16 February 2026, 20:35

Panic Buying! Harga RAM Global Meroket 60 Persen, Vendor China Justru Banjiri Pasar dengan Chip Murah

Krisis chip memori 2026 membuat harga RAM global naik 60% akibat fokus AI, namun vendor China seperti CXMT justru membanjiri pasar dengan memori murah.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
888
Panic Buying! Harga RAM Global Meroket 60 Persen, Vendor China Justru Banjiri Pasar dengan Chip Murah
Infografis perbandingan pasar RAM: Harga memori global (HBM AI) melonjak 60%, sementara vendor China (CXMT) membanjiri pasar dengan stok DDR4 murah di tengah krisis chip. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Kepanikan melanda industri teknologi global pada pertengahan Februari 2026 setelah laporan terbaru dari pasar semikonduktor menunjukkan lonjakan harga memori yang tidak terkendali, di mana harga kontrak DRAM dilaporkan meroket hingga 60 persen hanya dalam kuartal pertama tahun ini. Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan rantai pasokan di Bloomberg Technology dan Nikkei Asia, kenaikan ekstrem ini dipicu oleh langkah agresif tiga pemain utama dunia—Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron—yang secara serentak mengalihkan kapasitas produksi mereka ke High Bandwidth Memory (HBM) demi memenuhi nafsu lapar data center kecerdasan buatan. Situasi ini menciptakan kelangkaan parah untuk memori standar seperti DDR4 dan DDR5 yang biasa digunakan dalam laptop dan smartphone konsumen, memaksa harga perangkat elektronik di pasar Amerika Serikat dan Eropa melambung tinggi ke level yang belum pernah terjadi sejak krisis chip 2021.

Namun, di tengah kekacauan harga yang mencekik pasar global tersebut, fenomena anomali justru terjadi di kawasan Asia Timur di mana vendor memori asal Tiongkok, ChangXin Memory Technologies (CXMT) dan Yangtze Memory Technologies (YMTC), dilaporkan mengambil langkah kontrarian dengan membanjiri pasar menggunakan stok chip murah. Laporan dari KrASIA dan South China Morning Post (SCMP) Tech mengungkapkan bahwa CXMT memanfaatkan celah yang ditinggalkan oleh raksasa Korea Selatan tersebut dengan menawarkan modul memori DDR4 dan LPDDR4 dengan harga yang jauh di bawah rata-rata pasar global. Strategi "banting harga" ini dimungkinkan berkat ekspansi fasilitas produksi besar-besaran di Hefei dan Shanghai yang mulai beroperasi penuh pada awal tahun ini, yang bertujuan untuk merebut pangsa pasar perangkat low-end dan mid-range yang kini diabaikan oleh para pemain besar demi mengejar margin tinggi dari chip AI.

“Ini adalah pergeseran struktural paling brutal yang pernah kami lihat dalam satu dekade terakhir, di mana kapasitas wafer untuk memori konsumer dikorbankan demi AI, memberikan karpet merah bagi pemain China untuk masuk,” ungkap seorang analis senior dari TrendForce yang dikutip dalam laporan industri tertutup, menyoroti bagaimana obsesi dunia pada Generative AI telah mendistorsi rantai pasokan komponen dasar komputer.

Langkah berani vendor China ini bukan tanpa risiko, mengingat laporan dari TechNode dan Tom’s Hardware menyebutkan bahwa CXMT masih berjuang dengan tingkat yield produksi yang lebih rendah sekitar 40 persen dibandingkan kompetitor global mereka akibat sanksi teknologi yang membatasi akses ke alat litografi canggih. Meski demikian, volume produksi yang masif dan subsidi implisit memungkinkan mereka untuk tetap menjual produk dengan harga miring, sebuah taktik yang membuat regulator di Uni Eropa dan Amerika Serikat mulai waspada terhadap potensi praktik dumping. Di sisi lain, bagi pabrikan elektronik di negara berkembang dan pasar perakitan PC non-gaming, kehadiran memori murah dari China ini menjadi satu-satunya penyelamat yang mencegah harga jual produk mereka ikut melambung gila-gilaan.

“Kami melihat adanya bifurkasi pasar yang ekstrem; jika Anda menginginkan performa top-tier untuk server AI, Anda harus membayar harga premium kepada Samsung, tapi untuk menghidupkan laptop kantor biasa, chip dari China kini menjadi satu-satunya opsi logis,” tulis kolumnis teknologi di Ars Technica dalam analisis terbarunya mengenai fragmentasi rantai pasokan global yang semakin dalam di tahun 2026.

Situasi ini diperparah dengan kabar bahwa CXMT tengah mempersiapkan penawaran umum perdana (IPO) senilai USD 4,2 miliar di Bursa Saham Shanghai untuk semakin memperkuat modal ekspansi mereka. Sementara konsumen di Barat bersiap menghadapi kenaikan harga smartphone dan PC hingga 20 persen menjelang musim panas nanti, pasar Asia yang lebih terbuka terhadap komponen China mungkin akan menikmati stabilitas harga yang semu. Dinamika ini menegaskan bahwa perang dagang teknologi tidak lagi sekadar soal blokade akses, melainkan telah berevolusi menjadi perang harga dan perebutan segmen pasar yang ditinggalkan, di mana China secara cerdik memposisikan diri sebagai penyedia "kebutuhan pokok" digital saat dunia sibuk mengejar mimpi kecerdasan buatan yang mahal.

Berita Terkait