29 June 2026, 17:05

China Luncurkan Organisasi Kerjasama AI Global, Eropa dan AS Makin Tertinggal dalam Perang EV dan Teknologi

China perkuat dominasi AI dan EV global, bangun organisasi kerjasama AI dunia saat Eropa dan AS tertinggal jauh dalam perang teknologi dan kendaraan listrik.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
88
China Luncurkan Organisasi Kerjasama AI Global, Eropa dan AS Makin Tertinggal dalam Perang EV dan Teknologi
China perkuat dominasi EV dan AI global: BYD kuasai pasar dunia sementara Wang Yi umumkan organisasi kerjasama AI internasional di tengah persaingan sengit dengan AS dan Eropa. (Foto: Ilustrasi)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Beijing secara resmi mengumumkan percepatan pembentukan organisasi kerjasama kecerdasan buatan (AI) tingkat global, dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan negaranya membuka pintu bagi seluruh negara untuk bergabung. Pengumuman mengejutkan itu disampaikan Wang Yi di Beijing pada 17 Juni 2026, bertepatan dengan momen KTT G7 berlangsung di Prancis—sebuah forum besar yang tidak mengundang China sebagai anggota.

Langkah Beijing ini menciptakan dua kubu yang kini terbuka bertentangan: China menawarkan organisasi kerjasama AI global yang terbuka untuk semua, sementara G7 justru sedang mendiskusikan pembatasan akses ke model AI Amerika hanya bagi “mitra terpercaya” tertentu. Dua visi tata kelola teknologi yang bertolak belakang ini kini resmi memasuki babak konfrontasi terbuka di panggung geopolitik internasional.

“Cina mempercepat pembentukan organisasi kerja sama AI global, dan menyambut semua pihak untuk bergabung,” kata Wang Yi kepada para jurnalis, sebagaimana diterjemahkan oleh CNBC dari bahasa Mandarin.

Wakil Ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China, Zhou Haibing, menambahkan bahwa Konferensi AI Dunia 2026 dan Pertemuan Tingkat Tinggi tentang Tata Kelola AI Global akan digelar di Shanghai pada Juli mendatang, menegaskan keseriusan Beijing dalam membangun arsitektur AI internasional versi mereka sendiri.

Berbicara di forum yang sama, Zhao Haibing, wakil ketua lembaga ekonomi utama China, secara terang-terangan menolak apa yang disebutnya sebagai “pendekatan tertutup, eksklusif, dan monopolistik dalam pengembangan teknologi,” sambil menekankan komitmen China untuk memperdalam kerjasama AI melalui BRICS dan Shanghai Cooperation Organization. Pernyataan itu secara implisit menyerang strategi AS yang memperketat kontrol ekspor chip dan teknologi sensitif ke negara-negara yang dianggap bukan sekutu.

Perdana Menteri China Li Qiang bahkan melangkah lebih jauh, memperingatkan dunia akan “konsekuensi serius” jika pemerintah-pemerintah di seluruh dunia gagal memperkuat regulasi kecerdasan buatan—sebuah pernyataan yang disampaikannya di hadapan Forum Ekonomi Dunia di Dalian pada 24 Juni 2026.

Sementara perang wacana AI memanas, pertempuran industri di sektor kendaraan listrik (EV) justru sudah jauh memasuki babak penghabisan—dan China tampil sebagai pemenang yang nyaris tidak terbantahkan. Data terbaru dari International Energy Agency (IEA) dalam laporan Global EV Outlook 2026 yang dirilis 20 Mei lalu mengungkapkan bahwa satu dari empat mobil yang terjual di seluruh dunia kini sudah bertenaga listrik, sementara penetrasi EV di Amerika Serikat masih stagnan di kisaran 10 persen.

Penjualan EV global menembus 20 juta unit sepanjang tahun lalu dengan pertumbuhan 20 persen dari 2024, namun di AS angkanya justru sedikit turun akibat pergeseran kebijakan yang mempersulit proses produksi dan pembelian kendaraan listrik.  IEA mencatat tidak adanya kredit pajak federal membuat AS praktis tanpa dukungan finansial pemerintah untuk pembelian mobil listrik di 2026.

Meski negara-negara maju terus memperketat hambatan perdagangan—termasuk bea masuk balasan Uni Eropa terhadap mobil listrik buatan China, pemulihan tarif di Brasil dan Meksiko, serta bea baru di Turki—ekspor China diproyeksikan tetap mendominasi perdagangan global EV hingga 2035, dengan lebih dari satu dari empat mobil listrik yang dijual di negara-negara maju diproduksi di China.

BYD bukan satu-satunya pemain besar: pada 2025, enam dari sepuluh produsen EV terbesar di dunia adalah perusahaan China, dan negara itu memproduksi lebih dari 60 persen seluruh kendaraan listrik secara global. Posisi dominan China di rantai pasok baterai dan manufaktur EV membuatnya nyaris mustahil dikejar dalam waktu dekat.

Jim Farley, CEO Ford Motor Company, mengakui secara terbuka ketinggalan industri otomotif Barat. “Itu adalah hal yang paling merendahkan yang pernah saya lihat,” kata Farley pada 2025 tentang BYD yang rata-rata mengajukan 52 paten per hari. “Biaya mereka, kualitas kendaraan mereka, jauh lebih unggul daripada apa yang saya lihat di Barat.”

Di Eropa, tekanan itu mendorong Komisi Eropa mencari jalan tengah. Uni Eropa menawarkan alternatif bagi produsen EV China berupa sistem harga minimum sebagai pengganti tarif impor hingga 35 persen, sebuah relaksasi yang disambut positif oleh BYD, Xpeng, dan NIO—namun para ekonom dari Centre for Economic Policy Research memperingatkan bahwa langkah ini justru merupakan “pilihan kebijakan yang buruk” karena harga dasar yang artifisial tinggi hanya akan memindahkan pendapatan dari konsumen Eropa ke produsen China.

Kapasitas produksi luar negeri China diperkirakan hampir dua kali lipat pada 2026, mencapai 4,3 juta unit per tahun. BYD sendiri sudah merintis pabrik perakitan di Hungaria yang diproyeksikan mulai beroperasi tahun ini.  Strategi ini memungkinkan produsen China menghindari tarif sekaligus memenuhi tuntutan konten lokal yang semakin diperketat berbagai negara.

Di tengah perlambatan pasar domestik—penjualan EV China pada kuartal pertama 2026 turun 21 persen dibanding tahun lalu—produsen-produsen China justru semakin agresif membidik pasar ekspor, dibantu lonjakan harga bahan bakar fosil global yang dipicu konflik geopolitik. Biaya diesel di sejumlah negara Asia Tenggara dilaporkan melonjak lebih dari 100 persen sejak konflik Iran pecah akhir Februari lalu, mempercepat migrasi konsumen ke kendaraan listrik.

Di Amerika Utara, China bahkan mulai menembus lewat pintu belakang: di Meksiko, kendaraan China sudah menguasai seperempat total penjualan mobil, sementara Kanada di bawah PM Mark Carney membuka keran impor hingga 49.000 unit EV buatan China per tahun dengan tarif hanya 6,1 persen. Ini adalah lubang besar di tembok proteksionisme Amerika, yang terus dieksploitasi produsen China dengan kecepatan yang sulit diimbangi Washington.

Berita Terkait