28 February 2026, 16:09

Xiaomi Rebut Tahta Wearable Global 2025, Apple Tergeser: Data Baru Ungkap Persaingan yang Makin Brutal

Xiaomi kembali puncaki pasar wearable 2025, geser Apple dan Huawei dalam persaingan ketat berbasis ekosistem menurut laporan Omdia.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
467
Xiaomi Rebut Tahta Wearable Global 2025, Apple Tergeser: Data Baru Ungkap Persaingan yang Makin Brutal
Ilustrasi vektor Xiaomi smartband dengan latar grafik pasar wearable global 2025. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Xiaomi kembali naik ke posisi puncak pasar wearable global pada 2025 setelah lima tahun tersingkir, menandai perubahan besar dalam dinamika industri yang selama ini didominasi Apple. Laporan terbaru Omdia menunjukkan bahwa pengiriman perangkat wearable dunia menembus lebih dari 200 juta unit sepanjang 2025, tumbuh 6% dari tahun sebelumnya, dengan selisih pangsa pasar antara tiga pemain teratas—Xiaomi, Apple, dan Huawei—kurang dari satu persen.

Kebangkitan Xiaomi tidak terjadi secara kebetulan. Perusahaan ini mengamankan 18% pangsa pasar global, didorong oleh strategi multi-kategori yang agresif, mulai dari Mi Band yang tetap menjadi raja segmen terjangkau hingga smartwatch entry-level dengan chip buatan sendiri dan integrasi HyperOS yang semakin dalam. Pendekatan ini membuat Xiaomi kembali merebut posisi nomor satu untuk pertama kalinya sejak 2020.

“Kompetisi perangkat wearable kini bergerak dari sekadar adu hardware menjadi pertarungan ekosistem,” ujar Cynthia Chen, Manajer Riset Omdia.

Apple, yang turun ke posisi kedua dengan 17% pangsa pasar, masih memimpin segmen premium berkat fitur kesehatan tingkat lanjut dan loyalitas pengguna yang kuat. Namun, tekanan dari Xiaomi dan Huawei semakin terasa karena kedua perusahaan Tiongkok itu memperluas ekosistem perangkat dan layanan mereka secara agresif. Huawei sendiri mengamankan 16% pangsa pasar, didukung dominasi di pasar domestik dan fokus pada fitur kesehatan semi-medical grade.

“Keunggulan kompetitif kini bergantung pada kemampuan menghadirkan sinergi lintas perangkat dan mengubah data menjadi layanan bernilai tambah,” tambah Chen.

Di balik lonjakan Xiaomi, ekosistem menjadi faktor penentu. Integrasi perangkat yang semakin erat—mulai dari smartphone, smart home, hingga kendaraan listrik—membuat pengguna semakin terikat. Strategi “Human × Car × Home” yang dikembangkan Xiaomi memperkuat posisi mereka di pasar negara berkembang, di mana harga terjangkau dan konektivitas lintas perangkat menjadi nilai jual utama.

Sementara itu, Samsung dan Garmin melengkapi lima besar dengan pangsa pasar masing-masing 9% dan 5%, menunjukkan bahwa pasar wearable tetap kompetitif meski tiga besar mendominasi lebih dari separuh total pengiriman global.

Dengan margin yang begitu tipis, analis memperkirakan persaingan akan semakin sengit pada 2026. Perusahaan yang mampu menggabungkan perangkat, layanan, dan data dalam satu ekosistem terpadu diprediksi akan menjadi pemenang jangka panjang. Industri wearable kini memasuki fase baru—bukan lagi soal spesifikasi layar atau sensor, tetapi tentang siapa yang mampu mengikat pengguna paling kuat dalam ekosistem digital mereka.

Berita Terkait