TANGERANG SELATAN, Perspektif.co.id – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan membekali masyarakat kemampuan mengelola stres dan memberikan dukungan psikologis sejak dini.
Upaya tersebut dilakukan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangsel melalui Sosialisasi Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal (DPA) yang digelar di Pusat Pemerintah Kota (Puspemkot) Tangsel, Senin (16/8/2026).
Kegiatan itu menyasar kelompok perempuan yang dinilai memiliki intensitas interaksi cukup tinggi dengan masyarakat, khususnya anggota majelis taklim dan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal. Pemahaman mengenai kesehatan mental dan pengelolaan tekanan dinilai penting sebagai bagian dari pencegahan kekerasan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AP2KB Tangsel Irma Safitri mengatakan kemampuan mengelola stres berkaitan dengan upaya mencegah seseorang melakukan tindakan kekerasan.
"Kalau sudah tahu cara me-manage stres, kita tidak akan melakukan sebuah kekerasan. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sosialisasi kesehatan mental dan dukungan psikologi awal kepada ibu-ibu yang sering berkaitan dengan jemaah atau tetangganya," ujar Irma.
Menurut Irma, kelompok perempuan yang sehari-hari berinteraksi dengan jemaah, tetangga, maupun lingkungan sekitar memiliki posisi strategis untuk mengenali persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Karena itu, pemahaman mengenai kesehatan mental diharapkan dapat membantu mereka merespons kondisi yang membutuhkan perhatian sejak awal.
Sekretaris DP3AP2KB Tangsel dr. Enji Seppraliana mengatakan materi yang diberikan tidak hanya diarahkan untuk membantu peserta mengelola tekanan pribadi. Peserta juga dibekali kemampuan memberikan pertolongan pertama psikologis kepada orang di sekitarnya yang sedang menghadapi masalah.
Sebanyak 30 peserta dari berbagai perangkat daerah, forum, dan majelis taklim mengikuti sosialisasi tersebut. Kegiatan menghadirkan dua psikolog sebagai narasumber, yakni Dewi Sawitra Bintari dan Maria Yulinda Ayu Natalia.
Dalam sosialisasi itu, peserta diperkenalkan dengan tiga prinsip utama Dukungan Psikologi Awal, yakni Lihat, Dengar, dan Hubungkan. Ketiga tahapan tersebut menjadi dasar bagi masyarakat ketika menghadapi seseorang yang sedang berada dalam kondisi tekanan atau krisis psikologis.
Pada tahap Lihat, peserta diarahkan terlebih dahulu memastikan kondisi keamanan sebelum memberikan bantuan. Mereka juga diajarkan mengenali kebutuhan mendesak serta mengidentifikasi tanda-tanda distres yang dialami seseorang.
Tahap berikutnya adalah Dengar. Dalam proses ini, peserta dilatih melakukan pendekatan dengan empati, mendengarkan secara aktif, serta memberikan validasi terhadap perasaan orang yang sedang mengalami kesulitan.
Sementara pada tahap Hubungkan, peserta diarahkan membantu memenuhi kebutuhan dasar individu yang membutuhkan pertolongan. Bantuan juga dapat dilakukan dengan menghubungkan orang tersebut kepada keluarga atau teman terdekat hingga layanan profesional seperti psikolog apabila persoalan yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Enji mengingatkan bahwa pemberian dukungan psikologis bukan berarti seseorang harus mengambil alih persoalan yang sedang dihadapi orang lain. Batas tersebut penting agar pemberi bantuan juga tidak mengalami tekanan akibat masalah yang ditangani.
"Dukungan psikologi awal mencakup pemberian empati, kepedulian, dan mendengarkan aktif, serta mengarahkan ke profesional jika masalah tidak dapat ditangani sendiri. Penting untuk tidak mengambil alih masalah sehingga pemberi bantuan tidak ikut stres," kata Enji.
Sosialisasi tersebut juga ditempatkan dalam kerangka perlindungan perempuan dan anak yang mengacu pada sejumlah regulasi nasional. Di antaranya Undang-Undang Perlindungan Anak, Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), serta berbagai ketentuan mengenai perlindungan khusus anak.
Melalui kegiatan tersebut, DP3AP2KB Tangsel menargetkan semakin banyak perempuan memiliki kemampuan untuk mengenali persoalan psikologis dan merespons kondisi krisis yang terjadi di lingkungan terdekat.
Kemampuan tersebut diharapkan dapat memperkuat peran masyarakat dalam melakukan pencegahan sebelum persoalan berkembang menjadi tindakan kekerasan terhadap perempuan maupun anak.
Dengan melibatkan kelompok masyarakat yang bersentuhan langsung dengan keluarga dan lingkungan sekitar, pemerintah daerah mendorong pencegahan kekerasan tidak hanya bergantung pada penanganan setelah kejadian. Penguatan pemahaman kesehatan mental dan Dukungan Psikologi Awal diarahkan menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih peka terhadap persoalan psikologis serta mampu memberikan respons awal secara tepat.