10 March 2026, 05:54

Jensen Huang ke Produsen DRAM: Bangun Pabrik Sekarang, Nvidia Siap Borong Semua Chipnya!

Jensen Huang perintahkan produsen DRAM bangun pabrik baru. Nvidia siap borong semua chip HBM4 untuk platform Vera Rubin yang butuh 288GB per GPU.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
224
Jensen Huang ke Produsen DRAM: Bangun Pabrik Sekarang, Nvidia Siap Borong Semua Chipnya!
Jensen Huang CEO Nvidia perintahkan produsen DRAM bangun pabrik baru untuk pasok HBM4 288GB per GPU platform Vera Rubin demi kebutuhan akselerator AI 2026. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Jensen Huang secara terbuka menantang seluruh produsen memori DRAM dunia untuk segera memperluas kapasitas produksi mereka, dengan jaminan tegas bahwa Nvidia akan menyerap seluruh output yang dihasilkan. Pernyataan lantang CEO Nvidia itu disampaikan di hadapan investor dan eksekutif industri dalam Morgan Stanley Technology Conference, Senin (10/3/2026), menjadikannya salah satu sinyal paling agresif yang pernah dilontarkan pemimpin perusahaan semikonduktor dalam beberapa tahun terakhir.

“Go ahead and set up the DRAM plant because I’m gonna use it,”  kata Huang dengan nada penuh keyakinan, sebuah pernyataan yang langsung mengguncang pasar memori global dan membakar saham Samsung Electronics, SK Hynix, serta Micron Technology dalam satu sesi perdagangan.

Dorongan Huang bukan tanpa alasan. Platform Vera Rubin yang akan segera memasuki fase produksi massal membutuhkan 288 GB memori HBM4 per GPU, dengan bandwidth mencapai 22,2 TB/s — sebuah lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah akselerator AI. Angka tersebut menciptakan tekanan luar biasa pada rantai pasokan global, karena setiap unit GPU generasi baru ini mengonsumsi wafer silikon tiga kali lebih banyak dibandingkan DRAM konvensional.

HBM4 menggunakan desain tumpukan 16 lapisan, jauh lebih kompleks dibanding proses tumpukan 12 lapisan pada HBM3E, yang menyebabkan tingkat kehilangan hasil produksi lebih tinggi dan konsumsi sumber daya memori yang jauh lebih besar per unit keluaran. Dampaknya langsung terasa di pasar: harga DRAM untuk konsumen rumahan dan server kelas menengah sudah mulai melonjak tajam, seiring kapasitas produksi ketiga raksasa memori dunia itu dialihkan hampir sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur AI.

Samsung, SK Hynix, dan Micron dilaporkan telah habis terjual (sold out) hingga 2026, dengan seluruh kontrak harga dan volume untuk pengiriman HBM mendatang sudah ditandatangani. Kondisi ini menciptakan kelangkaan struktural yang menurut analis TrendForce akan mendorong harga DRAM server melonjak lebih dari 60 persen secara kuartalan pada kuartal pertama 2026, sementara harga DRAM konvensional diproyeksikan naik 55–60 persen dalam periode yang sama.

Samsung Electronics dan SK Hynix telah dipilih sebagai satu-satunya pemasok HBM4 generasi keenam untuk akselerator AI andalan Nvidia, Vera Rubin, memberikan keunggulan strategis bagi dua raksasa semikonduktor Korea Selatan itu atas rival asal Amerika Serikat, Micron Technology. Sementara itu, SK Hynix diperkirakan menguasai lebih dari separuh total pengadaan HBM Nvidia pada 2026, sementara pangsa pasar Samsung diproyeksikan meningkat dari 20 persen menjadi 28 persen secara global, memperlihatkan momentum kejar-mengejar yang signifikan.

Di sisi lain, Micron tidak tinggal diam. Produsen memori asal Boise, Idaho itu berencana meningkatkan kapasitas HBM4 hingga 15.000 wafer per bulan pada 2026, mewakili sekitar 30 persen dari total kapasitas HBM-nya, sebagai upaya pembalikan strategis untuk bersaing dengan dominasi dua raksasa Korea.

Bagi para pesaing seperti AMD dan Intel, pengumuman Vera Rubin ini semakin meningkatkan tekanan persaingan. Analis Morgan Stanley mencatat bahwa platform Rubin menawarkan pengurangan biaya token hingga 10 kali lipat untuk model MoE (Mixture of Experts), sebuah terobosan yang berpotensi memaksa pesaing bersaing pada level harga, bukan sekadar spesifikasi teknis mentah.

Vera Rubin NVL72 sendiri menggabungkan CPU Vera berbasis ARM dengan 88 inti “Olympus” yang mendukung kemampuan Spatial Multi-Threading, 128 GB memori GDDR7, dan GPU berbasis arsitektur Rubin dengan 288 GB HBM4. Platform ini diklaim mampu menghasilkan performa inferensi 50 petaflops pada presisi NVFP4, menjadikannya akselerator AI paling powerful yang pernah diproduksi Nvidia hingga saat ini. Jika dirupiahkan berdasarkan estimasi harga sistem NVL72 di kisaran US$3 juta per rack (sekitar Rp48,9 miliar per rack dengan kurs Rp16.300/USD), permintaan terhadap ekosistem ini membentuk pasar senilai ratusan triliun rupiah hanya dari pemesanan awal.

Pernyataan Huang di Morgan Stanley Conference bukan sekadar pidato optimisme korporat — ini adalah sinyal kepada seluruh rantai pasokan semikonduktor global bahwa era supercycle memori AI belum akan berakhir dalam waktu dekat. Bagi produsen DRAM yang ragu-ragu membangun kapasitas baru karena khawatir kelebihan pasokan, Huang pada dasarnya menghapus keraguan itu dengan satu kalimat: bangun saja, Nvidia yang akan membelinya.

Berita Terkait