegaskan bahwa malam penuh kemuliaan tersebut hanya hadir pada bulan Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir yang mulai dihitung sejak malam ke-21.
Menurut Guru Saiful, Lailatul Qadar menjadi salah satu momentum paling agung dalam kehidupan seorang Muslim karena memiliki keutamaan yang tidak dapat disamakan dengan malam-malam biasa. Ia menjelaskan, banyak ulama terdahulu menyebut malam qadar sebagai malam yang sempit atau sesak, bukan karena kekurangan ruang dalam pengertian biasa, melainkan karena begitu banyak malaikat yang turun ke bumi pada malam tersebut.
"Lailatul Qadar hanya ada pada bulan puasa Ramadhan, dan di sepuluh hari terakhir atau terhitung mulai malam 'salikur' (ke 21)," ungkap Guru Saiful dalam tausyiahnya.
Ia kemudian menguraikan bahwa makna malam yang sempit itu berkaitan dengan turunnya para malaikat dalam jumlah yang tidak terhingga ke bumi. Dalam pandangannya, kehadiran malaikat pada malam Lailatul Qadar merupakan bagian dari kemuliaan yang Allah berikan kepada umat Islam, sekaligus menjadi penanda betapa istimewanya malam tersebut dibanding malam lainnya dalam setahun.
"Lailatul Qadar merupakan malam yang sempit atau sesak, karena semua Malaikat turun ke bumi. Sedangkan jumlah Malaikat tiada terhingga - wallahu 'alam," ujar Guru Saiful.
Dalam ceramahnya, Guru Saiful juga menekankan bahwa turunnya para malaikat bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap keagungan malam Lailatul Qadar, tetapi juga berkaitan dengan doa-doa kaum Muslimin yang dipanjatkan kepada Allah SWT. Ia menyebut malam itu sebagai waktu yang sangat mulia untuk bermunajat, karena kesempatan terkabulnya doa diyakini sangat besar.
Menurut dia, keutamaan Lailatul Qadar telah lama diyakini umat Islam sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, segala bentuk ibadah yang dikerjakan pada malam tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Guru Saiful pun mengingatkan jamaah bahwa peluang meraih pahala besar terbuka luas bagi mereka yang menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah yang sungguh-sungguh.
"Pasalnya, malam qadar lebih baik dari seribu bulan dan do'a seorang Muslim akan mendapat ijabah," katanya di hadapan jamaah Shalat Subuh.
Tak hanya menyoroti keutamaan malam qadar, Guru Saiful juga mendorong umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah sejak malam ke-21 Ramadan hingga akhir bulan puasa. Ia menilai, fase akhir Ramadan merupakan kesempatan terbaik untuk meningkatkan kualitas hubungan spiritual dengan Allah SWT, baik melalui shalat malam, membaca Al-Quran, zikir, maupun doa-doa yang dipanjatkan secara khusyuk.
"Masih banyak keutamaan-keutamaan malam qadar seperti ganjaran atau pahala amal ibadah pada malam qadar itu," tambahnya.
Karena itu, ia secara khusus mengimbau jamaah Masjid Assa'adah dan umat Islam secara umum agar tidak melewatkan malam-malam terakhir Ramadan tanpa aktivitas ibadah yang berarti. Menurutnya, kesiapan hati dan konsistensi dalam beribadah menjadi kunci penting untuk menyambut malam yang penuh keberkahan tersebut.
Guru Saiful juga menyinggung pandangan umum bahwa Lailatul Qadar kerap dicari pada malam-malam ganjil. Namun, ia mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar mengetahui secara pasti kapan malam itu datang. Dalam penjelasannya, perhitungan manusia belum tentu sama dengan kehendak Allah SWT, sehingga seorang Muslim dianjurkan untuk menghidupkan seluruh malam di penghujung Ramadan, bukan hanya terpaku pada satu malam tertentu.
"Memang malam qadar itu pada malam-malam ganjil. Namun kita tidak tahu kapan malam ganjil, sebab perhitungan makhluk-Nya berbeda dengan perhitungan Allah," kata Guru Saiful.
Selain mengajak memperbanyak ibadah, Guru Saiful juga memberikan pesan mengenai cara berdoa. Ia menyarankan agar umat Islam tidak berlebihan dalam merinci permintaan duniawi saat berdoa pada malam-malam utama. Sebaliknya, doa sebaiknya dipanjatkan dengan sederhana, tulus, dan berisi permohonan terbaik untuk kehidupan serta harapan memiliki keturunan yang saleh dan salehah.
Ia menegaskan bahwa Allah merupakan Zat Yang Maha Mengatur, Maha Mengetahui, dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Karena itu, menurut dia, seorang hamba cukup menyerahkan harapan terbaiknya kepada Allah dengan keyakinan penuh bahwa setiap doa akan dijawab sesuai hikmah dan ketentuan-Nya.
"Karena Allah Maha Pengatur, Maha Berhendak, Maha Tahu dan Maha segala-galanya," demikian pesan Guru Haji Saiful Anshari.