Perspektif.co.id - Kapal induk terbesar milik Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford, dilaporkan telah tiba dan merapat di Pangkalan Angkatan Laut AS Souda Bay, Yunani, pada Selasa (24/2/2026). Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan kapal perang tersebut bersandar di fasilitas militer AS di kawasan Souda Bay (Kreta), yang kerap menjadi titik logistik penting operasi armada Washington di Eropa hingga Mediterania.
Sejumlah laporan menyebut kapal induk itu akan singgah beberapa hari untuk pengisian persediaan, perbekalan, serta masa istirahat kru sebelum melanjutkan pelayaran. Dari Yunani, USS Gerald R. Ford diperkirakan bergerak menuju kawasan perairan dekat Israel, di tengah meningkatnya tensi keamanan di Timur Tengah dan tarik-ulur diplomasi nuklir AS–Iran.
Pergerakan kapal induk tersebut sudah terpantau sejak pekan lalu. USNI News melaporkan USS Gerald R. Ford beserta kapal-kapal pengawalnya menyeberangi Samudra Atlantik dan mengarah ke Selat Gibraltar untuk kemudian memasuki Laut Mediterania, seiring penugasan ulang armada menuju wilayah komando militer AS di Timur Tengah.Pada Jumat (20/2/2026), USNI News juga menyatakan kapal induk itu telah melewati Selat Gibraltar dan kini beroperasi di Mediterania.
Kedatangan USS Gerald R. Ford menambah bobot kehadiran militer AS di kawasan, sebab sebelumnya USS Abraham Lincoln sudah lebih dulu ditempatkan di wilayah Timur Tengah pada Januari. Situasi ini memicu sorotan karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran pecahnya konflik terbuka AS–Iran, khususnya apabila jalur diplomasi tak menghasilkan kesepakatan baru terkait program nuklir Teheran.
Di sisi diplomasi, AS dan Iran dijadwalkan melanjutkan putaran berikutnya perundingan nuklir di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2/2026). Informasi jadwal ini disampaikan otoritas terkait, di tengah eskalasi ketegangan dan peningkatan aset militer AS di kawasan. Media internasional juga menyoroti bahwa pembicaraan berlangsung di bawah bayang-bayang opsi militer, meski kedua pihak masih menyampaikan sinyal perlunya solusi “berkelanjutan” melalui jalur negosiasi.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataan terpisah yang dikutip media internasional, menegaskan dirinya menilai Iran memahami risiko jika kesepakatan gagal dicapai. “I don't think they want the consequences of not making a deal,” kata Trump. Pernyataan itu muncul ketika Washington memperlihatkan kesiagaan melalui pergerakan kapal induk dan peningkatan aktivitas pesawat serta kapal pendukung di sejumlah pangkalan Eropa–Timur Tengah.
Kesiagaan tersebut juga beririsan dengan kekhawatiran keamanan bagi personel dan fasilitas diplomatik AS. Laporan media menyebut Washington telah melakukan evakuasi staf non-esensial dari sejumlah titik di kawasan karena mempertimbangkan risiko serangan balasan, termasuk dari jaringan proksi, bila eskalasi meningkat.
Di sisi lain, isu paling sensitif bagi ekonomi global tetap berkaitan dengan keamanan jalur pelayaran energi di kawasan Teluk, terutama Selat Hormuz. Namun, analisis yang dikutip USNI News menilai penutupan total Selat Hormuz bukan skenario yang lazim dilakukan Iran karena kepentingan ekspor minyaknya sendiri. “The Iranians have never closed the Straits of Hormuz,” ujar pakar maritim Sal Mercogliano. Meski begitu, kekhawatiran pasar kerap menguat pada potensi gangguan berbentuk intimidasi atau peningkatan ketegangan di sekitar lintasan strategis, yang bisa menekan sentimen pelaku usaha pelayaran dan komoditas energi.