TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Pemerintah, bank sentral, dan raksasa teknologi dunia bergerak darurat menyikapi ancaman siber yang dipicu oleh Claude Mythos Preview — model kecerdasan buatan terbaru Anthropic yang diklaim mampu menemukan dan mengeksploitasi ribuan celah keamanan secara mandiri di seluruh sistem operasi dan browser utama dunia. Kehebohan ini meletus setelah Anthropic merilis laporan teknis di red.anthropic.com yang menyebut Mythos berhasil mendeteksi zero-day vulnerability di setiap sistem operasi dan browser mayor, termasuk bug berusia 27 tahun di OpenBSD, sekaligus merangkai empat celah sekaligus menjadi satu rantai eksploitasi browser secara otonom.
Anthropic membatasi akses Mythos hanya kepada segelintir mitra strategis lewat program bernama Project Glasswing, yang mengikutsertakan Apple, Amazon, JPMorgan Chase, Palo Alto Networks, Microsoft, Google, dan NVIDIA untuk operasi pertahanan siber — bukan serangan. Anthropic berkomitmen menggelontorkan hingga USD 100 juta (sekitar Rp 1,6 triliun) dalam bentuk kredit penggunaan model, ditambah USD 4 juta (sekitar Rp 65 miliar) dalam donasi langsung ke organisasi keamanan open-source.
CEO Anthropic Dario Amodei memperingatkan bahwa dunia hanya memiliki jendela waktu enam hingga dua belas bulan untuk menambal puluhan ribu celah keamanan yang ditemukan Mythos sebelum kapabilitas serupa dimiliki oleh AI buatan China. Dalam acara keuangan bersama CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon, Amodei menegaskan bahwa skala eksploitasi potensial membengkak drastis dari generasi ke generasi — model Claude sebelumnya hanya menemukan sekitar 20 celah di Firefox, sedangkan Mythos menemukan hampir 300 sekaligus.
“Bahayanya hanyalah peningkatan besar dalam jumlah kerentanan, dalam jumlah pelanggaran, dalam kerusakan finansial yang dilakukan dari ransomware di sekolah, rumah sakit, belum lagi bank,” kata Amodei, sebagaimana dikutip CNBC.
Bank Sentral Eropa (ECB) pun turun tangan. Anggota Dewan Eksekutif ECB Frank Elderson secara resmi mendesak seluruh bank di zona euro untuk segera memperkuat sistem pertahanan siber mereka menghadapi potensi serangan berbasis AI seperti Mythos.
“Kurangnya akses bukanlah alasan untuk tidak bertindak. Sebaliknya, itu membuatnya semakin penting bahwa bank melangkah dan bertindak sekarang,” tegas Elderson dalam newsletter pengawasan ECB, seperti dikutip Reuters via Invezz.
Korea Selatan langsung bereaksi. Kementerian Sains dan TIK Seoul mengumumkan akan menerbitkan paket kebijakan tandingan paling lambat akhir Mei 2026, menyusul apa yang pejabat setempat sebut sebagai “Mythos shock.” Wakil Menteri Kedua Ryu Je-myung bahkan bertemu langsung dengan Michael Sellitto, kepala urusan global Anthropic, dan menyatakan minat Seoul bergabung dalam Project Glasswing, lapor UPI.
Kalangan pakar keamanan siber mewanti-wanti bahwa kapabilitas menemukan zero-day pada skala besar sebetulnya bukan hal baru. CEO watchTowr Ben Harris menyebut percakapan dengan bank, perusahaan asuransi, dan regulator belakangan ini sudah mengarah ke kondisi “hysteria.” Firma Vidoc membuktikan bahwa model AI yang lebih lama pun mampu mereplikasi temuan Mythos lewat teknik orkestrasi — memecah kode menjadi bagian kecil dan mengkoordinasikan beberapa model sekaligus.
Di sisi lain, OpenAI merespons dengan meluncurkan GPT-5.5-Cyber, varian model terbarunya yang dirancang khusus untuk keamanan siber, dan telah memberikan akses terbatas kepada tim keamanan siber yang telah diverifikasi di Uni Eropa — sesuatu yang belum dilakukan Anthropic untuk blok tersebut hingga kini.
Anthropic sendiri menegaskan bahwa tidak ada satu perusahaan AI pun yang mampu menyelesaikan masalah ini sendirian. “Pekerjaan mempertahankan infrastruktur dunia maya mungkin memakan waktu bertahun-tahun,” tulis Anthropic dalam pernyataan resminya.