TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Inggris tengah mempertimbangkan pengiriman drone pemburu ranjau otonom yang selama ini dioperasikan Royal Navy di kawasan Timur Tengah, sebagai respons atas seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta negara-negara sekutu mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz.
Langkah ini mengemuka di tengah blokade Iran terhadap jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia itu, kini memasuki hari ke-15 konflik bersenjata sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) mengonfirmasi kepada ITV News bahwa pihaknya sedang meninjau berbagai opsi untuk menjamin keamanan pengiriman komersial di kawasan tersebut. Tekanan geopolitik kian meningkat setelah pelabuhan minyak Fujairah di Uni Emirat Arab—tepat di luar mulut Selat Hormuz—terpaksa menangguhkan operasi bongkar muat minyak mentah pascaserangan drone, memperparah gangguan rantai pasok energi global.
Berdasarkan laporan ITV News dan British Brief, drone yang sedang dikaji adalah unit milik kelompok Royal Navy’s Mine and Threat Exploitation Group yang saat ini sudah berpangkalan di Timur Tengah, meski jumlah pasti unit yang siap dikerahkan belum diungkap secara resmi. Selain itu, militer Inggris juga dilaporkan tengah mengkaji kemungkinan pengiriman ribuan drone interseptor Octopus buatan Inggris—yang semula diproduksi untuk kebutuhan Ukraina dalam menghadapi drone Shahed milik Rusia—guna melindungi koridor udara di atas perairan Hormuz dari serangan drone Iran.
Opsi kedua ini masih berada dalam tahap evaluasi awal dan belum mendapatkan persetujuan resmi dari pemerintah. Perkembangan ini menandai pertama kalinya London secara terbuka mempertimbangkan keterlibatan militer langsung di wilayah konflik pasca-serangan drone Iran ke pangkalan udara Akrotiri Inggris di Siprus.
Trump sebelumnya memicu kegemparan diplomatik global setelah memposting seruan terbuka di platform Truth Social pada Sabtu, 14 Maret 2026, mendesak Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirimkan armada perang ke Selat Hormuz, dengan janji bahwa Amerika Serikat akan beroperasi secara paralel mengamankan jalur tersebut. Presiden yang juga mengklaim bahwa serangan udara AS dan Israel telah “memusnahkan 100 persen kemampuan militer Iran” itu mengakui bahwa Teheran masih mampu melancarkan gangguan asimetris melalui drone, ranjau laut, dan rudal jarak pendek yang tersebar di sepanjang selat. Sebelum seruan publik ini, Trump juga memerintahkan serangan besar terhadap fasilitas militer di Pulau Kharg—hub ekspor minyak yang menangani hampir seluruh penjualan minyak mentah Iran—dan mengancam akan menarget infrastruktur minyaknya apabila Teheran tidak membuka kembali selat tersebut.
“Semoga Cina, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan lainnya, yang terkena dampak kendala buatan ini akan mengirim kapal ke daerah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman oleh Bangsa yang telah benar-benar dipenggal,” tulis Trump di Truth Social, sebagaimana dikutip Al Jazeera dan Axios.
Respons sekutu mulai mengalir. Prancis, dilaporkan France 24 dan AFP, mengonfirmasi pengiriman kapal induk beserta kelompok tempurnya ke kawasan Mediterania, dengan Presiden Emmanuel Macron yang mengunjungi langsung kapal induk tersebut dan menyatakan Paris bersama sekutu sedang merancang misi “defensif” untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Di sisi lain, sebuah kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris dilaporkan telah meninggalkan pelabuhan di selatan Inggris pada Selasa lalu menuju Mediterania timur untuk memperkuat pertahanan Inggris di kawasan. Sementara itu, Amerika Serikat memperkuat kehadirannya dengan mengirimkan tambahan 2.500 Marinir bersama kapal serbu amfibi USS Tripoli dari Jepang, meski kapal tersebut masih berada di Pasifik dan diperkirakan membutuhkan lebih dari sepekan untuk mencapai perairan Iran.
Iran tak gentar. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan publik pertamanya sejak konflik meletus—sebagaimana dikutip ITV News—menegaskan komitmen untuk mempertahankan blokade Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan terhadap Washington. Sementara itu, kepala angkatan laut Garda Revolusi Islam (IRGC) Alireza Tangsiri membantah klaim AS, menyatakan bahwa selat tersebut sejatinya belum ditutup secara militer, melainkan hanya “berada di bawah kontrol.” Perusahaan pelayaran raksasa Maersk dan Hapag-Lloyd dilaporkan Euronews dan Bloomberg telah menangguhkan operasi di Timur Tengah akibat eskalasi ini, memperparah krisis logistik global yang berpotensi memukul rantai pasok Asia—termasuk Indonesia yang mengandalkan jalur ini untuk impor energi.
“Amerika Serikat akan mengebom habis-habisan garis pantai dan terus menembak jatuh perahu-perahu serta kapal-kapal Iran. Dengan satu cara atau cara lain, kita akan segera membuat Selat Hormuz menjadi terbuka, aman, dan bebas,” tegas Trump dalam unggahan berikutnya di Truth Social, dikutip Al Jazeera.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bereaksi tajam terhadap seruan Trump, menyebutnya sebagai tindakan “memohon-mohon” kepada negara lain, dan mendesak negara-negara tetangga Arab untuk mengusir “para agresor asing,” seraya menegaskan bahwa selat itu tertutup hanya bagi kapal-kapal dari negara yang menyerang Iran dan sekutu mereka. Araghchi menambahkan, Iran akan menyerang infrastruktur energi mana pun di kawasan yang dimiliki atau disaham oleh perusahaan Amerika, apabila fasilitas minyak dan energi Iran turut dijadikan target. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran JPMorgan yang mewanti-wanti bahwa serangan terhadap fasilitas minyak Kharg “akan langsung menghentikan sebagian besar ekspor minyak mentah Iran,” dan berpotensi memicu pembalasan besar-besaran di Selat Hormuz.
“Kami saat ini sedang mendiskusikan bersama sekutu dan mitra kami berbagai opsi untuk memastikan keamanan pengiriman di kawasan,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris kepada ITV News.
Selat Hormuz adalah titik tersempit antara Oman dan Iran yang menjadi satu-satunya jalur laut keluar dari Teluk Persia, dan di sinilah sekitar 20 persen pasokan minyak mentah serta gas alam cair (LNG) dunia melintas setiap hari, menurut data yang dikutip berbagai media internasional termasuk Al Jazeera, Fortune, dan Euronews. Gangguan di jalur ini telah mendorong lonjakan harga energi global, menekan produsen buah dan sayuran di Inggris yang memperingatkan kemungkinan penghentian produksi akibat naiknya biaya energi dan transportasi.
Formula 1 bahkan telah membatalkan dua balapan Grand Prix di Bahrain dan Arab Saudi demi alasan keamanan, mencerminkan betapa lebarnya dampak krisis ini terhadap berbagai sektor. Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, penutupan selat ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan mendorong kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) apabila situasi berlarut-larut.