18 February 2026, 17:30

Knets vs SEAblings: Perang Online yang Mengguncang Teknologi Media Sosial Viral!

Konflik Knets vs SEAblings pasca-konser Day6 memicu perang sengit di X, ungkap kelemahan algoritma viral, dan tuntut AI canggih lawan hate speech di Asia.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
1,113
Knets vs SEAblings: Perang Online yang Mengguncang Teknologi Media Sosial Viral!
Ilustrasi sederhana konflik Knets vs SEAblings dari konser Day6, menampilkan perang online di media sosial X dan TikTok, dampak teknologi viral pada algoritma dan AI moderasi hate speech di Asia Tenggara. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Konflik sengit antara netizen Korea Selatan, yang dikenal sebagai Knets, dan kelompok netizen Asia Tenggara yang menyebut diri SEAblings, meledak setelah insiden di konser band Day6 di Kuala Lumpur pada akhir Januari 2026, di mana para penggemar Korea dituduh melanggar aturan dengan menggunakan kamera profesional besar yang menghalangi pandangan penonton lokal, sehingga memicu kritik tajam yang berujung pada komentar rasis dari pihak Knets terhadap warga SEA seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, yang pada gilirannya membangkitkan solidaritas regional melalui serangan balik berupa meme satir dan ejekan digital di platform seperti X dan TikTok, yang kini mengancam stabilitas teknologi viral seperti algoritma amplifikasi konten yang sedang tren.

Pemicu awal terjadi di Axiata Arena, Kuala Lumpur, ketika video pelanggaran aturan konser menyebar luas di media sosial, membuat Knets merespons dengan hinaan berbasis rasisme seperti mengejek kemiskinan, warna kulit, dan penampilan fisik SEAblings, yang kemudian menyebabkan eskalasi cepat karena algoritma platform seperti X memperbesar jangkauan postingan kontroversial ini hingga menjadi tren global dalam hitungan hari pada awal Februari 2026.

Solidaritas SEAblings terbentuk secara organik tanpa koordinasi pusat, dengan netizen dari berbagai negara bergabung untuk membalas melalui konten kreatif yang menyoroti stereotip Knets, seperti ketergantungan pada operasi plastik, sambil menekankan identitas bersama sebagai “saudara” Asia Tenggara, yang membuat konflik ini bukan hanya pertengkaran fandom tapi juga diskusi mendalam tentang etika digital dan dampak teknologi pada masyarakat.

Dampaknya terhadap teknologi viral saat ini semakin nyata, karena perang online ini mengekspos kelemahan algoritma media sosial dalam memperkuat narasi negatif, mendorong tuntutan dari pengguna untuk pengembangan AI moderasi konten yang lebih canggih guna mendeteksi dan membatasi penyebaran ujaran kebencian, terutama di wilayah dengan basis pengguna besar seperti Asia Tenggara dan Korea.

Para ahli teknologi menilai bahwa konflik ini bisa menjadi katalisator perubahan, di mana platform seperti X dan TikTok dipaksa meningkatkan fitur keamanan digital mereka untuk mencegah amplifikasi isu rasis, yang jika dibiarkan bisa merusak ekosistem konten viral yang bergantung pada interaksi pengguna organik.

“Knetz lupa satu hal. Mereka tidak menghadapi satu negara. Mereka menghadapi sebuah wilayah.”

“Perselisihan dimulai dengan tuduhan rasisme dan perilaku yang tidak pantas oleh situs penggemar Korea di konser DAY6 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari 2026.”

“Netizen dari Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Thailand, yang dikenal sebagai SEAblings, bertukar komentar sarkastik dengan orang Korea Selatan.”

“Konflik telah memicu serangkaian meme, reaksi, dan komentar, yang semuanya berkontribusi pada komunitas online yang dinamis di sekitar K-pop.”

“Daripada menanggapi dengan penghinaan eksplisit, SEAblings sebagian besar menggunakan meme satir, menyoroti ketergantungan yang dirasakan pada operasi plastik di antara Knetz dan menampilkan apa yang mereka gambarkan sebagai keindahan alami netizen Asia Tenggara.”

Berita Terkait