18 October 2025, 10:18

Luhut Minta Tambahan Rp50 Triliun untuk INA, Purbaya Heran: Buat Apa Kalau Masih Banyak yang Nganggur?

Pemberian tambahan dana tanpa kejelasan pemanfaatan hanya akan memperbesar dana menganggur di Indonesia Investment Authority (INA).

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Deden M Rojani
2,855
Luhut Minta Tambahan Rp50 Triliun untuk INA, Purbaya Heran: Buat Apa Kalau Masih Banyak yang Nganggur?
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) dan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan (kanan). / Doc: Perspektif

JAKARTA, Perspektif.co.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons skeptis usulan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, yang mengajukan tambahan dana sebesar Rp50 triliun untuk Indonesia Investment Authority (INA). Dalam sebuah forum ekonomi bertajuk “1 Tahun Prabowo–Gibran: Optimism on 8% Economic Growth” di Jakarta, Purbaya mempertanyakan urgensi permintaan tersebut, mengingat masih banyak dana INA yang belum digunakan secara optimal.

“Saya belum lihat proposal dari INA sampai sekarang. Mereka juga belum ngomong apa-apa,” ujar Purbaya, Jumat (17/10/2025).

Menurutnya, saat ini INA justru masih menyimpan dana yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia menegaskan, pemberian tambahan dana tanpa kejelasan pemanfaatan hanya akan memperbesar dana menganggur di lembaga tersebut. “Saya lihat masih banyak uang nganggur di INA. Kalau ditaruh lagi tanpa perencanaan jelas, buat apa? Apalagi kalau hanya untuk obligasi atau deposito,” tambahnya.

Sebelumnya, Luhut mengungkapkan optimismenya terhadap peran INA dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyebut bahwa INA bersama Danantara merupakan dua mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Menurut Luhut, jika INA berhasil menarik investasi Rp50 triliun setiap tahun, potensi leverage-nya dapat mencapai Rp1.000 triliun dalam lima tahun.

"Itu angka yang luar biasa. Kalau berhasil, itu akan menjadi bagian besar dari investasi langsung asing (FDI) yang masuk ke Indonesia," tutur Luhut.

Menteri senior itu juga menyoroti peran strategis INA sebagai sovereign wealth fund dalam menjembatani masuknya modal asing ke berbagai proyek strategis nasional, termasuk infrastruktur, energi, dan sektor digital. Sementara itu, lembaga Danantara juga digadang-gadang sebagai kanal investasi domestik baru yang akan bersinergi dengan INA.

Meski demikian, Purbaya menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas sebelum dana publik digelontorkan dalam jumlah besar. “Kita akan lihat dulu implementasinya seperti apa. Kalau memang bagus, tentu bisa kita dukung,” tutupnya.***

Berita Terkait