28 February 2026, 14:03

Awal Ramadan Stasiun Gambir Membludak, Perantau Rela Mudik Dini Demi Sahur Bareng Ibu

Suasana Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, tampak lebih padat dari biasanya pada awal Ramadan.

Reporter: Anggi Ranf
Editor: Deden M Rojani
799
Awal Ramadan Stasiun Gambir Membludak, Perantau Rela Mudik Dini Demi Sahur Bareng Ibu
Foto: Suasana Stasiun Gambir Jakpus, Sabtu (28/2/2026) (Belia/detikcom)

Perspektif.co.id - Suasana Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, tampak lebih padat dari biasanya pada awal Ramadan. Sejumlah perantau memilih pulang kampung lebih dini agar dapat menjalani ibadah puasa bersama keluarga di kampung halaman, tanpa harus menunggu momen Lebaran.

Salah satunya Wiwid (34), perantau asal Yogyakarta yang mengaku sudah lima tahun tidak pulang karena kesibukan pekerjaan. Tahun ini ia memutuskan kembali ke kampung untuk menemani orang tuanya selama Ramadan.

“Memang sudah niat dari tahun lalu, kayaknya tahun ini pulang pas puasa saja. Sudah 5 tahun nggak pulang karena kerjaan. Saya juga mau nemenin orang tua, apalagi mereka sudah cukup tua,” ujar Wiwid saat ditemui di Stasiun Gambir, Sabtu (28/2/2026).

Menurutnya, momen sahur bersama sang ibu menjadi kenangan yang paling dirindukan selama merantau di Jakarta. Ia mengaku pekan pertama Ramadan terasa berat karena harus sahur seorang diri.

“Yang paling saya kangen itu sahur dibangunin ibu. Minggu-minggu pertama kemarin terasa sedih ya sahur sendirian, kadang malah nggak sahur,” ungkapnya.

Selain sahur, Wiwid juga merindukan suasana kebersamaan warga di kampung, terutama setelah salat tarawih. Ia menilai nuansa Ramadan di daerah memiliki kehangatan sosial yang berbeda dibandingkan di ibu kota.

“Suasana masjid di kampung beda. Setelah tarawih biasanya warga nggak langsung pulang, tapi ngobrol dulu. Ada rasa kebersamaan yang jarang saya rasakan di Jakarta,” katanya. Ia berencana menetap di kampung hingga hari pertama Lebaran.

Rasa rindu serupa diungkapkan Rina (27), karyawan swasta yang hendak bertolak ke Semarang. Ia sengaja mengambil cuti lebih awal untuk menghindari lonjakan harga tiket dan keterbatasan kursi menjelang Lebaran.

“Iya, saya sengaja ambil cuti di awal Ramadan. Soalnya kalau sudah mendekati Lebaran biasanya tiket susah dan mahal. Selain itu, saya juga kangen suasana puasa di rumah. Sudah 4 tahun terakhir saya puasa di Jakarta karena pekerjaan,” ujar Rina.

Bagi Rina, momen berbuka puasa bersama keluarga menjadi pengalaman yang sulit tergantikan selama merantau. “Yang paling saya kangen itu buka puasa bareng keluarga. Biasanya ibu sudah masak dari sore, sayur lodeh, tempe goreng, sama es buah. Kalau di Jakarta kan seringnya buka sendiri di kos,” tuturnya.

Rina berencana berada di kampung selama sekitar satu pekan sebelum kembali bekerja di Jakarta. Meski tidak merayakan Lebaran di kampung tahun ini, ia merasa bersyukur dapat menjalani sebagian Ramadan bersama keluarga. “Senang ya. Walaupun belum Lebaran, setidaknya bisa menjalani sebagian Ramadan di kampung. Rasanya lebih tenang,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan Irma (29), pekerja toko ritel yang hendak pulang ke Bandung. Ia mengaku terbiasa mudik saat Ramadan karena sulit mendapatkan cuti menjelang Lebaran.

“Kebetulan saya kerja di toko retail, jadi biasanya tidak dapat cuti saat mendekati Lebaran karena toko ramai pembeli. Makanya saya ambil cuti sekarang,” ujarnya.

Irma mengatakan momen ngabuburit bersama adik-adiknya menjadi hal yang paling dinanti. “Ngabuburit bareng adik-adik, beli takjil, lihat pasar Ramadan ramai. Itu sudah mengobati rindu. Kalau di Jakarta kadang buka puasa sendirian di kos, rasanya beda,” katanya.

Ia berharap mudik lebih awal ini dapat dimanfaatkan untuk mempererat hubungan keluarga sebelum kembali bekerja. “Saya ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin bersama keluarga. Walaupun nanti saat Lebaran mungkin sudah kembali kerja, setidaknya saya sudah sempat merasakan Ramadan di kampung,” imbuhnya.

Berita Terkait