30 December 2025, 19:54

Pertama di Dunia? Dokter China “Titipkan” Kuping Putus di Kaki Selama Berbulan-bulan, Lalu Dipasang Lagi demi Selamatkan

Tim ahli bedah mikro di China dilaporkan melakukan prosedur rekonstruksi yang disebut sebagai yang pertama di dunia

Reporter: Anggi Ranf
Editor: Deden M Rojani
1,906
Pertama di Dunia? Dokter China “Titipkan” Kuping Putus di Kaki Selama Berbulan-bulan, Lalu Dipasang Lagi demi Selamatkan
Ilustrasi. Ahli bedah di China berhasil melakukan operasi unik dengan mencangkok telinga yang terputus ke kaki pasien. (Foto: iStock/Gumpanat)

Perspektif.co.id - Tim ahli bedah mikro di China dilaporkan melakukan prosedur rekonstruksi yang disebut sebagai yang pertama di dunia: mencangkok telinga pasien yang terputus ke kaki sebagai langkah sementara untuk mempertahankan jaringan tetap hidup, sebelum akhirnya diposisikan kembali ke kepala beberapa bulan kemudian. Kasus ini ditangani tim bedah mikro di Shandong Provincial Hospital, Jinan, dipimpin Qiu Shenqiang yang disebut menjabat wakil direktur unit bedah mikro. 

Menurut laporan, pasien perempuan tersebut mengalami kecelakaan kerja pada April, ketika ia terkena mesin berat yang menyebabkan luka luas pada kulit kepala serta membuat telinganya terputus total. Qiu menggambarkan tingkat keparahan cedera pasien yang mengancam nyawa. “Kulit kepala, leher, dan wajah telah robek dan terbelah menjadi beberapa fragmen, sementara telinga telah terputus sepenuhnya bersama dengan kulit kepala,” kata Qiu, sebagaimana dikutip sejumlah laporan media.

Setibanya di rumah sakit, tim medis sempat mencoba pendekatan standar untuk memperbaiki kerusakan kulit kepala. Namun metode tersebut dilaporkan gagal karena jaringan kulit kepala dan jaringan pembuluh darahnya mengalami kerusakan berat, sehingga telinga tidak memungkinkan untuk langsung dipasang kembali. Dalam kondisi itu, dokter harus menemukan cara agar telinga tetap “hidup” sampai jaringan di kepala siap direkonstruksi. 

Keputusan yang diambil adalah menanamkan (mencangkok) telinga ke bagian atas kaki pasien sebagai lokasi sementara. Pertimbangannya, pembuluh darah arteri dan vena di kaki dinilai memiliki ukuran yang kompatibel dengan pembuluh darah pada telinga, sementara ketebalan kulit dan jaringan lunak di kaki dianggap relatif mendekati kebutuhan rekonstruksi, sehingga penyesuaian lanjutan bisa lebih minimal. 

Prosedur ini dilaporkan kompleks dan nyaris tanpa preseden klinis yang bisa dijadikan acuan. Tahap awal pencangkokan disebut memakan waktu sekitar 10 jam, dengan salah satu tantangan utama terletak pada pembuluh darah telinga yang sangat halus—berdiameter sekitar 0,2–0,3 milimeter—yang menuntut keterampilan bedah mikro tingkat tinggi saat menyambungkan pembuluh darah agar aliran darah kembali stabil. “Salah satu tantangan terletak pada pembuluh darah telinga yang sangat halus… 0,2–0,3 mm,” kata Qiu.

Beberapa hari setelah operasi, tim menghadapi kondisi kritis lain saat terjadi hambatan aliran balik vena (refluks) yang membuat jaringan telinga menggelap. Untuk mencegah jaringan mati, tim dilaporkan melakukan teknik pengeluaran darah secara manual berulang kali, dengan total sekitar 500 kali tindakan dalam rentang lima hari guna menjaga sirkulasi tetap berjalan sampai kondisi stabil. 

Sambil mempertahankan telinga pada lokasi sementara, tim medis juga memulihkan kulit kepala pasien menggunakan cangkok kulit yang diambil dari area perut. Setelah lebih dari lima bulan pemulihan—ketika cangkok kulit kepala dan leher dinyatakan menyatu, pembengkakan mereda, serta luka operasi di telinga dan kaki sembuh—dokter kemudian melakukan tahap akhir untuk memposisikan ulang telinga ke tempat semula. Beberapa laporan menyebut tahap pemasangan kembali dilakukan pada Oktober dan berlangsung sekitar enam jam

Pasien disebut sudah keluar dari rumah sakit dan fungsi wajah serta jaringan tubuhnya mengalami pemulihan signifikan. Meski demikian, pasien masih memerlukan sejumlah tindakan lanjutan berskala minor, termasuk pemulihan alis yang hilang dan perbaikan bekas luka pada kaki. Qiu, dalam salah satu pernyataannya, menegaskan komitmen tim menyelamatkan pasien meski peluangnya kecil. “We will do our utmost to save lives, no matter how small the chance is,” ujarnya. 

Terobosan ini menambah sorotan pada perkembangan bedah mikro rekonstruksi, terutama dalam situasi cedera berat yang membuat reimplantasi langsung tidak memungkinkan. Namun, karena laporan awal banyak bersandar pada rilis rumah sakit dan pemberitaan media, komunitas medis biasanya menunggu dokumentasi klinis yang lebih lengkap—misalnya laporan kasus terpublikasi—untuk menilai detail teknis, risiko, dan kemungkinan replikasi prosedur serupa di pusat layanan lain. 

Berita Terkait