Perspektif.co.id - Gates Foundation milik pendiri Microsoft Bill Gates mengangkat Sri Mulyani Indrawati sebagai anggota dewan direksi (board) yayasan tersebut. Penunjukan ini diumumkan pada Selasa (13/1/2026) dan disebut ditujukan untuk memperkuat tata kelola serta strategi yayasan di tengah fase baru belanja filantropi besar-besaran hingga 2045.
CEO Gates Foundation sekaligus anggota dewan pengurus, Mark Suzman, menyebut pengalaman Sri Mulyani dalam isu tata kelola dan kebijakan ekonomi dinilai relevan dengan target jangka panjang yayasan. “Sri Mulyani memiliki pengalaman dalam membentuk ekonomi yang adil—keahlian (itu) sangat penting untuk mencapai tujuan jangka panjang yayasan,” kata Suzman dalam pernyataan resmi Gates Foundation.
Suzman menambahkan, kepemimpinan Sri Mulyani diharapkan membantu memastikan sumber daya yayasan dipakai secara efektif untuk memperluas kesempatan dan mendorong pertumbuhan yang inklusif. “Kepemimpinan (Sri Mulyani) akan membantu memastikan sumber daya kami terus digunakan untuk memperluas kesempatan, mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, dan meningkatkan hasil bagi masyarakat di seluruh dunia,” ujarnya.
Sri Mulyani menyatakan merasa terhormat dapat bergabung di dewan Gates Foundation dan melihatnya sebagai momen penting yang penuh tantangan sekaligus peluang. “Dengan pengalaman 20 tahun memberikan dampak sebesar-besarnya bagi kehidupan mereka yang paling membutuhkan, saya merasa terhormat bergabung dengan dewan Gates Foundation guna berkontribusi pada momen penting yang penuh tantangan sekaligus peluang ini,” kata Sri Mulyani.
Ia juga mengungkapkan relasi kerja sama dengan yayasan tersebut telah terjalin hampir satu dekade, ketika kedua pihak mengeksplorasi pemanfaatan teknologi baru untuk memperluas peluang dan mendorong pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan. “Saya sangat termotivasi untuk membawa pengalaman saya di bidang keuangan global, kebijakan ekonomi, dan tata kelola yang baik ke dalam upaya-upaya penting ini untuk menyelamatkan nyawa dan meningkatkan taraf hidup,” ujar Sri Mulyani.
Penunjukan anggota dewan baru ini terjadi dalam konteks strategi “spend-down” Gates Foundation, yakni komitmen untuk menghabiskan dana abadi yayasan dalam dua dekade ke depan sampai penutupan pada 2045. Pada perayaan 25 tahun yayasan, Bill Gates menyatakan Gates Foundation menargetkan pengeluaran lebih dari US$200 miliar antara sekarang hingga 2045—angka yang bergantung pada pasar dan inflasi—dengan fokus pada penguatan kesehatan global, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesempatan hidup.
Dalam rencana dua dekade itu, yayasan menempatkan sejumlah tujuan besar, termasuk mencegah kematian ibu dan bayi, memastikan generasi berikutnya tumbuh tanpa penyakit menular yang mematikan, serta mengangkat jutaan orang dari kemiskinan menuju kemakmuran.
Gates Foundation menyebut Sri Mulyani akan bertugas bersama jajaran dewan lainnya, yakni Ashish Dhawan, Helene Gayle, Strive Masiyiwa, Thomas J. Tierney, Mark Suzman, dan Bill Gates. Sementara itu, Baroness Nemat (Minouche) Shafik disebut sedang cuti karena menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala penasihat ekonomi untuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Dalam pengumuman yang sama, Gates Foundation juga menyatakan membentuk Divisi Kantor Afrika dan India (Africa and India Offices/AIO) yang baru. Divisi ini dipimpin Ankur Vora sebagai Presiden AIO, bersamaan dengan perannya sebagai Chief Strategy Officer. Struktur baru ini menyatukan kantor-kantor Gates Foundation di Afrika dan India untuk memperkuat suara regional dan negara dalam strategi, penetapan prioritas, serta pelaksanaan program.
Vora menyebut pembentukan divisi AIO mencerminkan peran sentral Afrika dan India dalam misi yayasan sekaligus penekanan bahwa perspektif negara harus ikut membentuk strategi, prioritas, dan alokasi sumber daya. “Yayasan terus meningkatkan dampaknya hingga 2045, divisi baru Afrika dan India ini mencerminkan peran sentral yang dimainkan wilayah-wilayah ini dalam memajukan misi kami dan pentingnya memastikan bahwa perspektif negara terus membentuk strategi, prioritas, dan bagaimana sumber daya dialokasikan,” ujar Vora.