27 November 2025, 01:27

BI Ingatkan Generasi Muda Melek Keuangan, Cermat Investasi, Baru Bisa Cuan!

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menggarisbawahi tiga kunci utama mengelola keuangan secara cerdas yang dirumuskan sebagai konsep 3M.

Reporter: Zainur Akbar
Editor: Deden M Rojani
2,272
BI Ingatkan Generasi Muda Melek Keuangan, Cermat Investasi, Baru Bisa Cuan!
LIKE IT yang diselenggarakan di Bali pada hari ini merupakan kegiatan LIKE IT ketujuh yang dilaksanakan sepanjang tahun 2025. / Doc: Humas BI

JAKARTA, Perspektif.co.id – Penguatan literasi keuangan dinilai menjadi prasyarat utama bagi generasi muda agar mampu berinvestasi secara cerdas dan bertanggung jawab. Anak muda didorong menerapkan prinsip investasi bijak: memahami peluang sekaligus risiko, serta teliti memilih instrumen investasi resmi dan berizin. Kombinasi kemampuan tersebut diyakini menentukan apakah investasi benar-benar bisa memberikan keuntungan atau cuan (cerdas, cermat, cuan).

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2025 yang digelar pada 24 November 2025 di Universitas Hindu Indonesia, Bali. Program LIKE IT merupakan inisiatif bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk mengerek tingkat literasi keuangan sekaligus memperluas basis investor ritel, terutama di kalangan generasi muda.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menggarisbawahi tiga kunci utama mengelola keuangan secara cerdas yang dirumuskan sebagai konsep 3M. Ia menekankan pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi era keuangan digital yang kian kompleks.

“Literasi keuangan yang kuat menjadi fondasi utama bagi generasi muda untuk berinvestasi cerdas,” menjadi salah satu penekanan utama yang disampaikan dalam forum tersebut.

Destry menjelaskan, M pertama adalah Melek Digital, yakni memahami dengan baik profil risiko sebelum menempatkan dana ke instrumen investasi dan memprioritaskan produk keuangan yang resmi serta berizin. M kedua adalah Merencanakan keuangan sejak dini, dengan membangun kebiasaan positif dalam mengatur pendapatan dan pengeluaran, mulai dari menyisihkan dana darurat, menghindari utang konsumtif, hingga membiasakan diri menabung dan berinvestasi.

M ketiga, lanjutnya, adalah bersikap layaknya pelari maraton, bukan sprinter, karena investasi membutuhkan visi jangka panjang. Hasil besar tidak dapat diperoleh secara instan. Investor muda diingatkan agar tidak mudah tergoda imbal hasil tinggi dalam waktu singkat yang berpotensi menjerumuskan pada instrumen berisiko tinggi dan tidak jelas legalitasnya.

Sejalan dengan itu, Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, menegaskan bahwa pengelolaan keuangan yang bijak merupakan faktor krusial untuk menjaga ketahanan dan keberlanjutan kondisi finansial individu.

Ia menekankan pentingnya menata skala prioritas begitu seseorang memperoleh penghasilan. “Pada saat mendapatkan penghasilan, mulailah menyisihkan bukan menyisakan untuk menyiapkan dana cadangan dalam bentuk simpanan guna memenuhi kebutuhan operasional beberapa bulan ke depan (3–6 bulan) dan kondisi darurat (emergency fund),” disampaikannya dalam sesi paparan.

Setelah cadangan likuiditas dinilai memadai, barulah dana surplus dialihkan ke berbagai instrumen investasi yang dipahami. Farid mengingatkan agar calon investor mempelajari karakter instrumen serta risikonya, di samping memastikan aspek legalitas lembaga dan produk keuangan tersebut. Ia mendorong generasi muda membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi secara terdiversifikasi sejak dini untuk mengurangi konsentrasi risiko.

Dari sisi kebijakan fiskal dan pasar keuangan, Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Masyita Crystallin, memaparkan sejumlah hal yang perlu menjadi pertimbangan sebelum seseorang memutuskan berinvestasi.

Pertama, penentuan profil risiko investor, apakah termasuk risk averse, moderat, atau risk taker. Kedua, penentuan jangka waktu investasi, apakah berorientasi jangka pendek, menengah, atau panjang. Ketiga, pentingnya diversifikasi risiko dengan tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis instrumen saja.

Masyita juga menggarisbawahi bahwa bagi generasi muda yang sedang menempuh pendidikan, investasi di bidang pendidikan sendiri menjadi pilar penting. Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan akan melahirkan generasi yang lebih cerdas, adaptif, dan memiliki prospek masa depan yang lebih cerah, baik dari sisi karier maupun kapasitas mengambil keputusan keuangan.

Dari sisi pengawasan dan perlindungan konsumen jasa keuangan, Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK, Irhamsah, mengingatkan agar investor selalu memastikan produk investasi yang dipilih telah mengantongi izin dari otoritas berwenang.

Ia menambahkan, OJK bersama otoritas dan lembaga terkait telah membentuk Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Illegal (Satgas PASTI) sebagai garda depan untuk menangani aktivitas keuangan ilegal lintas sektor yang berpotensi merugikan masyarakat dan mengancam stabilitas sistem keuangan. Melalui Satgas PASTI, penanganan dan pencegahan aktivitas ilegal di sektor keuangan diharapkan berjalan lebih efektif, terkoordinasi, dan menyentuh aspek penindakan maupun edukasi.

LIKE IT yang digelar di Bali kali ini menjadi kegiatan ketujuh sepanjang 2025, setelah sebelumnya menyambangi enam kota lain, yakni Jakarta, Banda Aceh, Manado, Pontianak, Gorontalo, dan Solo. Secara keseluruhan, rangkaian LIKE IT 2025 telah menjangkau lebih dari 22 ribu anak muda di berbagai daerah.

LIKE IT di Bali juga menandai penutupan rangkaian program LIKE IT Tahun 2025. Penyelenggara berharap, setelah mengikuti kegiatan ini, generasi muda Indonesia semakin melek keuangan, kritis terhadap penawaran investasi, dan terdorong menjadi investor ritel yang aktif namun tetap berhati-hati. Pada akhirnya, peningkatan literasi dan partisipasi investasi di kalangan generasi muda diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan pasar keuangan domestik dan mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Berita Terkait