03 March 2026, 13:24

Insinyur OpenAI Mundur Mendadak, Ungkap Burnout “Menakutkan dan Berbahaya” di Balik Laju AI

Insinyur OpenAI Hieu Pham mundur akibat burnout “menakutkan dan berbahaya”, soroti tekanan ekstrem di industri AI global.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
1,021
Insinyur OpenAI Mundur Mendadak, Ungkap Burnout “Menakutkan dan Berbahaya” di Balik Laju AI
Ilustrasi insinyur AI burnout di depan layar neural network, menggambarkan tekanan kerja ekstrem di OpenAI. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — OpenAI kembali diterpa isu serius setelah Hieu Pham, salah satu anggota technical staff, mengumumkan pengunduran dirinya melalui X pada akhir Februari 2026. Keputusan itu ia ambil setelah berbulan‑bulan bekerja dalam ritme pengembangan AI yang disebutnya sangat intens dan akhirnya membuat kondisi mentalnya menurun drastis.

Dalam pernyataannya, Pham menegaskan bahwa pengalaman bekerja di OpenAI dan sebelumnya di xAI merupakan kesempatan langka yang mempertemukannya dengan para talenta terbaik di industri. Namun ia mengakui bahwa tekanan kerja yang terus meningkat membuatnya tidak lagi mampu mempertahankan kesehatan mentalnya.

“Saya tidak percaya akan mengatakan ini suatu hari, tetapi saya benar‑benar burnout. Semua penurunan kesehatan mental yang dulu saya anggap remeh ternyata nyata, menyedihkan, menakutkan, dan berbahaya,” tulis Pham dalam unggahannya.

Pham, yang sebelumnya juga berkontribusi dalam pengembangan model Grok‑3 di xAI dan pernah bekerja di Google Brain, menyebut bahwa ia akan meninggalkan Silicon Valley untuk kembali ke Vietnam bersama keluarganya. Ia berencana mengambil jeda total dari laboratorium AI tingkat lanjut dan mencari cara untuk memulihkan kondisi mentalnya.

“Saya akan mengambil jeda dari frontier AI labs dan membawa keluarga saya kembali ke Vietnam. Di sana, saya akan mencoba hal baru dan mencari cara untuk memulihkan kondisi saya. Saya berharap bisa sembuh,” ungkapnya.

Pengunduran diri Pham terjadi di tengah gelombang kepergian sejumlah peneliti dari laboratorium AI besar seperti OpenAI dan Anthropic. Banyak di antara mereka menyebut tekanan ekstrem, kekhawatiran etis, hingga rasa terancam oleh laju perkembangan AI sebagai alasan utama. Fenomena ini memicu diskusi luas mengenai budaya kerja di industri AI yang semakin kompetitif dan berisiko tinggi terhadap kesehatan mental para penelitinya.

Kepergian Pham menambah sorotan terhadap bagaimana perusahaan AI raksasa menangani kesejahteraan karyawan di tengah perlombaan global membangun model AI yang semakin kuat. Dengan meningkatnya ekspektasi publik dan tekanan internal, industri ini kini menghadapi pertanyaan besar: seberapa jauh inovasi dapat dikejar tanpa mengorbankan manusia yang mengembangkannya?

Berita Terkait