TANGERANG SELATAN, Perspektif.co.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan bergerak cepat merespons ancaman inflasi global yang kian meningkat akibat ketegangan geopolitik dunia. Di tengah lonjakan harga energi dan potensi gangguan rantai pasok, Pemkot Tangsel mempercepat belanja daerah serta menggencarkan intervensi pasar guna menjaga stabilitas ekonomi lokal dan daya beli masyarakat.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, TB Asep Nurdin, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak ingin kecolongan terhadap dampak rambatan inflasi global ke tingkat domestik.
“Pimpinan menyadari gejolak geopolitik global saat ini, terutama eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran, memiliki risiko nyata terhadap kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok pangan dunia. Oleh sebab itu, pemerintah mengantisipasi dampak tersebut dengan mempercepat realisasi belanja daerah serta menggencarkan berbagai program intervensi ekonomi,” ujar Asep kepada wartawan.
Langkah percepatan belanja daerah ini menjadi instrumen utama dalam menjaga perputaran ekonomi lokal, terutama di tengah tekanan “geopolitical risk premium” yang mendorong harga minyak mentah ke level tinggi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan biaya logistik nasional yang pada akhirnya berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok di pasar tradisional.
Pemkot Tangsel menempatkan daya beli masyarakat sebagai prioritas utama. Melalui percepatan penyerapan anggaran, pemerintah berharap likuiditas dapat segera mengalir ke masyarakat melalui proyek-proyek daerah serta pengadaan barang dan jasa, sehingga mampu menjadi penopang konsumsi rumah tangga.
“Termasuk menggencarkan berbagai program intervensi untuk mempertahankan daya beli masyarakat di tengah ancaman inflasi, terutama setelah Idulfitri 2026. Kami berusaha tetap menjaga konsumsi dalam negeri. Jadi, semua belanja pemda ini dikeluarkan secara tepat dan dalam waktu yang cepat agar manfaatnya langsung dirasakan,” lanjutnya.
Selain pendekatan fiskal, Pemkot Tangsel juga memperkuat langkah stabilisasi harga di tingkat akar rumput. Sejak Ramadan hingga pasca-Lebaran, berbagai program seperti bazar murah dan operasi pasar digelar secara intensif di tujuh kecamatan untuk memastikan ketersediaan bahan pangan dengan harga terjangkau.
Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi efek domino dari kenaikan biaya transportasi akibat lonjakan harga energi global, yang berpotensi memicu kenaikan harga bahan pokok.
Tidak hanya mengandalkan kebijakan formal, Pemkot Tangsel juga mengintegrasikan pendekatan sosial melalui optimalisasi distribusi zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan lewat jaringan masjid. Skema ini diposisikan sebagai instrumen redistribusi ekonomi bagi masyarakat yang paling terdampak.
“Ini salah satu strategi kita secara ekonomi dan sosial untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Kami terus mencermati ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada distribusi barang. Gejolak tersebut bisa berdampak pada kelangkaan minyak dan hambatan jalur logistik, sehingga berimbas pada inflasi di daerah,” jelas Asep.
Sebagai daerah yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi logistik, Tangsel dinilai rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Oleh karena itu, Pemkot melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan pemantauan harian terhadap harga komoditas di pasar.
Langkah ini diharapkan mampu meredam gejolak harga yang dipicu oleh sentimen global, sekaligus memastikan respons cepat jika terjadi anomali di lapangan.
“Kami terus mencermati perkembangan dan dampaknya terhadap harga-harga kebutuhan pokok di Tangsel. Monitoring dilakukan secara ketat agar kita bisa segera mengambil tindakan jika terjadi anomali harga di lapangan akibat tekanan eksternal ini,” pungkasnya.