05 December 2025, 17:47

Bawa Donasi Rp 10,3 M, Ferry Irwandi Turun ke Pengungsian Banjir Langkat yang Bertahan di Atas Rel Kereta Api

Kreator konten sekaligus aktivis sosial Ferry Irwandi turun langsung menyalurkan bantuan bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
2,293
Bawa Donasi Rp 10,3 M, Ferry Irwandi Turun ke Pengungsian Banjir Langkat yang Bertahan di Atas Rel Kereta Api
Kreator konten, Ferry Irwandi temui warga pengungsian di area rel kereta api, Desa Padang Tualang, Langkat, Sumut.

LANGKAT, Perspektif.co.id – Kreator konten sekaligus aktivis sosial Ferry Irwandi turun langsung menyalurkan bantuan bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Bersama relawan ‘Kita Bisa’ dan tim pendukung, Ferry mendistribusikan sekitar seribu paket logistik ke sejumlah titik pengungsian pada Kamis (5/12/2025).

Lokasi pertama yang disambangi adalah posko pengungsian darurat di Dusun IV, Desa Padang Tualang, Langkat. Tenda-tenda pengungsi didirikan di atas area rel kereta api, dengan fasilitas yang sangat terbatas. Ferry menggambarkan kondisi di lapangan masih jauh dari layak untuk hunian sementara.

“Banjir di Langkat masih parah, camp pengungsian ini minim sarana prasarana dan berdiri di atas rel kereta api. Kepada Pak Gubernur dan Pak Bupati, kami mohon atensinya, semoga bisa lebih diperhatikan,” ujar Ferry saat menemui pengungsi dan menyampaikan aspirasi warga.

Melihat keterbatasan dapur umum serta ketiadaan perlengkapan dasar, Ferry dan timnya menurunkan berbagai bantuan logistik. Paket bantuan yang dibawa antara lain makanan siap saji, beras, minyak goreng, selimut, popok bayi, tenda terpal, lampu darurat, alas tidur, sepatu bot, dan kebutuhan harian lain untuk menunjang aktivitas para pengungsi.

Selain membawa logistik dari Jakarta, Ferry juga langsung membelanjakan sejumlah kebutuhan prioritas yang diminta warga di lokasi. Ia menekankan, sebagian kebutuhan mendesak baru diketahui setelah berdialog dengan para pengungsi di tenda-tenda darurat.

“Kami datang bukan hanya bawa barang, tapi juga mendengar. Sejumlah kebutuhan yang mereka minta langsung kami belikan di sini, termasuk tenda tambahan dan lampu penerangan. Namun untuk semua ini kami juga butuh kolaborasi semua pihak,” kata Ferry di depan relawan dan awak media.

Dalam kesempatan tersebut, Ferry juga menyuarakan keluhan warga terkait infrastruktur pengendali banjir. Ia meminta pemerintah daerah segera memperbaiki tanggul dan bendungan yang rusak agar banjir tidak kembali berulang.

“Permintaan mereka sederhana: bendungan dan benteng air ini tolong segera diperbaiki. Karena kalau tanggulnya dibiarkan, masalah air ini tidak akan selesai,” ucap Ferry, menyampaikan aspirasi pengungsi.

Ferry mengungkapkan, bantuan yang disalurkan di Langkat bersumber dari donasi publik yang ia galang melalui platform penggalangan dana. Pengungsi diketahui sudah sekitar sepekan bertahan di tenda darurat di atas rel kereta api, dengan kondisi tidur berdesakan dan tanpa penerangan memadai.

“Mereka sudah seminggu bertahan di pengungsian ini, tidur berhimpitan dan awalnya tanpa cahaya. Alhamdulillah sebagian kebutuhan mendesak sudah bisa kami penuhi, tapi pekerjaan kita belum selesai dan masih banyak yang perlu dibantu,” ujarnya.

Pengalaman serupa diungkapkan Nasria, salah seorang pengungsi di Padang Tualang. Ia menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah selama puluhan tahun tinggal di wilayah tersebut.

“Sudah seminggu kami di atas rel ini. Bantuan dari pemerintah sudah ada, datang dua hari setelah kejadian banjir. Tapi selama 40 tahun tinggal di sini, baru kali ini banjir setinggi ini. Biasanya air cuma 20 sentimeter, sekarang sudah sampai seleher,” tutur Nasria.

Usai dari Dusun IV, rombongan Ferry bergerak menyalurkan logistik ke pengungsian di Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Padang Tualang. Di lokasi tersebut, selain membagikan bantuan bahan pokok dan perlengkapan harian, Ferry juga memberikan uang saku kepada sejumlah anak-anak pengungsi, termasuk mereka yang sempat terjebak dan terseret arus banjir sebelum diselamatkan warga.

Seorang ibu bernama Muliani, yang ditemui di pengungsian Tanjung Selamat, mengaku sudah seminggu tidur di ruang kelas sekolah yang dialihfungsikan menjadi tempat mengungsi.

“Sudah seminggu kami nginap di kamar sekolah ini. Yang mengungsi di sini warga Desa Purwodadi dan Paya Katip, paling banyak dari Paya Katip. Sebagian sudah mulai kembali ke rumah untuk bersih-bersih,” jelasnya.

Sementara itu, relawan Jovy Andalives menjelaskan bahwa tim sudah membawa berbagai kebutuhan dari Jakarta, namun tetap melengkapi bantuan berdasarkan permintaan langsung warga di lapangan.

“Di sini kami langsung dengarkan apa saja keluhan dan permintaan pengungsi. Salah satu kebutuhan yang langsung kami beli di lokasi adalah lampu penerangan, karena malam hari mereka benar-benar gelap,” ujar Jovy.

Ferry Irwandi sebelumnya sempat menggalang donasi untuk korban banjir melalui platform Kitabisa. Hanya dalam waktu 24 jam, pengumpulan dana yang ia inisiasi dilaporkan mencapai sekitar Rp10,3 miliar. Dana tersebut kemudian didistribusikan dalam bentuk bantuan logistik dan kebutuhan dasar ke berbagai titik terdampak.

Setelah menyelesaikan penyaluran bantuan tahap awal di Kabupaten Langkat, Ferry menyampaikan bahwa dirinya akan melanjutkan misi kemanusiaan ke daerah lain yang juga terdampak banjir besar.

“Untuk selanjutnya kami akan memberikan bantuan ke Aceh Tamiang yang minim bantuan karena akses jalannya terbatas, lalu dilanjutkan ke Takengon, Aceh Tengah,” pungkasnya.

Berita Terkait