Perspektif.co.id - Harga perak dunia mencatat lompatan tajam sepanjang 2025 dan menjadi salah satu komoditas paling menonjol tahun lalu. Kenaikannya disebut mencapai 165 persen, melampaui penguatan emas yang berada di kisaran 55 persen. Lonjakan ini membuat perak yang sempat bergerak di area US$28–US$30 per troy ons di awal tahun, melesat hingga menembus US$75 per troy ons pada akhir Desember 2025.
Penguatan perak sebenarnya mulai “terlihat” sejak kuartal I 2025. Reuters pada 5 Juni 2025 melaporkan harga perak menembus US$35 per ons dan menyentuh level tertinggi lebih dari 13 tahun, seiring dorongan permintaan serta kondisi pasokan yang ketat. Dari fase itu, tren naik terus membangun momentumnya meski sempat berayun pada semester II 2025 di kisaran US$38–US$45 per ons sebelum kembali memanas menjelang akhir tahun.
Dorongan terbesar datang dari sisi “real demand”, bukan sekadar narasi safe haven. Reuters menggarisbawahi bahwa perak semakin ditopang kebutuhan industri—terutama rantai energi surya dan elektrifikasi—di tengah defisit pasokan yang bersifat struktural. Kombinasi ini membuat perak bukan hanya mengikuti psikologi pasar logam mulia, tetapi juga “dipakai” secara masif oleh sektor riil yang sulit digantikan karena karakter konduktivitasnya.
Kondisi pasokan juga ikut menekan. Dalam laporan Reuters, perak kerap disebut berada dalam fase defisit struktural, salah satunya karena pasokan sulit “dikejar” cepat mengingat sebagian produksi perak merupakan produk ikutan dari pertambangan logam lain. Artinya, ketika permintaan melonjak, suplai tidak serta-merta bisa menyesuaikan seperti komoditas yang produksi utamanya berdiri sendiri.
Dari sisi strategi pasar, perak juga dibaca sedang “menutup jarak” kinerja terhadap emas setelah beberapa tahun tertinggal. Ini tercermin pada rasio emas-perak (gold-silver ratio), yakni ukuran berapa ons perak yang dibutuhkan untuk membeli satu ons emas. Di akhir 2025, rasio itu berada di sekitar 94, turun dari 105 pada April yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2020—mengindikasikan perak makin mahal relatif terhadap emas.
“Kami sudah lama memperkirakan perak akan menutup kesenjangan performanya dengan emas. Logam ini memiliki fundamental yang kuat, termasuk defisit pasokan dan permintaan industri yang tetap kokoh,” ujar Commodities Strategist WisdomTree, Nitesh Shah, seperti dikutip Reuters.
Akselerasi paling “keras” terjadi menjelang tutup tahun. Reuters melaporkan pada 26 Desember 2025 harga perak sempat menyentuh rekor baru di sekitar US$75 per ons, bahkan dalam laporan lain disebut menembus level US$77 dan bergerak sangat volatil. Di fase yang sama, emas juga berada di area rekor, termasuk pernah menembus US$4.200 per ons pada Oktober 2025 dan kembali menguat pada akhir Desember, memperkuat gambaran bahwa logam mulia sepanjang 2025 bergerak di dua jalur sekaligus: lindung nilai (safe haven) dan dorongan fundamental masing-masing komoditas.
Pergerakan perak yang cenderung “lebih liar” dibanding emas juga bukan hal baru. Reuters menekankan bahwa pasar perak relatif lebih kecil dan kurang likuid, sehingga ketika permintaan investasi ikut masuk bersamaan dengan kebutuhan industri, amplitudo kenaikannya bisa membesar. Itu pula yang membuat perak kerap terlihat “terlambat panas”, tetapi saat panas bisa menyalip cepat.
Dengan kata lain, lonjakan 165 persen perak sepanjang 2025 bukan berdiri di atas satu alasan tunggal. Ia merupakan hasil tumpukan faktor: permintaan industri yang kuat, pasokan yang ketat dan sulit digenjot cepat, pergeseran rasio emas-perak yang menandai fase “catch-up”, serta dorongan sentimen logam mulia global ketika ketidakpastian dan ekspektasi suku bunga menjadi tema besar pasar.