22 February 2026, 04:24

Hollywood Melawan! ByteDance Cetak Laba $50 Miliar Tapi Terancam Somasi Disney Akibat Video AI Seedance 2.0

ByteDance raih laba $50 miliar tapi hadapi somasi Disney atas AI Seedance 2.0. TikTok US resmi dialihkan ke Oracle saat ByteDance pivot ke strategi AI-native.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
574
Hollywood Melawan! ByteDance Cetak Laba $50 Miliar Tapi Terancam Somasi Disney Akibat Video AI Seedance 2.0
Ilustrasi minimalis logo ByteDance bercahaya dengan palet warna kompleks, menggambarkan rilis AI Seedance 2.0 dan transformasi strategi AI-native ByteDance di pasar global tahun 2026. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Raksasa teknologi asal Beijing, ByteDance, kini tengah berada di puncak kejayaan finansial sekaligus pusaran hukum yang sengit pada penghujung Februari 2026. Di satu sisi, pemilik TikTok ini dilaporkan berhasil mencetak rekor laba bersih sebesar $50 miliar sepanjang tahun fiskal 2025, yang didorong oleh dominasi iklan digital dan ekspansi masif TikTok Shop di pasar global. Namun, kesuksesan ini dibayangi oleh langkah agresif The Walt Disney Company yang melayangkan somasi keras (cease-and-desist letter) pada 13 Februari 2026 terkait dugaan pelanggaran hak cipta dalam model AI video generation terbaru ByteDance, Seedance 2.0. Hollywood menuduh ByteDance secara ilegal menggunakan aset intelektual dari waralaba Star Wars dan Marvel untuk melatih algoritma video otonomnya yang baru saja diluncurkan guna menyaingi Sora dari OpenAI.

Somasi ini tidak hanya datang dari Disney, karena pada 20 Februari 2026, raksasa media lain seperti Paramount dan Warner Bros Discovery dilaporkan mulai mengambil langkah serupa setelah mendeteksi kemiripan luar biasa antara output visual Seedance 2.0 dengan karakter-karakter ikonik mereka. Di tengah ketegangan ini, ByteDance secara strategis juga merilis Doubao 2.0, sebuah chatbot asisten cerdas yang kini mendominasi pasar Tiongkok dengan hampir 200 juta pengguna aktif bulanan. Langkah "all-in on AI" ini merupakan upaya ByteDance untuk bertransformasi menjadi perusahaan AI-native setelah secara resmi melepaskan kendali mayoritas atas TikTok di Amerika Serikat kepada konsorsium joint venture yang dipimpin oleh Oracle dan Silver Lake pada Januari 2026 demi menghindari pemblokiran total.

"ByteDance telah melakukan evolusi yang sangat diperhitungkan dari sekadar platform media sosial menjadi model bisnis berbasis AI-native sebagai respon atas keadaan yang terus berkembang," ungkap Charlie Dai, Vice President dan Principal Analyst di Forrester, kepada AFP menyikapi pivot besar perusahaan tersebut.

Peralihan status operasional TikTok di Amerika Serikat menjadi entitas USDS (US Data Security) memungkinkan ByteDance untuk mempertahankan sekitar 20 persen saham sekaligus tetap mendapatkan aliran royalti dari algoritma rekomendasi mereka yang legendaris. Hal ini memberikan ruang bagi ByteDance untuk mengalokasikan miliaran dolar dalam belanja modal (capex) infrastruktur hardware, termasuk pembelian chip AI dari Nvidia dan pengembangan prosesor custom secara mandiri. Meskipun laba melonjak, margin perusahaan sedikit tertekan akibat investasi besar-besaran pada Large Language Models dan teknologi visual agentic capabilities yang diprediksi akan menjadi standar baru produktivitas di masa depan.

"Kami menghormati hak kekayaan intelektual dan telah mendengar kekhawatiran mengenai Seedance, dan saat ini kami berencana untuk memperkuat protokol perlindungan konten kami," tegas juru bicara ByteDance dalam pernyataan resminya menanggapi ancaman hukum dari studio-studio besar di Amerika Serikat.

Di pasar domestik, ByteDance harus bersaing ketat dengan Alibaba yang baru saja merilis Qwen 3.5. Namun, dengan integrasi AI ke dalam ekosistem Douyin dan CapCut, ByteDance tetap unggul dalam hal keterlibatan pengguna (user engagement). CEO ByteDance, Liang Rubo, dalam memo internal yang bocor bulan lalu, menekankan bahwa perusahaan tidak boleh lagi hanya mengandalkan pertumbuhan organik media sosial karena saturasi pasar yang sudah mencapai puncaknya di banyak negara.

"Teknologi artificial intelligence ini akan menjadi aplikasi yang jauh lebih penting daripada sekadar web search di masa depan," ujar Liang Rubo yang menegaskan visi perusahaan untuk memimpin era asisten digital otonom.

Valuasi ByteDance di pasar sekunder kini diperkirakan menembus angka $500 miliar, mencerminkan optimisme investor terhadap kemampuan perusahaan dalam mengonversi data video pendek mereka yang masif menjadi aset pelatihan AI yang tak tertandingi. Namun, tantangan terbesar bagi ByteDance di sisa tahun 2026 adalah menyeimbangkan ambisi teknologi otonom mereka dengan regulasi IP (Intellectual Property) yang semakin ketat di Barat, guna menghindari isolasi teknologi yang dapat menghambat penetrasi global produk-produk non-hiburan mereka seperti layanan cloud dan tools produktivitas perusahaan.

Berita Terkait