TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Lonjakan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) telah mendorong Lumentum Holdings ke titik yang jarang terjadi di industri teknologi: kehabisan kapasitas produksi selama hampir dua tahun ke depan. CEO Lumentum, Michael Hurlston, secara terbuka mengungkapkan bahwa perusahaannya telah completely sold out hingga akhir 2027, sementara permintaan komponen optik dan fotonik untuk pusat data AI terus melampaui kemampuan pasokan yang bisa diproduksi, sebagaimana dilaporkan 247wallst.com pada 12 Maret 2026.
“Kami habis terjual hingga akhir 2027 dan masih jauh di bawah pengiriman yang seharusnya relatif terhadap permintaan,” kata Hurlston dalam pernyataannya yang dikutip luas oleh media keuangan termasuk finance.yahoo.com.
Kondisi ini bukan sekadar lonjakan siklus biasa. Lumentum memproduksi laser, modul, dan subsistem optik yang menjadi tulang punggung konektivitas antar-kluster GPU di dalam pusat data hiperscale—komponen yang memindahkan data secepat cahaya setiap kali operator cloud menambah kapasitas komputasi AI. Dua mesin pertumbuhan utama perusahaan, yakni optical circuit switch (OCS) dan co-packaged optics (CPO), menurut Hurlston baru berada di tahap awal. Backlog OCS saja telah melampaui 400 juta dolar AS (sekitar Rp 6,54 triliun), sementara pesanan CPO bernilai ratusan juta dolar dijadwalkan diserahkan pada paruh pertama 2027, berdasarkan laporan finance.yahoo.com.
Kepercayaan pasar terhadap narasi tersebut mendapat booster besar dari Nvidia. Pada 2 Maret lalu, raksasa chip AI itu menggelontorkan investasi senilai 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 32,7 triliun) ke Lumentum melalui penempatan saham preferen konvertibel secara privat, sekaligus mengunci komitmen pembelian multimiliaran dolar untuk komponen laser canggih, sebagaimana dikonfirmasi dalam pengajuan SEC yang dikutip ts2.tech. Pada hari yang sama, Nvidia juga mengucurkan 2 miliar dolar AS ke Coherent—pesaing terdekat Lumentum di ruang fotonik—sehingga total investasi Nvidia di sektor optik AI dalam satu hari mencapai 4 miliar dolar AS (sekitar Rp 65,4 triliun), menurut 247wallst.com.
“Kami terus memperkuat peta jalan untuk komponen optik dan sistem yang menjadikan kami misi-kritikal bagi para pemimpin AI dunia,” ujar Hurlston sebagaimana dikutip finance.yahoo.com.
Secara fundamental, kinerja Lumentum mencerminkan betapa besar tekanan permintaan itu. Pendapatan kuartal kedua fiskal 2026 tercatat 665,5 juta dolar AS (sekitar Rp 10,88 triliun), tumbuh 65,5 persen secara tahunan dengan margin operasional non-GAAP yang melebar ke 25,2 persen. Untuk kuartal ketiga, manajemen memproyeksikan pendapatan antara 780 juta hingga 830 juta dolar AS dengan margin 30–31 persen, lapor 247wallst.com. Saham LITE telah melonjak lebih dari 862 persen dalam setahun terakhir dan 67 persen sejak awal tahun, meskipun valuasinya kini berada di P/E trailing sekitar 196 kali lipat.
Pengakuan kelangkaan kapasitas ini juga membawa implikasi struktural di pasar modal. S&P Dow Jones Indices mengumumkan bahwa Lumentum bersama Coherent dan Vertiv akan resmi bergabung ke indeks S&P 500 efektif sebelum pasar dibuka pada 23 Maret 2026, sebagai bagian dari rebalancing kuartalan rutin, menggantikan Match Group, Molina Healthcare, Lamb Weston, dan Paycom Software, demikian dikutip finance.yahoo.com. Masuknya keduanya ke S&P 500 berarti dana indeks pasif secara otomatis wajib membeli saham tersebut, menciptakan tekanan beli mekanis yang bersifat permanen.
Jensen Huang, CEO Nvidia, menyebut pembangunan infrastruktur AI saat ini sebagai “pembangunan infrastruktur komputasi terbesar dalam sejarah”, sebuah pernyataan yang kini secara harfiah tercermin dalam buku pesanan Lumentum yang penuh hingga akhir 2027, menurut ts2.tech.