TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Rilis GLM‑5 dari Zhipu AI langsung memicu gelombang besar di industri kecerdasan buatan global setelah model open‑source raksasa itu mencatat skor benchmark yang menempatkannya sejajar dengan model premium seperti Claude Opus dan GPT. Peluncuran ini terjadi di tengah persaingan ketat laboratorium AI Tiongkok yang berupaya menunjukkan bahwa mereka mampu memproduksi model berskala ratusan miliar parameter dengan efisiensi tinggi dan performa stabil. GLM‑5 hadir dengan arsitektur Mixture‑of‑Experts berukuran 744 miliar parameter, namun hanya mengaktifkan 40 miliar saat inferensi, menjadikannya salah satu model open‑source paling efisien yang pernah dirilis secara publik.
“Model ini dirilis dengan lisensi MIT. Bobotnya bisa diunduh dan dijalankan di server sendiri,” tulis dokumen teknis yang menegaskan bahwa GLM‑5 benar‑benar open‑source tanpa batasan vendor.
Model tersebut dilatih menggunakan 28,5 triliun token dan berjalan di atas chip Ascend buatan Huawei, langkah strategis yang memungkinkan Zhipu menghindari hambatan ekspor GPU dari Amerika Serikat. Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa ekosistem perangkat keras domestik Tiongkok sudah cukup matang untuk melatih model berskala besar. GLM‑5 juga mengadopsi Deepseek Sparse Attention untuk memangkas biaya komputasi sambil mempertahankan kemampuan konteks panjang.
“GLM‑5 bukan sekadar chatbot—ini dirancang untuk membangun sistem kompleks dan mengeksekusi rencana jangka panjang,” ujar Zhipu AI dalam penjelasan internalnya.
Performa GLM‑5 di benchmark memperlihatkan lompatan besar. Pada SWE‑bench Verified, model ini mencatat skor 77,8 persen, melampaui Deepseek‑V3.2 dan Kimi K2.5, meski masih sedikit di bawah Claude Opus 4.5 yang mencapai 80,9 persen. Dalam uji Vending Bench 2—simulasi bisnis mesin penjual otomatis selama satu tahun—GLM‑5 menutup tahun dengan saldo USD 4.432, hanya terpaut tipis dari Claude Opus 4.5 yang mencatat USD 4.967.
“Selama pengujian, GLM‑5 berperilaku seperti engineer junior yang mampu mengerjakan proyek panjang, bukan sekadar menyelesaikan prompt pendek,” ungkap salah satu penguji independen yang sempat mengira model ini adalah prototipe rahasia dari perusahaan besar Silicon Valley.
Sebelum identitasnya terungkap, GLM‑5 sempat beredar dengan nama samaran “Pony Alpha” dan memicu spekulasi liar di X dan Weibo. Banyak pengembang mengira model tersebut adalah versi eksperimental Claude atau Gemini karena kualitas outputnya yang stabil dan logikanya yang ketat. Setelah Zhipu mengonfirmasi bahwa “Pony Alpha” adalah GLM‑5, komunitas AI menyadari bahwa laboratorium Tiongkok kini mampu menghasilkan model open‑source yang benar‑benar kompetitif secara global.
“GLM‑5 dilatih dengan kerangka ‘Slime’ yang memaksanya menyelesaikan tugas panjang dan belajar dari umpan balik berkelanjutan,” jelas laporan teknis yang menyoroti pendekatan pelatihan baru tersebut.
Dengan harga API hanya USD 1 per juta token—lima kali lebih murah dari Claude Opus 4.6—GLM‑5 menjadi opsi yang sangat menarik bagi perusahaan yang ingin menekan biaya operasional tanpa mengorbankan performa. Kombinasi lisensi MIT, efisiensi MoE, dan performa benchmark yang kompetitif membuat GLM‑5 menjadi salah satu rilis AI paling berpengaruh tahun ini dan menandai babak baru persaingan AI global.