06 May 2026, 15:58

Ilmuwan Ungkap Dugaan Mengejutkan! Badai Matahari Disebut Bisa Memicu Gempa Bumi

Sejumlah ilmuwan dari Kyoto University mengemukakan hipotesis baru yang mengejutkan dunia sains.

Reporter: Anggi Ranf
Editor: Zainur Akbar
8
Ilmuwan Ungkap Dugaan Mengejutkan! Badai Matahari Disebut Bisa Memicu Gempa Bumi
Ilustrasi. Ilmuwan Kyoto University mengajukan hipotesis bahwa badai Matahari dapat memicu gempa bumi melalui gangguan ionosfer. / Doc: istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id - Sejumlah ilmuwan dari Kyoto University mengemukakan hipotesis baru yang mengejutkan dunia sains. Dalam riset terbaru mereka, badai Matahari diduga memiliki potensi memicu gempa bumi melalui gangguan listrik di atmosfer atas Bumi.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah International Journal of Plasma Environmental Science and Technology pada Februari 2026 dan langsung menarik perhatian komunitas ilmiah internasional karena membuka kemungkinan hubungan baru antara cuaca luar angkasa dan aktivitas seismik di Bumi.

Dalam model teoritis yang dikembangkan, para peneliti menjelaskan bahwa badai Matahari dapat mengganggu ionosfer, yakni lapisan atmosfer atas Bumi yang berada di ketinggian sekitar 60 hingga 1.000 kilometer dari permukaan.

Gangguan tersebut diyakini mampu menghasilkan medan listrik yang menembus hingga ke dalam kerak Bumi. Jika terdapat patahan geologi yang sudah berada dalam kondisi kritis, tambahan tekanan elektrostatik dari medan listrik itu diduga bisa menjadi pemicu terjadinya gempa.

Para ilmuwan menjelaskan mekanisme tersebut bermula dari aktivitas suar Matahari yang sangat intens. Ketika badai Matahari besar terjadi, kepadatan elektron di ionosfer meningkat drastis dan membentuk lapisan bermuatan negatif pada bagian bawah ionosfer.

Melalui proses yang dikenal sebagai capacitive coupling, muatan tersebut dapat menghasilkan medan listrik kuat di dalam rongga-rongga mikroskopis pada batuan yang telah retak di kerak Bumi.

Menurut perhitungan tim peneliti, tekanan elektrostatik yang muncul bahkan dapat mencapai beberapa megapascal. Nilai itu disebut mendekati tekanan akibat pasang surut dan gravitasi yang selama ini diketahui memang dapat memengaruhi kestabilan patahan bumi.

Para peneliti menggambarkan zona patahan di kerak Bumi sebagai sistem yang mengandung air dalam kondisi suhu dan tekanan ekstrem, bahkan kemungkinan berada pada fase superkritis.

Secara kelistrikan, kawasan tersebut dinilai bekerja seperti kapasitor raksasa yang menghubungkan permukaan Bumi dengan ionosfer. Sistem itu kemudian membentuk jaringan elektrostatik berskala besar antara tanah dan atmosfer atas.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan penelitian ini belum membuktikan bahwa badai Matahari secara langsung menyebabkan gempa bumi. Studi tersebut lebih menitikberatkan pada kemungkinan adanya hubungan interaksi antara aktivitas Matahari dan dinamika kerak Bumi.

Penelitian itu juga membuka peluang adanya hubungan dua arah antara Bumi dan ionosfer. Artinya, proses yang terjadi di dalam kerak Bumi bisa memengaruhi kondisi ionosfer, sementara gangguan di ionosfer juga berpotensi memberikan tekanan balik terhadap patahan geologi.

Sebagai salah satu contoh, para peneliti menyinggung gempa besar di Semenanjung Noto, Jepang, pada 2024 yang terjadi tidak lama setelah periode aktivitas suar Matahari intens.

Namun mereka menekankan bahwa kemunculan dua peristiwa tersebut secara berdekatan belum dapat dijadikan bukti hubungan sebab-akibat secara ilmiah.

“Kesamaan waktu tidak secara otomatis membuktikan adanya hubungan langsung,” tulis para peneliti dalam laporan mereka.

Hipotesis baru ini diperkirakan masih akan menjadi bahan perdebatan panjang di kalangan ilmuwan geofisika dan astronomi. Sejumlah ahli menilai diperlukan penelitian lanjutan serta data observasi jangka panjang untuk memastikan apakah badai Matahari benar-benar memiliki pengaruh terhadap aktivitas seismik di Bumi.

Berita Terkait