TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Lonjakan permintaan memori DRAM untuk pusat data AI global ternyata berdampak langsung ke kantong konsumen smartphone. Pada kuartal pertama 2026, Qualcomm—pemasok chip utama untuk Android—mengeluarkan peringatan resmi: harga memori melonjak tajam karena produsen chip memprioritaskan pasokan untuk server AI raksasa seperti Amazon, Google, dan Microsoft.
Menurut CEO Qualcomm Cristiano Amon dalam panggilan earnings Q1 2026, industri ponsel pintar akan “terhambat” oleh ketersediaan dan harga DRAM yang mahal. Hal ini menyebabkan penurunan saham Qualcomm hingga 11% dalam sehari, sekaligus memicu kekhawatiran lebih luas di pasar teknologi.
Efek Domino ke Pasar Indonesia
Di Indonesia, di mana pengguna internet sudah mencapai 230 juta jiwa (data terbaru Februari 2026), namun kecepatan rata-rata seluler masih tertinggal di 52,73 Mbps (hanya ungguli Laos di ASEAN), krisis ini berpotensi memperparah situasi. Vendor seperti Samsung, OPPO, vivo, realme, dan Xiaomi—yang mendominasi pasar entry hingga mid-range—dilaporkan mulai menyesuaikan strategi.
Beberapa laporan menyebut harga RAM dan storage di perangkat baru bisa naik 15–25% dibandingkan model 2025. Model flagship dengan fitur AI on-device (seperti Galaxy AI Samsung yang kini ditargetkan mencapai 800 juta unit perangkat di 2026) paling terdampak, karena membutuhkan RAM lebih besar (minimal 12–16 GB) untuk menjalankan fitur seperti generative AI, photo editing cerdas, dan agen otonom.
Tren Smartphone 2026: AI vs Harga
Meski demikian, inovasi AI tetap menjadi bintang utama. Samsung berencana menggandakan perangkat ber-Galaxy AI dari 400 juta menjadi 800 juta unit tahun ini, didukung Google Gemini. Di sisi lain, brand China seperti XPENG (yang baru saja unjuk gigi di IIMS 2026) menunjukkan integrasi “Physical AI” untuk kendaraan otonom dan robotaxi—teknologi yang mulai merembes ke smartphone.
Sementara itu, realme—yang baru saja kembali menjadi sub-brand OPPO per Januari 2026—dilaporkan melakukan penyesuaian tenaga kerja di beberapa pasar (termasuk India) untuk efisiensi pasca-integrasi. Langkah ini diharapkan membantu menekan biaya, tapi konsumen khawatir inovasi mid-range bakal tertunda.
Apa yang Harus Dilakukan Konsumen?
Pakar menyarankan:
• Beli smartphone sekarang jika butuh upgrade segera, sebelum kenaikan harga lebih masif pertengahan tahun.
• Prioritaskan model dengan baterai jumbo (seperti tren 10.000 mAh di seri Realme terbaru) dan charging cepat, karena AI boros daya.
• Pantau event besar seperti MWC 2026 (akhir Februari) untuk pengumuman perangkat baru yang mungkin sudah antisipasi krisis memori.
Secara keseluruhan, 2026 menjadi tahun transisi: AI bukan lagi gimmick, tapi kebutuhan inti. Namun, biaya infrastruktur AI yang membengkak membuat “demokratisasi” teknologi ini semakin mahal—terutama bagi pasar berkembang seperti Indonesia.