TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Yaroslav Azhnyuk, pendiri The Fourth Law sekaligus mantan CEO Petcube, membunyikan alarm keras soal ketertinggalan Barat dalam perlombaan senjata drone berbasis kecerdasan buatan — peringatan yang kini mendapat perhatian luas dari komunitas pertahanan global setelah ia tampil di podcast Latent Space bersama ekonom Noah Smith, Mei 2026.
Azhnyuk mengungkap realita perang yang membekukan: drone FPV senilai Rp6,5 juta kini menjadi penyebab utama 70–80% korban jiwa di garis depan Ukraina, menggeser artileri yang selama ini dijuluki “dewa perang.” Lebih mengejutkan lagi, drone murah itu mampu menghancurkan tank bernilai miliaran rupiah, sementara sistem pertahanan laser Raytheon seharga Rp49 miliar pun tak mampu secara ekonomis menangkis serangan gerombolan ratusan hingga ribuan unit sekaligus.
The Fourth Law telah mengirimkan lebih dari ribuan modul otonomi ke pasukan di Ukraina timur — perangkat seharga sekitar Rp1,1 juta yang dapat dipasang ke drone yang ada dan mengambil alih navigasi pada pendekatan terakhir menuju target. Hasilnya dramatis: tingkat keberhasilan misi melonjak dari 20% menjadi 71%, sekaligus memperluas jangkauan zona serangan dari 3 km menjadi 10 km.
“Kami dulu membuat kamera yang melempar camilan untuk hewan peliharaan. Sekarang kami membuat kamera yang melempar bahan peledak ke para penjajah,” kata Azhnyuk dalam wawancara yang dikutip The New York Times.
Azhnyuk mengkhawatirkan ketertinggalan para pembela historis Eropa. “Kita dalam bahaya,” tegasnya, seraya mencatat bahwa sementara Rusia dan Ukraina mencetak kemajuan besar dalam drone dan sistem pertahanannya, Eropa dan Amerika Serikat dalam skenario terbaik hanya bergerak setengah dari kecepatan itu.
“Kita bisa secara harfiah meregulasi diri kita sendiri sampai mati,” ujar Azhnyuk kepada The Times, menegaskan bahwa Rusia dan China beroperasi tanpa batasan serupa.
Proyeksi paling mengkhawatirkan datang dari sisi geopolitik: kapasitas manufaktur China berpotensi memproduksi 4 miliar drone FPV — berbanding 4 juta unit yang dihasilkan Ukraina sepanjang 2024, sebuah kesenjangan 1.000 kali lipat yang dinilai Azhnyuk sebagai ancaman eksistensial bagi keseimbangan kekuatan global.
Investasi asing langsung di perusahaan teknologi pertahanan Ukraina melonjak ke sekitar Rp1,64 triliun pada 2025, naik dari Rp656 miliar pada tahun sebelumnya, dengan lebih dari 2.000 startup militer kini aktif beroperasi di negara tersebut, menurut data BRAVE1.